Berjemur : Budaya atau ?
- 31 Jan 2026 13:41 WIB
- Nabire
RRI.CO.ID Nabire - Berjemur di bawah sinar matahari adalah kebiasaan yang sangat berbeda antara masyarakat Barat, terutama orang Eropa atau Amerika, dengan masyarakat tropis seperti Indonesia. Orang Eropa cenderung menikmati paparan sinar matahari, bahkan berjemur untuk mendapatkan kulit kecokelatan, sementara orang Indonesia justru menghindari sinar matahari terutama di siang hari. Perbedaan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Dari sisi geografis, Eropa dan Amerika Utara berada di iklim sedang atau dingin, sehingga sinar matahari terbatas sepanjang tahun. Ketika musim panas tiba, orang Eropa memanfaatkan kesempatan ini untuk menghangatkan tubuh dan meningkatkan produksi vitamin D.
Sementara itu, Indonesia berada di daerah tropis dengan sinar matahari yang intens hampir sepanjang tahun, sehingga paparan berlebihan dapat menimbulkan kulit terbakar, dehidrasi, dan penuaan dini, sehingga masyarakat cenderung mencari tempat teduh.
Selain faktor iklim, faktor biologis juga berperan. Kulit orang Eropa yang lebih putih lebih sensitif terhadap sinar UV, sehingga sedikit paparan matahari sudah cukup untuk memproduksi vitamin D. Orang Indonesia yang memiliki kulit lebih gelap secara alami lebih tahan terhadap sinar matahari, dan tubuh mereka dapat memproduksi vitamin D dengan paparan yang lebih singkat.
Dari sisi budaya dan estetika, kulit kecokelatan bagi orang Eropa sering dikaitkan dengan kesehatan, liburan, dan status sosial, sementara di Indonesia kulit yang cerah dianggap lebih menarik dan kulit gelap atau terbakar matahari sering dikaitkan dengan pekerjaan fisik di luar ruangan.
Faktor psikologis juga memengaruhi, karena berjemur dapat meningkatkan mood dan mengurangi risiko depresi musiman di negara-negara dengan sinar matahari terbatas, sedangkan di Indonesia sinar matahari yang terik sering membuat orang merasa tidak nyaman dan cepat lelah.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa sikap terhadap matahari bukan sekadar soal kesukaan, tetapi merupakan kombinasi dari faktor iklim, biologis, budaya, dan psikologis. Orang Eropa mengejar sinar matahari karena jarang dan bernilai untuk kesehatan serta estetika, sedangkan orang Indonesia menghindarinya karena intensitasnya tinggi dan budaya menekankan kulit cerah.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa waktu dan cahaya matahari, selain memiliki fungsi ilmiah, juga memiliki makna sosial dan budaya yang berbeda di seluruh dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....