Mengapa Terjadi Perbedaan Penetapan Awal Ramadan di Indonesia?
- 18 Feb 2026 18:51 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID, Nabire - Perbedaan penetapan awal Ramadan di Indonesia kerap terjadi hampir setiap tahun. Sebagian umat Islam memulai puasa lebih dulu, sementara sebagian lainnya sehari setelahnya. Menurut Kementerian Agama Republik Indonesia, penetapan awal Ramadan dilakukan melalui Sidang Isbat yang melibatkan para ahli astronomi, perwakilan organisasi masyarakat Islam, serta instansi terkait untuk memastikan keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan ilmiah dan syar’i. Menurut Kementerian Agama Republik Indonesia, terdapat dua metode utama dalam menentukan awal bulan hijriah, yakni rukyat (pengamatan hilal secara langsung) dan hisab (perhitungan astronomi). Pemerintah menggunakan metode gabungan, di mana hasil hisab menjadi dasar perhitungan awal, kemudian dikonfirmasi melalui laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pemantauan di Indonesia.
Selain itu, menurut penjelasan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, perbedaan juga dipengaruhi oleh kriteria visibilitas hilal. Indonesia menggunakan kriteria imkan rukyat yang mempertimbangkan tinggi hilal dan elongasi tertentu sebagai syarat kemungkinan terlihatnya hilal. Sementara itu, sebagian organisasi Islam menggunakan pendekatan hisab dengan prinsip wujudul hilal, yakni cukup apabila bulan sudah berada di atas ufuk setelah matahari terbenam.
Meski terkadang terjadi perbedaan, Kementerian Agama Republik Indonesia menegaskan bahwa perbedaan tersebut merupakan bagian dari dinamika ijtihad dalam Islam. Pemerintah juga terus mendorong dialog dan upaya penyatuan kalender hijriah agar umat Islam di Indonesia dapat semakin kompak dalam memulai ibadah Ramadan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....