Pemerintah Buka Peluang Transmigran Indonesia Bekerja di Jepang
- 29 Sep 2025 22:27 WIB
- Meulaboh
KBRN, Jakarta: Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara membuka peluang bagi transmigran Indonesia untuk bekerja di Jepang. Indonesia memiliki peluang memanfaatkan momentum bonus demografi melalui kerja sama dengan Jepang yang saat ini menghadapi krisis demografi.
Hal ini diungkapkannya usai menerima perwakilan tenaga kerja Indonesia di Jepang dari sejumlah kawasan transmigrasi, di Osaka, (29/9/2025). Menteri Iftitah menyebut, Jepang saat ini tengah menghadapi kekurangan tenaga kerja, sehingga dapat dimanfaatkan oleh transmigran Indonesia.
“Saya bertemu beberapa pekerja migran dari tanah air, mereka adalah generasi ketiga putra-putri transmigran dari Lampung dan Jambi. Mereka selama ini juga menjawab tanda tanya besar dalam konteks kekurangan lapangan kerja yang ada di tanah air,” kata Menteri Iftitah dalam keterangan tertulisnya, pada Senin (29/9/2025).
Menteri Iftitah menyatakan, generasi muda transmigran terampil, bertalenta dan produktif dalam mengisi kekurangan tenaga kerja di Jepang. Maka dari itu, Kementerian Transmigrasi dapat melihat peluang tersebut untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin.
“Kami mendapat banyak masukan bahwa di kawasan transmigrasi itu agak sulit untuk mendapatkan lapangan kerja bagi para sarjana. Kami sekarang sedang mengajak dunia usaha untuk menciptakan lapangan kerja di kawasan transmigrasi melalui investasi industri dan hilirisasi,” ucapnya.
Kementerian Transmigrasi siap menfasilitasi para tenaga kerja yang ada di kawasan transmigrasi tadi utamanya putra-putri transmigran sarjana. Hal ini untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan keterampilan di Jepang.
“Inilah yang ingin kita kembangkan ke depan dalam berbagai macam sektor, ada 24 bidang, baik perikanan, kelautan, pertanian. Juga ada perkebunan, juga ada konstruksi, perawatan, kesehatan, dan lain-lain,” ucapnya.
Sementara itu, seorang pencari kerja asal Depok, Raihan Fadillah mengapresiasi usulan transmigran untuk bekerja di Jepang. Ia mengaku telah mencari kerja selama tiga tahun terkahir usai lulus sarjana, namun belum mendapatkan pekerjaan.
"Program yang bagus, untuk membuka peluang berkerja di luar negeri, bagi masyarakat Indonesia, khususnya transmigran. Semoga dapat mengurangi permasalahan pengangguran di Indonesia yang semakin meningkat," kata Raihan.
Setiap tahun Jepang membutuhkan sekitar 400 ribu tenaga kerja, sementara Indonesia baru mampu mengirimkan sekitar 25 ribu orang. Kondisi inilah menjadi peluang besar yang dapat dimanfaatkan terutama oleh putra-putri transmigran muda yang memiliki keterampilan.