Memori 21 Tahun Tsunami-Aceh, "Dalam Doa Kita Siaga"
- 25 Des 2025 23:04 WIB
- Meulaboh
KBRN, Meulaboh: Dua puluh satu tahun telah berlalu. Namun bagi Aceh, terutama pesisir Aceh Barat, waktu tak pernah benar-benar menghapus luka.
Kamis, 25 Desember 2025, di Gampong Pasir, Kecamatan Johan Pahlawan, aktivitas warga tampak berbeda. Ada aktivitas dari masyarakat pesisir setiap akan menjelang hari bersejarah.
Pemerintah gampong bersama masyarakat melakukan renovasi monumen tsunami sebuah penanda sejarah, sekaligus pengingat abadi akan bencana maha dahsyat yang mengguncang dunia pada 26 Desember 2004 silam.
Menjelang peringatan 21 tahun gempa dan tsunami Aceh, monumen-monumen itu dirawat kembali. Bukan sekadar memperindah, melainkan menjaga ingatan.

Warga mengecat monumen tsunami Gampong Pasir, Aceh Barat, Kamis (25/12/2025). Foto RRI/ Anwar Yunus
Keuchik Gampong Pasir, Romi Saputra Jaya, menuturkan bahwa monumen tsunami bukan hanya bangunan fisik. Ia adalah cerita. Ia adalah pelajaran.
"Monumen tsunami ini kita bangun dengan dana desa. Bangunan ini menjadi sejarah yang bercerita bagaimana bencana tsunami itu terjadi. Ini pengingat bagi generasi selanjutnya," ujarnya.
Di lokasi tersebut berdiri sebuah tugu setinggi tujuh tingkat. Tujuh tingkat yang menjadi simbol setinggi itulah gelombang tsunami menyapu rata kawasan pesisir Aceh Barat, di sekelilingnya, prasasti-prasasti berdiri sunyi.
Salah satunya memuat catatan peristiwa tsunami yang ditulis oleh sejarawan Aceh Barat, almarhum Isnu Kumbara. Prasasti lain mencantumkan lebih dari 600 nama korban, warga Gampong Pasie Lhok Aron, yang tak pernah kembali.

Prasasti nama korban tsunami Gampong Pasir, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Foto RRI/ Anwar Yunus
Tugu itu dibangun sejak tahun 2017. Setiap tahun direnovasi. Setiap tahun dirawat. Kini, lokasi tersebut menjadi wisata sejarah tempat orang datang bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk memahami, merenung, dan belajar.
Sementara itu, di tempat lain di Aceh Barat, ingatan kolektif juga dirawat dengan cara yang sama heningnya. Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melakukan pembersihan makam massal korban gempa dan tsunami.
Aktivitas ini dilakukan di Desa Suak Indra Puri, Kecamatan Johan Pahlawan, serta di Desa Beureugang, Kecamatan Kaway XVI dua lokasi peristirahatan terakhir ribuan korban tsunami.
Di bawah terik matahari pagi, petugas dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Aceh Barat membersihkan area makam. Rumput dirapikan. Tulisan dipugar kembali. "Pagi tadi dilakukan pembersihan di dalam makam massal, sekarang kami renovasi tulisan dan bersihkan bagian luar," ujar Hendra, salah seorang petugas DLH Aceh Barat.

Pekerja membersihkan pamplet nama makam massal korban gempa dan tsunami di. Desa Suak Indra Puri, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Kamis (25/12/2025). Foto RRI/ Anwar Yunus
Ziarah makam, zikir, dan doa bersama menjadi agenda rutin setiap tahun. Tahun ini, peringatan 21 tahun tsunami Aceh mengusung tema: "Dalam Doa Kita Mengenang, Dalam Doa Kita Siaga". Sebuah tema yang sederhana, namun sarat makna.
Namun di balik monumen dan makam massal, ada cerita-cerita manusia yang tak tertulis di batu. Salah satunya adalah Fajar Hendra Irawan.
Fajar adalah saksi hidup gempa dan tsunami Aceh Barat. Saat bencana itu terjadi, ia masih duduk di bangku kelas tiga SMA.
Rumahnya berada di Kampung Belakang, Kecamatan Johan Pahlawan. Ia selamat di hari pertama bencana bertajuk "Indonesia Menangis".
Namun keselamatan itu tak membuatnya berhenti. "Hari pertama saya dapat selamatkan diri. Tapi saya kembali mencari keluarga," kenangnya.
Di tengah puing-puing dan lumpur, Fajar menemukan uang seribuan, terikat dalam beberapa ikat. Jumlahnya mungkin mencapai seratus ribu rupiah.
Namun saat itu, uang tak lagi bermakna. Yang ada hanya rasa kehilangan dan ketidakpastian.
Hari demi hari berlalu, tubuhnya mulai melemah. Ia didiagnosis mengalami gangguan kesehatan serius akibat menenggak air tsunami. Fajar harus dirawat selama satu setengah tahun di Medan, bahkan sempat diperiksa oleh dokter dari Singapura.
Ia masih mengingat jelas suasana hari itu. "Airnya tidak ganas seperti air bah. Tapi kecil dan kencang. Banyak yang meninggal. Saya lihat teman saya digulung tsunami," kenangnya lagi.
Orang-orang berlari berdesakan. Jalanan penuh kendaraan yang ditinggalkan begitu saja mobil, sepeda motor, semua ditinggal pemiliknya demi menyelamatkan nyawa.
"Saat tsunami itu, kita nafsi-nafsi. Pikiran negatif itu hilang. Kalau ada orang ambil barang milik orang lain, itu karena panik, spontan, tanpa rencana," tuturnya lirih.
Fajar juga menyimpan luka lain. Ayahnya adalah seorang kombatan. Saat konflik masih berlangsung, ayahnya ditembak di bagian kaki dan sempat dirawat di Rumah Sakit Cut Nyak Dhien.
Semua peristiwa itu melebur, konflik, bencana, kehilangan, menjadi satu ingatan panjang yang tak mudah dilupakan. Kini, 21 tahun telah berlalu.
Aceh telah bangkit. Rumah-rumah berdiri kembali. Jalan-jalan ramai. Anak-anak tumbuh tanpa pernah menyaksikan langsung kedahsyatan tsunami.
Namun monumen-monumen itu tetap berdiri. Makam-makam massal tetap dijaga. Dan cerita para penyintas terus disampaikan.
Agar Aceh tidak lupa. Agar dunia ingat, bahwa bencana pernah datang tanpa permisi. Dan dari doa-doa yang terus dipanjatkan, lahir kewaspadaan untuk masa depan.