Produksi Tembaga Freeport Turun Saat Tambang Masuki Fase Transisi
- 04 Agt 2026 20:17 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire – PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat penurunan produksi dan penjualan tembaga maupun emas pada semester pertama tahun 2026. Penurunan tersebut terjadi seiring proses peningkatan kapasitas produksi secara bertahap (phased ramp-up) di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC).
Melansir Bloomberg Technoz, perusahaan induk PT Freeport Indonesia, Freeport-McMoRan Inc. (FCX), melaporkan produksi tembaga PTFI selama Januari hingga Juni 2026 mencapai 300 juta pon, turun sekitar 54,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 655 juta pon. Sementara itu, penjualan tembaga tercatat 235 juta pon atau turun sekitar 67,9 persen dibandingkan semester pertama 2025.
Meski volume produksi dan penjualan menurun, harga jual rata-rata tembaga mengalami kenaikan. FCX mencatat harga rata-rata penjualan tembaga pada semester pertama 2026 mencapai 6,04 dolar Amerika Serikat per pon, meningkat sekitar 38,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas emas. Produksi emas PT Freeport Indonesia sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencapai 276 ribu ons, turun sekitar 53,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penjualan emas juga tercatat sebesar 234 ribu ons atau turun sekitar 63,6 persen dibandingkan semester pertama 2025.
Dalam laporan keuangannya, FCX menjelaskan penurunan produksi dan penjualan tersebut disebabkan masih rendahnya tingkat operasi selama proses peningkatan produksi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave. Selama masa transisi tersebut, sebagian biaya produksi dan pengiriman dicatat sebagai biaya fasilitas menganggur (idle facility cost) yang tidak dapat dikapitalisasi sebagai persediaan.
FCX mengungkapkan biaya fasilitas menganggur dan restorasi mencapai 690 juta dolar Amerika Serikat sepanjang semester pertama 2026. Kendati demikian, biaya tersebut tidak dimasukkan dalam perhitungan biaya kas bersih per unit (unit net cash credits) perusahaan.
Untuk jangka panjang, FCX tetap optimistis terhadap peningkatan kinerja operasional PT Freeport Indonesia. Sepanjang tahun 2026, perusahaan memproyeksikan penjualan tembaga mencapai sekitar 700 juta pon dan penjualan emas sekitar 650 ribu ons. Volume produksi diperkirakan lebih tinggi dibandingkan volume penjualan karena sebagian hasil produksi masih tersimpan di fasilitas smelter dan baru akan diakui pada periode berikutnya.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, sebelumnya juga menyampaikan target produksi tahun 2026 mencapai sekitar 800 juta pon tembaga dan 700 ribu ons emas. Setelah fase transisi selesai, perusahaan menargetkan kapasitas penambangan bijih terus meningkat hingga mencapai tingkat produksi normal dalam beberapa tahun mendatang, sebagai bagian dari optimalisasi operasi tambang bawah tanah Grasberg di Papua Tengah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....