Mengetuk Pintu Langit di Tengah Asap Karhutla

  • 29 Jan 2026 10:22 WIB
  •  Meulaboh

RRI.CO.ID, Meulaboh - Hujan gerimis itu akhirnya turun, Kamis dini hari 29 Januari 2026. Pelan, lalu rapat, membasahi bumi Meulaboh yang beberapa hari terakhir hanya mengenal panas, asap, dan dada yang perih.

Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya sirna, namun aroma hujan membawa rasa lega seolah langit menjawab doa yang dipanjatkan dari bumi Aceh Barat.

Beberapa jam sebelumnya, asap masih menggantung rendah. Lampu kendaraan menembusnya seperti cahaya di lorong gelap. Di balik itu semua, ada ikhtiar yang telah dilakukan, ikhtiar manusia, dari bumi ke langit.

Suasana hujan ringan di wilayah Kota Meulaboh, Aceh Barat yang masih berasap dampak Karhutla, Kamis (29/1/2026) dini hari. Foto RRI/ Anwar Yunus

Doa yang dihamparkan, Rabu pagi, 28 Januari 2026 di halaman Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh dipenuhi ratusan jamaah. Warga, ulama, dan unsur pemerintah berdiri sejajar.

Tak ada sekat jabatan, tak ada perbedaan kepentingan, semuanya larut dalam satu niat, memohon hujan. Salat sunnah istisqa digelar di tengah kondisi karhutla yang kian meluas.

Asap telah mengganggu aktivitas warga, bahkan memaksa kegiatan belajar mengajar di salah satu sekolah dihentikan sementara. Situasi ini bukan sekadar persoalan lingkungan, tapi sudah menjadi ancaman kesehatan dan kehidupan sosial.

Baca juga: Karhutla Meluas, Pemkab Aceh Barat Gelar Salat Istisqa

Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, SH, turut berdiri di saf paling depan jamaah. Ia menyebut shalat istisqa bukan sekadar ritual, tetapi ikhtiar batin yang memperkuat solidaritas dan kepedulian terhadap alam.

“Kita tidak hanya memohon hujan, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan meningkatkan iman serta takwa. Ini adalah ujian yang harus dihadapi bersama,” ujarnya.

Jemaah salat istisqa di halaman Masjid Agung Baitul Makmur Meulaboh, Rabu (28/1/2026) pagi.

Di bawah langit yang masih enggan menurunkan air, doa-doa dilangitkan dengan harap dan sabar. Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Barat, Tgk H Mahdi Kari Usman, S.Pd, mengingatkan jamaah agar tidak tergesa menilai hasil doa.

"Salat istisqa, bukan jaminan hujan turun seketika. Ia adalah panggilan untuk taubat, introspeksi, dan kesabaran," ujarnya.

Ia mengingatkan, dosa dan kelalaian manusia terhadap alam bisa menjadi penghalang turunnya rahmat. Namun setiap doa, sekecil apa pun, tetap dicatat sebagai pahala.

Puting Beliung Membawa Asap ke Langit

Sore harinya, sebuah pemandangan tak biasa terekam di kawasan karhutla Desa Suak Raya, Kecamatan Johan Pahlawan. Kumpulan asap mengumpal, berputar, menjulang tinggi menyerupai angin puting beliung.

Penampakan angin puting beliung di kawasan Karhutla Aceh Barat, Rabu (28/1/2026) sore. Dok RRI

Fenomena itu hanya berlangsung singkat. Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, T. Ronald Nehdiansyah, memastikan tidak ada dampak serius.

"Itu terjadi di kawasan karhutla Suak Raya. Selama ini angin kencang dan udara penas memicu pesebaran titik api meluas dan asap,"ujarnya.

Dalam rekaman berdurasi sekitar 40 detik, asap seakan terangkat ke langit, meninggalkan kesan dramatis seolah bumi sedang "mengirimkan" keluhannya ke atas.

Namun di balik kesan mistis, sains memberi penjelasan. BMKG memastikan fenomena tersebut bukan puting beliung akibat awan hujan besar.

Prakirawan BMKG Nagan Raya, Angga Yudha, S.Tr, Met, menjelaskan tidak terdeteksi awan Cumulonimbus (CB) dalam beberapa hari terakhir. Yang terjadi, kata dia, adalah proses lokal akibat panas ekstrem di lahan terbakar.

Kondisi Karhutla Aceh Barat 25 Januari 2026. Foto dok RRI

"Suhu permukaan yang sangat tinggi membuat udara menjadi ringan dan naik cepat. Di sekitarnya ada udara lebih dingin dan bertekanan tinggi, sehingga tercipta perbedaan tekanan ekstrem yang memicu pusaran angin," jelasnya.

Meski demikian, ada harapan. Kuatnya aliran udara ke atas dan angin laut yang membawa uap air membuka peluang terbentuknya awan konvektif awan pembawa hujan.

Data satelit mendeteksi 166 titik api di Aceh, sebagian besar berada di lahan gambut Aceh Barat. Pemkab Aceh Barat mencatat luas karhutla mencapai 50,2 hektare sejak 15 Januari 2026.

Baca juga: Pemkab Aceh Barat Laporkan Karhutla Capai 50,2 Hektare

Tim gabungan BPBD, TNI, Polri, KPH IV, Manggala Agni terus berjibaku di lapangan. Mesin pompa air didatangkan, peralatan pemadaman disalurkan, api dipadamkan meski di beberapa titik kembali muncul. "Sebagian besar sudah terkendali, tapi masih ada kebakaran ulang," kata Ronald.

Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP, MM memantau kondisi Karhutla lewat camera drone di lokasi pemadaman, Rabu (28/1/2026). Foto Diskominsa

Di antara panas yang membakar lahan dan dingin yang menetes dari langit, Aceh Barat berdiri di persimpangan antara usaha manusia dan kehendak Tuhan.

Hujan dini hari itu mungkin belum memadamkan segalanya. Tapi ia cukup menjadi tanda, bahwa doa tak pernah sia-sia. Bahwa bumi dan langit selalu terhubung, dan bahwa mengetuk pintu langit dengan ikhtiar, taubat, dan kesabaran adalah jalan yang tak pernah salah.

Rekomendasi Berita