Menembus Sikundo, Dari Jalur Gerilya Cut Nyak Dhien

  • 02 Des 2025 00:08 WIB
  •  Meulaboh

KBRN, Aceh Barat: Hutan basah, tanah longsor, aliran sungai yang mendadak membesar, dan jejak sejarah perjuangan Aceh yang kian samar semua itu menyatu dalam satu perjalanan panjang menuju Sikundo, pada Minggu (30/11/2025). Sebuah desa terpencil yang dulu menjadi jalur gerilya Cut Nyak Dhien.

Desa yang pernah viral karena anak-anak sekolah terpaksa menyeberangi sungai lewat kabel baja, kini kembali menyita perhatian setelah bencana banjir bandang memutus akses dan membuat warganya terisolasi.

"Perjalanan kami dimulai dari Meulaboh pukul 11.00 WIB. Tujuannya sederhana, namun penuh resiko," tulis Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP, MM mengenang perjalanan aksi kemanusiaan di tengah bencana Hidrometeorologi.

Ia harus memastikan kondisi warga Sikundo, menyalurkan bantuan, dan memastikan tak ada lagi masyarakat Aceh Barat yang terputus dari perhatian pemerintah. Namun perjalanan yang tampak sederhana itu berubah menjadi ekspedisi penuh ujian.

Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP, MM berbincang dengan warga Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Minggu (30/11/2025). Foto kiriman untuk RRI

Mobil 4x4 yang ditumpangi dipaksa bekerja melebihi batas. Jalanan bekas lintasan RGM yang sudah rusak parah, berlumpur, serta dipenuhi batu dan akar, membuat laju kendaraan tersendat-sendat.

Sopir off-road yang berpengalaman menjadi pahlawan pertama dalam perjalanan ini turut serta Camat Pante Ceureumen, Wakil Ketua DPRK Azwir, Kapolsek dan anggotanya, Kepala Puskesmas Pante Ceureumen, para mukim, keuchik, serta tokoh masyarakat turut serta.

Sebuah rombongan yang bukan hanya membawa logistik, tetapi juga kehadiran dan harapan. Beberapa kali mobil tersangkut. Beberapa kali pula kami terpikir untuk kembali.

"Namun keberadaan satu unit beko milik Pak Azwir di kebun menjadi “pertolongan tak terduga” yang membantu kami lolos dari titik-titik kritis," ujar Tarmizi, dalam cuitannya.

Menerobos Hutan, Menantang Alam

Hujan deras mengguyur jelang sore. Di bawah derasnya hujan itu, kami menyeberangi 19 sungai kecil yang pada hari-hari biasa mungkin hanyalah aliran dangkal, namun berubah menjadi arus deras yang menakutkan.

Tepat pukul 17.00 WIB, rombongan tiba di Sikundo. Semua rasa lelah seketika tampak hilang ketika melihat masyarakat menyambut dengan wajah haru sebuah tanda bahwa perjuangan itu terbayar lunas. Mereka telah menunggu, berharap, dan kini akhirnya ditemui.

"Kami menyerahkan bantuan logistik, meninjau sekolah yang belum lama ini direhab, serta menyaksikan langsung kondisi jembatan yang pernah viral itu," ujarnya lagi mengenang jalur ekstrem yang diterobos.

Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP, MM ikut mengecek kesehatan warga Desa Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, Minggu (30/11/2025). Foto kiriman untuk RRI

Jembatan gantung yang dulu dibangun setelah viralnya video anak-anak menyeberang lewat kabel baja pada masa Pj Gubernur Nova Iriansyah, kini hanyut total disapu arus banjir. Akses menuju sekolah putus. Anak-anak kehilangan jalur pendidikan mereka.

Di tengah kondisi itu, warga bahkan terpaksa menggunakan ban mobil untuk menyeberangi sungai sebuah gambaran betapa rapuhnya infrastruktur desa yang menyimpan sejarah perjuangan bangsa ini. Pelayanan kesehatan darurat juga diberikan.

Kepala Puskesmas dan tim perawat langsung bergerak menangani warga dengan keluhan demam, batuk, dan gatal-gatal, sebelum menyalurkan obat-obatan untuk kebutuhan beberapa hari ke depan.

Usai makan bersama dan menunaikan salat Magrib, perjalanan pulang dimulai pukul 19.00 WIB. Namun perjalanan kembali tidak kalah menantang.

Jalan semakin licin, hujan membuat tanah berubah seperti bubur, dan arus empat anak sungai membesar.

"Sehingga kami harus menunggu air surut selama 2,5 jam. Dua unit mobil BPBD bahkan tertinggal tersangkut di gunung akibat kerusakan 4x4," sebutnya lagi.

Sikundo, Jejak Perjuangan, Desa yang Tak Boleh Ditelantarkan

Perjalanan total memakan waktu 16 jam, dan kami baru tiba kembali di Meulaboh pukul 06.00 pagi. Letih, namun lega. Kini, seluruh desa di Aceh Barat sudah berhasil diakses.

Tidak ada lagi yang terisolasi. Semua warga terdampak banjir telah menerima logistik, dan alhamdulillah, tidak ada yang kelaparan.

Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP, MM menyerahkan bantuan sembako kepada warga Desa Sikundo yang terisolir akibat bencana alam banjir, Minggu (30/11/2025). Foto kiriman untuk RRI

Sikundo bukan desa sembarangan. Ia adalah bagian sejarah. Tempat Cut Nyak Dhien membangun basis gerilya melawan kolonial.

Desa ini pernah dirancang untuk menjadi destinasi wisata alam sungainya cocok untuk arung jeram, suasananya sejuk dan damai. Namun kini, sebagian jalannya telah menjadi alur sungai, jembatannya hanyut, dan warganya kembali berjuang untuk bertahan.

Empat puluh kepala keluarga yang tinggal di Sikundo membutuhkan banyak hal: akses jalan, jembatan, pendidikan, dan kesehatan. Semua itu tak bisa lagi ditunda.

"Kami berharap pemerintah pusat dapat memberikan perhatian serius untuk pembangunan jalan dan jembatan menuju Sikundo. Jika jalur itu kembali terputus suatu hari nanti, bukan hanya akses logistik yang akan hilang, tetapi juga jejak sejarah dan masa depan anak-anak yang tinggal di sana," demikian kisah Bupati Aceh Barat Tarmizi, SP, MM menembus lumpur membawa aksi kemanusiaan.

Rekomendasi Berita