Kisah Jalimin, Wartawan Selamat dari Bencana Aceh Tengah

  • 12 Jan 2026 21:50 WIB
  •  Meulaboh

KBRN, Aceh Tengah: Malam itu, Kamis, 27 November 2025, di Desa Mandali, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah tidak sedang baik-baik saja. Hujan turun tanpa jeda, air dari celah-celah gunung muncul, sungai meluap, dan perlahan merangsek ke permukiman warga.

Jalimin (54), adalah seorang wartawan seperti ratusan warga lainnya, ia memilih tidak tidur. Ada kegelisahan yang sulit dijelaskan banjir malam itu terasa berbeda.

"Orang kampung sudah tidak tidur lagi. Kami khawatir, karena banjir kali ini tidak seperti biasanya," kenang Jalimin, saat diwawancarai RRI.co.id, Minggu (11/1/2026) di atas lumpur keras dan puing kayu rumahnya.

Jalimin (54)

Lanjutnya, sekitar pukul 04.00 WIB, air tak nampak surut dari halaman dan jalan, di saat itulah petaka datang. Lima belas menit kemudian, pukul 04.15 WIB, suara gemuruh dari belakang rumah memecah sunyi dini hari.

Air keruh bercampur batu-batu kecil turun deras dari perbukitan. Longsor tak terelakkan, rumah Jalimin tertimbun.

Dalam hitungan menit, bangunan yang selama ini menjadi tempat berteduh keluarganya hanya menyisakan atap yang masih terlihat dari kejauhan.

"Dari belakang rumah sudah turun air keruh dan batu-batu kecil. Tidak lama, langsung longsor," tuturnya lirih.

Trauma paling dalam dirasakan anaknya. Pemandangan tanah bergerak, suara runtuhan, dan gelap yang mencekam membekas kuat di ingatan.

Suasana Desa Mandali, Kecamatan Kebayakan, Minggu (11/1/2026). Foto RRI/ Anwar Yunus

Jalimin tak punya banyak waktu untuk berpikir. Ia hanya tahu satu hal, yaitu keluarganya harus selamat.

Sesaat setelah longsor, ia membawa istri dan anak-anaknya mengevakuasi diri. Jalur darat menuju Takengon terputus total.

Tak ada pilihan lain selain menyeberangi sungai dengan perahu bod. Dalam kondisi darurat, di tengah gelap dan arus air yang masih deras, mereka berhasil menyelamatkan diri.

Akses jalan baru kembali terbuka sepuluh hari kemudian, tepatnya pada 6 Desember 2025. Sebagai wartawan, Jalimin terbiasa meliput bencana, mendengar kisah duka orang lain, dan menuliskannya menjadi berita.

Namun malam itu, ia berada di sisi yang berbeda, menjadi korban.

Sebagian besar harta benda tak bisa diselamatkan, peralatan kerja, barang elektronik, pakaian semuanya rusak dan tidak lagi bisa digunakan.

Dari seluruh isi rumah, hanya satu kamera yang selamat karena tersimpan di dalam mobil. "Malam itu saya hanya sempat membawa satu tas. Isinya surat-surat penting: ijazah dan dokumen berharga lainnya," katanya.

Suasana Desa Mandali, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, Minggu (11/1/2026). Foto RRI/ Anwar Yunus

Kini Jalimin dan keluarganya hidup di pengungsian. Hari-hari dilalui dengan keterbatasan, sambil berusaha memulihkan trauma, terutama pada anak-anaknya.

Dukungan terus berdatangan. Perwakilan Dewan Pers datang melihat langsung kondisi rumahnya.

Rekan-rekan dari PWI juga hadir memberikan empati dan solidaritas.

Bagi Jalimin, kehilangan rumah bukan hanya soal bangunan, tetapi tentang kenangan, rasa aman, dan tempat pulang.

Namun di tengah duka itu, ia tetap bersyukur: keluarganya selamat. "Yang terpenting kami masih hidup," ucapnya pelan.

Di Aceh Tengah, bencana kembali meninggalkan luka. Dan di balik angka-angka kerusakan, ada kisah manusia seperti Jalimin, wartawan yang biasanya menyampaikan cerita orang lain, kini harus menjalani sendiri kisah paling pahit dalam hidupnya.

Rekomendasi Berita