Kemenperin: Pemberantasan Thrifting Dongkrak Kinerja Garmen

  • 27 Nov 2025 21:27 WIB
  •  Nabire

KBRN, Nabire: Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, menyatakan upaya pemerintah memberantas masuknya pakaian bekas impor atau thrifting mulai memberikan dampak positif terhadap kinerja industri pakaian jadi dalam negeri.

Hal tersebut tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) November 2025 sektor pakaian jadi yang tercatat ekspansif, baik di pasar domestik maupun ekspor.

“Dampaknya [pemberantasan] thrifting itu terlihat di industri pakaian jadi. Kita lihat IKI pada bulan November 2025 ini ekspansif. Itu artinya industri pakaian jadi itu kinerjanya bagus,” kata Febri dalam konferensi pers IKI November 2025, yang dikutip dari Bloomberg Technoz, Kamis (27/11/2025).

Menurutnya, kebijakan pelarangan dan penindakan pakaian bekas impor turut memperkuat kepercayaan pelaku industri.

“Kami melihat itu ada dampak dari upaya kebijakan pelarangan barang atau pakaian bekas impor. Dan itu juga kenapa kami mendukung Menteri Keuangan untuk menindak masuknya pakaian bekas impor ke pasar domestik,” tambahnya.

Berdasarkan catatan Kemenperin, kondisi industri garmen terus membaik. Perusahaan garmen yang berorientasi ekspor saat ini mulai meningkatkan produksi untuk menyambut musim fesyen tahun depan. Sementara itu, industri yang menyasar pasar domestik tengah bersiap berproduksi menghadapi lonjakan permintaan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.

Sejumlah pelaku industri juga melaporkan adanya peningkatan pesanan dan kini berada dalam tahap persiapan produksi. Untuk kinerja ekspor, pertumbuhan ekspor garmen hingga September 2025 tercatat naik 4,25 persen, baik dari sisi volume maupun nilai.

Secara umum, nilai IKI November 2025 mencapai 53,45, masih berada di zona ekspansif meski melambat 0,05 poin dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 53,50. Namun secara tahunan, nilai ini meningkat 0,50 poin dibandingkan November 2024 yang tercatat 52,95.

Dari 23 subsektor industri pengolahan, sebanyak 22 subsektor mengalami ekspansi dan hanya satu subsektor yang mengalami kontraksi. Subsektor yang ekspansif tersebut memberikan kontribusi sebesar 98,8 persen terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas Triwulan III 2025.

Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Pengolahan Tembakau (KBLI 12) serta Industri Farmasi, Produk Obat Kimia, dan Obat Tradisional (KBLI 21). Sementara subsektor yang masih mengalami kontraksi adalah Industri Tekstil (KBLI 13).

Pada November 2025, IKI variabel pesanan baru meningkat 0,68 poin menjadi 55,93. Sebaliknya, IKI variabel persediaan produk melambat 0,33 poin menjadi 56,19, dan variabel produksi masih dalam fase kontraksi dengan angka 47,49, turun 1,08 poin dari bulan sebelumnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....