Generasi Muda Papua Diajak Melestarikan Bahasa Lokal agar Tidak Punah

  • 17 Mei 2026 21:38 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Generasi muda Papua Tengah diajak menjadikan bahasa ibu atau bahasa lokal sebagai identitas kebanggaan, dan berani bertutur sehari-hari, berkreasi lewat teknologi digital, serta ikut ambil bagian dalam program relevansi agar bahasa lokal terhindar dari kepunahan.

Ditengah arus digitalisasi dan globalisasi saat ini , kekayaan budaya, keragaman bahasa, serta nilai-nilai kearifan lokal yang ada di dalam sastra harus menjadi modal dalam memperkuat jati diri dan karakter bangsa. Sehingga dapat dipaastikan bahwa bahasa daerah tetap ada dan berkembang untuk generasi mendatang.

Rektor Universitas Satya Wiyata Mandala (USWIM) Nabire, Dr. Petrus Tekege, MH. Kepada RRI Sabtu 16 Mei 2026 Menanggapi terkait bahasa daerah Papua yang semakin punah, dikeranakan sejumlah faktor yakni, kurangnya pewarisan budaya, banyak orang tua tidak lagi mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anak di rumah.

“Disamping itu, masuknya masyarakat dari luar daerah serta pengaruh moderenisasi juga menjadi penyebab bahasa daerah dianggap kurang relevan atau kurang bergengsi oleh generasi muda di bandingkan bahasa yang lebih populer,” jelasnya.

Ia menilai generasi muda saat ini banyak menggunakan media sosial hanya untuk hiburan semata tanpa nilai edukasi. Digitalisasi tidak seharusnya menjadi ancaman bagi keberlangsungan bahasa daerah, melainkan dimanfaatkan sebagai media edukasi dan sosialisasi budaya Papua.

“Kemajuan teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat identitas budaya Papua, bukan justru menghilangkan bahasa dan tradisi local,” tegas Tekege.

Untuk itu Ia mengajak generasi muda Papua Tengah dapat memanfaatkan media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook dan Youtube sebagai sarana pelestarian bahasa daerah di tengah arus digitalisasi dan globalisasi.

”Untuk melestarikan bahasa daerah, kami juga mengajak masyarakat di Papua Tengah, agar kembali melestarikan ratusan bahasa daerah yang terancam punah. Upaya ini mencakup pengunaan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari dan keluarga, dukungan tokoj agama, adat disamping itu dapat di integrasikan ke dalam kurikulum muatan lokal di sekolah wilayah masing-masing,” tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....