Dolar AS Melemah, Rupiah Berpeluang Menguat Hari Ini

  • 21 Nov 2025 10:35 WIB
  •  Nabire

KBRN, Nabire: Nilai tukar rupiah berpotensi menguat pada perdagangan Jumat (21/11/2025), setelah sehari sebelumnya sempat melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari Bloomberg Technoz, pada penutupan perdagangan Kamis (20/11/2025), rupiah berada di level Rp16.732 per dolar AS atau terdepresiasi 0,17% dibanding penutupan sebelumnya. Namun secara teknikal, rupiah diperkirakan memiliki peluang untuk bangkit.

Dalam analisis harian (time frame daily), target penguatan terdekat berada di Rp16.710 per dolar AS. Jika level tersebut berhasil ditembus, rupiah berpotensi menuju Rp16.680 sebagai target optimistis. Bahkan untuk tren jangka menengah, rupiah dinilai dapat kembali ke kisaran Rp16.600 dan menguji level Rp16.500 per dolar AS.

Sebaliknya, jika terjadi pelemahan, rupiah diperkirakan menguji support di Rp16.770 per dolar AS. Penembusan level ini membuka peluang pelemahan lanjutan menuju Rp16.800 per dolar AS.

Sentimen positif bagi rupiah datang dari melemahnya dolar AS. Indeks dolar (DXY) turun 0,07% ke level 100,158 pada perdagangan Kamis, melanjutkan pelemahan ringan ke posisi 100,136 pada Jumat pagi.

Pelemahan dolar terjadi setelah Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve, Stephen Miran, menegaskan kembali bahwa kebijakan moneter AS saat ini berada pada level yang sangat ketat. Ia menyampaikan perlunya kembali ke tingkat suku bunga yang lebih netral.

“Saya rasa sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk menggerakkan kebijakan lebih dekat ke tingkat netral,” kata Miran dalam sebuah forum di New York, Kamis (20/11/2025).

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal III-2025 yang diumumkan Bank Indonesia (BI). Meski NPI secara keseluruhan mencatat defisit US$6,4 miliar, kondisinya sedikit membaik dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai US$6,7 miliar.

Kabar baiknya, transaksi berjalan justru mencatat surplus US$4 miliar atau 1,1% dari PDB, menjadi surplus pertama dalam lebih dari dua tahun.

BI menjelaskan bahwa surplus tersebut ditopang oleh meningkatnya neraca perdagangan nonmigas, penurunan defisit neraca jasa seiring naiknya wisatawan mancanegara, serta menurunnya pembayaran imbal hasil investasi asing.

Di sisi lain, investasi langsung tetap membukukan surplus yang menunjukkan semakin kuatnya keyakinan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....