Ketika Satu Komandan OPM Tewas di Lanny Jaya

  • 12 Okt 2025 15:53 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Kabut pagi menutup lembah Unambunggu, Lanny Jaya, seperti tirai tebal yang menyembunyikan kisah lama tentang pertempuran dan kehilangan. Di balik senyapnya pegunungan yang menjulang, suara tembakan kembali terdengar pada 6 Oktober 2025.

Kontak tembak antara Satuan Tugas Komando Operasi Habema Kogabwilhan III dan kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Purom Okiman Wenda pecah tanpa peringatan.

Hari itu, udara dingin bercampur bau mesiu, tapi di tengah ketegangan itu, satu hal yang sama-sama dirindukan baik oleh aparat maupun warga: kedamaian yang nyata di tanah tinggi Papua.

Baca juga : Duka Tujuh Pekerja di Perut Bumi Freeport


Satu Anggota OPM Tewas

Kontak tembak yang terjadi di wilayah Unambunggu menewaskan satu anggota kelompok bersenjata. Ia adalah Mayu Waliya, yang diketahui menjabat sebagai Komandan Operasi Kodap XII/Lanny Jaya di bawah pimpinan langsung Purom Okiman Wenda.

Identitasnya baru dipastikan tiga hari kemudian, setelah tim TNI menemukan dan memeriksa isi telepon genggam di lokasi kejadian. Di layar ponsel itu, tersimpan foto-foto keluarga, potongan lagu rakyat, dan pesan terakhir yang tak pernah sempat dikirim.

Bagi pasukan yang bertugas, nama itu bukan sekadar target operasi. Ia adalah manusia yang lahir di tanah yang sama, berjalan di jalan yang sama, dan mungkin pernah bermimpi tentang Papua yang aman. Tapi senjata dan ketakutan telah memisahkan mereka ke dua sisi yang berbeda.

Jenasah salah satu pimpinan OPM yang menjabat Komandan Operasi Kodap XII Lani Jaya Maku Waliya seusai kontak tembak. (Foto Dok Humas Korem 174 ATW)


Markas Dikuasai, Ketegangan Memuncak

Sehari sebelum kontak tembak, tepatnya pada 5 Oktober 2025, pasukan TNI dari Koops Habema berhasil menguasai salah satu markas utama kelompok bersenjata Kodap XII/Lanny Jaya.

Markas itu berdiri di lereng pegunungan Unambunggu, menjadi pusat koordinasi aksi kekerasan yang selama ini mengancam aparat dan warga sipil.

Dari penguasaan itu, prajurit menemukan barang bukti penting yakni amunisi kaliber 7,62 dan 5,56 mm, teleskop bidik, alat komunikasi, dokumen strategi, dan atribut OPM berupa bendera bintang kejora yang sudah lusuh dimakan waktu.

Bagi pasukan di lapangan, itu bukan sekadar kemenangan taktis. Di antara tumpukan logistik dan dokumen yang berserakan, mereka menemukan surat-surat pribadi, coretan tangan anak-anak, dan daftar warga yang hidup dalam ketakutan.

"Kami ingin semua ini berakhir," tulis salah satu surat yang ditemukan di meja kayu dalam markas itu.

Entah siapa penulisnya, tapi kata-kata itu seolah mewakili suara banyak orang yang terjebak di tengah konflik, warga biasa yang tak pernah memegang senjata, tapi setiap hari hidup dalam bayang-bayangnya.

Sejumlah barang bukti yang berhasil di amankan aparat TNI seusai melumpuhkan satu pimpinan OPM. (Foto Dok Humas Korem 174 ATW)


Operasi Terukur di Tengah Bayang-Bayang Konflik

Panglima Komando Operasi Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto, S.I.P., M.Si., menegaskan bahwa operasi di Lanny Jaya dilakukan secara terukur dan profesional, dengan prioritas utama menjaga keselamatan warga sipil.

“Kontak senjata tersebut merupakan respons atas serangan balasan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata OPM. Pasukan kami bertindak sesuai prosedur, disiplin tempur dijaga, dan keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama,” ujar Mayjen Lucky.

Ia menambahkan bahwa operasi bukan sekadar menumpas ancaman, tetapi juga membangun jembatan kepercayaan antara aparat dan masyarakat.

“Kami berupaya agar masyarakat tidak hanya merasa aman, tetapi juga didengar. Damai di Papua tak cukup dengan senjata; ia tumbuh dari rasa saling percaya,” ucapnya.

Salah satu pimpinan OPM Maku Waliya yang berhasil di lumpuhkan aparat TNI. (Foto Dok Humas Korem 174 ATW).


Suara dari Lembah: Ketakutan yang Perlahan Mereda

Di Distrik Unambunggu, kehidupan warga mulai perlahan pulih.

Yulianus Wenda, tokoh masyarakat setempat, mengenang hari-hari sebelum operasi, malam tanpa lampu, ladang yang terbengkalai, dan anak-anak yang berhenti bersekolah karena takut melintasi jalan hutan.

“Tapi sekarang sudah mulai tenang. Anak-anak sudah berani main bola di lapangan, ibu-ibu pergi berkebun, dan suara tembakan sudah tidak terdengar lagi,” katanya dengan mata berkaca.

Namun, ia juga tak menutup mata terhadap trauma yang masih tersisa.

“Rasa takut itu belum hilang sepenuhnya. Kami butuh waktu dan jaminan agar tidak ada lagi perang di kampung kami.”

Di Antara Senjata dan Harapan

Operasi militer di Papua selalu menjadi peristiwa yang menyisakan dua sisi, keberhasilan di satu pihak, dan kehilangan di pihak lain.

Para prajurit TNI yang bertugas di pegunungan bukan hanya menghadapi musuh bersenjata, tapi juga beban batin saat melihat warga sipil harus meninggalkan rumah demi menghindari konflik.

“Yang kami lawan bukan rakyat, tapi ketakutan yang membuat rakyat berpihak pada senjata,” ujar salah satu anggota Satgas yang tak mau disebut namanya.

Ia bercerita, di sela patroli malam, mereka sering bertemu warga yang ketakutan tapi tetap berusaha ramah — menyuguhkan air panas dan ubi bakar di pondok kecil mereka.

“Dari mereka kami belajar arti keberanian,” katanya lirih.

Sinergi Membangun Keamanan yang Manusiawi

Pangkoops Habema menegaskan bahwa keberhasilan menjaga Lanny Jaya bukan hanya hasil kekuatan militer, tapi juga sinergi dengan masyarakat sipil, tokoh adat, dan gereja lokal.

“Papua akan damai bila aparat dan warga berjalan berdampingan. Kami belajar dari warga, dan warga pun belajar bahwa kami hadir untuk melindungi, bukan menakut-nakuti,” ujarnya.

Langkah-langkah kecil terus dilakukan: pembinaan teritorial, bantuan kesehatan, hingga program pendidikan informal bagi anak-anak di daerah terpencil. Di sela operasi, prajurit TNI membagikan buku, menanam sayur bersama warga, dan memperbaiki jalan desa yang rusak.

Di Bawah Langit Papua: Harapan yang Tak Pernah Padam

Di akhir operasi, ketika kabut kembali turun menutup lembah Lanny Jaya, prajurit dan warga duduk bersama di depan api unggun.

Tak ada suara tembakan, hanya suara jangkrik dan nyanyian lirih dari seorang ibu yang kehilangan anaknya beberapa bulan lalu. Lagu itu tentang tanah, tentang damai, tentang rumah yang selalu menunggu kepulangan siapa pun.

Papua, dengan segala luka dan keindahannya, masih berjuang menemukan arti sejati dari kedamaian. Damai bukan berarti tanpa suara, melainkan ketika suara yang terdengar hanyalah tawa anak-anak yang berlarian di tanah yang dijaga dengan cinta, bukan dengan ketakutan.

Rekomendasi Berita