Rupiah Melemah ke Rp17.225, Dampak Geopolitik Global
- 28 Apr 2026 19:40 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa 28 April 2026. Rupiah terdepresiasi 0,17 persen dan berada di level Rp17.225 per dolar AS, seiring tekanan global yang memengaruhi mayoritas mata uang Asia.
Melansir dari Bloomberg Technoz, penguatan dolar AS dipicu ketidakpastian terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini membuat dolar AS kembali menjadi aset safe haven yang diminati investor, tercermin dari indeks dolar yang naik ke level 98,69.
Selain itu, lonjakan harga minyak dunia turut memperburuk tekanan terhadap mata uang di kawasan. Harga minyak Brent tercatat naik 2,87 persen menjadi US$111,34 per barel, yang berdampak pada meningkatnya risiko inflasi dan defisit fiskal di berbagai negara berkembang.
Mayoritas mata uang Asia pun berada di zona merah, dengan hanya won Korea Selatan dan dolar Hong Kong yang mampu bertahan dengan penguatan terbatas di tengah sentimen negatif pasar.
Dalam situasi risk-off, investor global cenderung melepas aset berisiko seperti saham di pasar negara berkembang dan beralih ke instrumen yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah.
Tekanan juga terlihat di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah 0,64 persen ke level 7.060. Selain itu, terjadi arus keluar dana asing sebesar US$118,5 juta, yang menjadi yang terbesar dalam satu bulan terakhir.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah mengalami kenaikan. Yield obligasi tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 6,79 persen, menandai kenaikan selama lima hari berturut-turut.
Kenaikan juga terjadi pada tenor lainnya, di antaranya:
- Tenor 1 tahun naik 7,8 bps ke 5,96%
- Tenor 5 tahun naik 3,4 bps ke 6,7%
- Tenor 8 tahun naik 0,2 bps
Kondisi ini mencerminkan aksi jual di pasar obligasi akibat meningkatnya persepsi risiko global. Lonjakan harga minyak dinilai berpotensi memperlebar defisit fiskal, sehingga investor menuntut imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....