Hujan Meteor Oktober 2026 Akan Menghiasi Langit Malam Indonesia
- 30 Sep 2026 19:46 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Langit malam pada Oktober 2026 akan menghadirkan sejumlah fenomena astronomi menarik. Dua hujan meteor, Draconid dan Orionid, menjadi salah satu tontonan yang dapat dinantikan para pengamat langit. Keduanya berasal dari material yang ditinggalkan komet saat mengorbit Matahari.
Meski sering disebut “bintang jatuh”, meteor sebenarnya merupakan serpihan debu atau material kecil dari benda langit yang masuk ke atmosfer Bumi dan berpijar akibat interaksi dengan atmosfer.
Draconid Hadir Lebih Awal
Hujan meteor Draconid diperkirakan aktif sekitar 6–10 Oktober 2026, dengan puncak pada 9 Oktober. Hujan meteor ini berasal dari debu yang ditinggalkan Komet 21P/Giacobini-Zinner.
Dalam kondisi langit yang gelap, Draconid dapat menghasilkan sekitar lima hingga 10 meteor per jam, meskipun jumlah sebenarnya dapat berubah dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Keunggulan Draconid tahun ini adalah kondisi cahaya Bulan yang relatif minim karena berdekatan dengan Bulan Baru pada 10 Oktober. Kondisi langit yang lebih gelap dapat membantu pengamat melihat meteor yang redup. Draconid juga menarik karena waktu terbaik pengamatannya justru cenderung pada awal malam, tidak seperti sejumlah hujan meteor lain yang lebih optimal menjelang dini hari.
Orionid Menyusul pada 21–22 Oktober
Setelah Draconid, giliran hujan meteor Orionid menghiasi langit. NASA mencatat Orionid aktif mulai 2 Oktober hingga 7 November 2026, dengan puncak pada malam 21–22 Oktober. Dalam kondisi ideal, hujan meteor ini dapat menghasilkan sekitar 10–20 meteor per jam.
Orionid berasal dari serpihan Komet 1P/Halley. Ketika Bumi melewati jalur debu yang ditinggalkan komet tersebut, partikel-partikel kecil memasuki atmosfer dan terbakar sehingga menghasilkan garis cahaya yang tampak melintas di langit.
Meteor Orionid dikenal memiliki kecepatan tinggi, sekitar 66 kilometer per detik, dan sebagian dapat meninggalkan jejak cahaya yang bertahan beberapa saat.
Bagaimana Peluang Melihatnya dari Indonesia?
Kedua hujan meteor tersebut dapat diamati dari wilayah Indonesia, tetapi kondisi pengamatan sangat bergantung pada cuaca, tingkat polusi cahaya, posisi Bulan, dan lokasi pengamatan.
Untuk mendapatkan peluang terbaik, pengamat sebaiknya mencari tempat yang jauh dari lampu kota, memilih area dengan pandangan langit yang luas, dan memberikan waktu bagi mata untuk beradaptasi dengan kegelapan.
Khusus Orionid, waktu pengamatan terbaik umumnya berlangsung setelah tengah malam hingga menjelang fajar. NASA menyarankan pengamat tidak perlu terpaku melihat langsung ke arah rasi Orion karena meteor dapat muncul di berbagai bagian langit.
Tidak Perlu Teleskop
Menariknya, menyaksikan hujan meteor tidak membutuhkan teleskop. Mata telanjang justru dapat menjadi pilihan praktis karena meteor bisa melintas di area langit yang luas.
Pengamat cukup berbaring atau duduk nyaman, mengarahkan pandangan ke langit yang gelap, dan bersabar. Semakin minim cahaya buatan di sekitar lokasi, semakin besar peluang melihat meteor yang redup.
Selain dua hujan meteor tersebut, Oktober 2026 juga menghadirkan sejumlah fenomena lain, termasuk oposisi Saturnus pada 4 Oktober dan Bulan Purnama pada 26 Oktober.
Catat Tanggalnya
- Draconid: puncak sekitar 9 Oktober 2026
- Bulan Baru: 10 Oktober 2026, membantu kondisi langit gelap
- Orionid: puncak malam 21–22 Oktober 2026
- Bulan Purnama: 26 Oktober 2026
Oktober 2026 menjadi bulan yang menarik bagi pencinta astronomi. Jadi, jika malam cerah dan berada jauh dari cahaya perkotaan, sempatkan menengadah ke langit—mungkin saja satu atau beberapa “bintang jatuh” melintas di hadapan mata.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....