Sunyi Kuburan Massal, Ingatan Tsunami Tak Pernah Padam
- 26 Des 2025 14:01 WIB
- Meulaboh
KBRN, Meulaboh: Setiap tanggal 26 Desember, langkah Judimun selalu mengarah ke satu tempat yang sunyi di Desa Suak Indrapuri, Aceh Barat. Di sanalah kuburan massal korban tsunami berada, hamparan tanah luas tanpa nisan, tanpa nama, namun sarat dengan cerita kehilangan.
Bagi Judimun, tempat itu bukan sekadar lokasi ziarah, melainkan ruang kenangan yang tak pernah benar-benar pergi. “Setiap datang ke sini perasaan masih mencekam,” ujarnya lirih.
Ingatan tentang masa lalu kembali mengisahkan tentang kakak, keponakan, dan sejumlah anggota keluarga yang meninggal atau tak pernah ditemukan sejak tsunami melanda Aceh Barat. Dua puluh satu tahun berlalu, namun duka itu seolah tak pernah benar-benar surut.
Ia juga menceritakan bagaimana perasaan hati saat memasuki gerbang kuburan massal. Langkah kakinya bergetar dan kesedihan menyelimuti setiap memandang kuburan yang terbentang luas tak berbatu nisan.
Setiap langkahnya mengingatkan kembali saat tsunami memporak-porandakan tempat tinggalnya merenggut nyawa saudaranya dan menghilangkan keluarga lainnya. Di tempat inilah, rumah-rumah luluh lantak, dan ratusan nyawa berhenti tanpa pamit.
Kesedihan serupa juga dirasakan Riswan, keluarga korban tsunami lainnya. Baginya, kunjungan ke kuburan massal adalah ritual tahunan untuk mengenang orang tua yaitu Ibu kandungnya yang meninggal akibat tsunami. Ia masih mengingat jelas detik-detik bencana itu, karena berada langsung di lokasi saat gelombang besar datang menerjang.
“Kenangannya masih sangat kuat. Rasanya seperti baru kemarin,” kata Riswan.
Setiap peringatan tsunami, luka lama itu kembali terbuka, namun sekaligus menjadi pengingat akan rapuhnya manusia di hadapan alam.
Di balik duka yang terus hidup, Riswan menyimpan harapan. Ia berharap pemerintah dapat melakukan renovasi dan penataan kawasan kuburan massal agar lebih layak dan nyaman dikunjungi.
Lebih dari itu, ia ingin tempat tersebut menjadi ruang edukasi kebencanaan bagi masyarakat dan generasi muda, agar tragedi serupa tak hanya dikenang, tetapi juga dipelajari.
Di tengah sunyi kuburan massal, doa-doa terus dipanjatkan. Bagi Judimun, Riswan, dan banyak keluarga lainnya, peringatan tsunami bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah upaya menjaga ingatan tetap hidup, agar ribuan nyawa yang hilang tak pernah benar-benar dilupakan, dan agar generasi setelahnya belajar tentang kehilangan, ketabahan, dan kewaspadaan.