Opsi Bitcoin Kedaluwarsa, Volatilitas Terancam Naik
- 29 Mar 2026 23:47 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Kontrak opsi Bitcoin senilai US$14 miliar atau setara Rp237 triliun akan segera kedaluwarsa pada Jumat, di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi lonjakan volatilitas harga aset kripto tersebut.
Melansir dari Bloomberg Technoz, kedaluwarsa kontrak kuartalan ini turut menghapus hampir 40 persen posisi terbuka (open interest) di bursa derivatif Deribit. Momentum tersebut terjadi bersamaan dengan ketidakpastian konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung hampir satu bulan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Bitcoin bergerak di kisaran US$60.000 hingga US$75.000, jauh di bawah puncaknya pada Oktober 2025 yang mencapai sekitar US$126.000. Pada Kamis, harga Bitcoin sempat turun 4 persen ke level US$68.122 dan diperdagangkan di kisaran US$68.800 pada Jumat pagi waktu Asia.
Pelaku pasar menilai stabilitas harga ini dipengaruhi oleh aktivitas derivatif. Investor institusional cenderung menjual opsi call untuk menghasilkan pendapatan di tengah pasar yang lesu. Strategi ini mendorong market maker melakukan lindung nilai (hedging), sehingga pergerakan harga cenderung tertahan di sekitar level “max pain” di kisaran US$75.000.
Namun, setelah kontrak opsi tersebut kedaluwarsa, aktivitas hedging diperkirakan akan berkurang. Kondisi ini berpotensi membuat Bitcoin lebih sensitif terhadap faktor eksternal, terutama dinamika geopolitik dan kebijakan global.
Jika ketegangan di Timur Tengah mereda, harga Bitcoin berpeluang menembus US$75.000 dan melanjutkan tren kenaikan. Sebaliknya, jika negosiasi gagal, harga berpotensi turun kembali ke kisaran US$68.500.
Selain itu, arus dana ke ETF Bitcoin juga dinilai belum cukup kuat menopang harga. Meskipun Maret mencatat aliran masuk bersih sekitar US$1,5 miliar, pergerakan dana masih sangat dipengaruhi kondisi makroekonomi, termasuk ekspektasi suku bunga.
Dengan berakhirnya kontrak opsi, pasar Bitcoin diperkirakan akan kehilangan “penahan” volatilitas yang selama ini terbentuk secara struktural. Akibatnya, pergerakan harga ke depan berpotensi menjadi lebih tajam, terutama jika sentimen global berubah secara signifikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....