Setsubun, Perayaan Jepang Sebelum Musim Semi Datang

  • 01 Feb 2026 10:32 WIB
  •  Nabire

RRI.CO.ID, Nabire - Tanggal 3 Februari, masyarakat Jepang merayakan Festival Setsubun. Setsubun adalah tradisi Jepang yang diperingati tepat sehari sebelum musim semi menurut kalender Jepang kuno (Risshun). Kata “Setsubun” sendiri berarti “peralihan musim”, yang menandai berakhirnya musim dingin dan dimulainya musim semi. Tradisi ini pertama kali tercatat pada periode Heian (794–1185 M) dan awalnya terkait dengan praktik Onmyōdō, yaitu ilmu ramalan dan kepercayaan kuno Jepang yang memandang musim sebagai energi yang memengaruhi kesehatan dan keberuntungan manusia.

Seiring waktu, festival ini menjadi bagian dari budaya populer Jepang, dan praktik-praktik ritualnya berkembang menjadi simbol pengusiran roh jahat dan mendatangkan keberuntungan di tahun yang baru.

Makna utama dari Setsubun adalah mengusir roh jahat (Oni) dan menyambut keberuntungan. Tradisi ini mencerminkan kepercayaan bahwa energi buruk dan penyakit sering datang bersama musim dingin, dan dengan ritual tertentu, manusia bisa melindungi diri serta keluarga dari kesialan.

Tujuan perayaan ini meliputi:

  1. Mengusir roh jahat (Oni) dan energi negatif agar rumah dan keluarga tetap aman.
  2. Mendatangkan keberuntungan dan kesehatan untuk keluarga sepanjang tahun.
  3. Memperkuat ikatan keluarga dan komunitas, karena perayaan biasanya dilakukan bersama anggota keluarga atau di kuil/temple setempat.
  4. Melestarikan tradisi budaya Jepang, sebagai pengingat pentingnya menghormati siklus alam dan perubahan musim.

Ritual paling terkenal adalah mamemaki, yaitu melempar kacang kedelai panggang di rumah atau kuil sambil mengucapkan “Oni wa soto! Fuku wa uchi!” yang berarti “Roh jahat keluar! Keberuntungan masuk!”. Kacang dianggap memiliki kekuatan magis untuk mengusir roh jahat. Selain itu, keluarga biasanya makan Ehomaki, yaitu gulungan sushi panjang, sambil menghadap arah keberuntungan tahun itu (ditentukan menurut astrologi Jepang).

Di kuil dan kuil Buddha, ada juga tradisi pengundian keberuntungan, di mana penduduk menerima biji keberuntungan yang dipercaya membawa hoki. Di beberapa tempat, tokoh-tokoh lokal berpakaian seperti Oni untuk membuat suasana lebih meriah, dan anak-anak ikut melempar kacang untuk simbolisasi pengusiran energi jahat.

Festival Setsubun bukan sekadar tradisi lama, tetapi juga refleksi budaya Jepang yang kaya akan simbolisme alam, spiritualitas, dan kekeluargaan. Perayaan ini mengajarkan pentingnya mengusir hal negatif dari kehidupan, menyambut hal positif, dan menjaga hubungan dengan alam serta komunitas. Meski zaman modern membawa perubahan, Setsubun tetap menjadi momen populer yang dirayakan di rumah, sekolah, dan kuil di seluruh Jepang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....