Studi: ChatGPT Bisa Melemahkan Daya Ingat Mahasiswa
- 31 Mar 2026 17:26 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT dalam proses belajar dapat berdampak pada melemahnya daya ingat mahasiswa dalam jangka panjang. AI disebut berperan sebagai “penopang kognitif” yang membuat otak bekerja lebih sedikit saat memproses informasi.
Melansir dari PsyPost, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Social Sciences & Humanities Open menemukan bahwa mahasiswa yang mengandalkan chatbot AI untuk belajar cenderung mengingat lebih sedikit informasi dibandingkan mereka yang menggunakan metode belajar tradisional.
Penelitian tersebut dilakukan oleh André Barcaui, profesor manajemen bisnis di Universitas Federal Rio de Janeiro. Ia meneliti bagaimana penggunaan kecerdasan buatan generatif memengaruhi kemampuan memori mahasiswa saat mempelajari konsep baru.
Sebanyak 120 mahasiswa administrasi bisnis berusia 18 hingga 24 tahun dilibatkan dalam eksperimen ini. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok yang menggunakan ChatGPT sebagai alat bantu belajar dan kelompok yang belajar menggunakan metode tradisional seperti catatan kuliah dan sumber akademik.
Kedua kelompok diberi tugas untuk meneliti topik dasar kecerdasan buatan, termasuk etika, dampak sosial, dan konsep teknis. Mereka diberi waktu dua minggu untuk mempersiapkan presentasi selama sepuluh menit terkait materi tersebut.
Setelah presentasi selesai, para mahasiswa kembali menjalani aktivitas akademik seperti biasa. Namun, sekitar 45 hari kemudian, para peneliti memberikan tes mendadak untuk mengukur seberapa baik mereka mengingat dan memahami materi yang sebelumnya dipelajari.
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Mahasiswa yang belajar dengan metode tradisional mampu menjawab benar rata-rata 68,5 persen pertanyaan, sementara mahasiswa yang menggunakan chatbot hanya mencapai sekitar 57,5 persen jawaban benar.
Peneliti juga menemukan bahwa mahasiswa yang menggunakan AI menyelesaikan tugas lebih cepat, yakni rata-rata 3,2 jam, dibandingkan kelompok tradisional yang menghabiskan sekitar 5,8 jam. Namun, waktu belajar yang lebih singkat tersebut justru berdampak pada kualitas pemahaman yang lebih rendah.
Menurut Barcaui, fenomena ini dapat menimbulkan “ilusi kompetensi,” yakni kondisi ketika seseorang merasa telah memahami materi dengan baik karena memperoleh jawaban cepat dari teknologi, padahal pemahaman sebenarnya tidak terbentuk secara mendalam. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....