Duka Tujuh Pekerja di Perut Bumi Freeport
- 11 Okt 2025 09:45 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Di ketinggian Pegunungan Tengah Papua, di antara kabut abadi dan dingin yang menggigit tulang, sunyi kini menggantikan suara para pekerja tambang. Lorong-lorong bawah tanah yang dulu penuh tawa dan gema langkah kaki berubah menjadi ruang hening yang menahan duka.
Malam itu, 8 September 2025, bumi di Grasberg Block Cave bergeser tanpa ampun. Sekitar 800.000 metrik ton material basah meluncur deras, menelan tujuh pekerja yang tengah bertugas. Dalam sekejap, cahaya helm mereka padam, suara pun hilang ditelan perut bumi.
Baca juga : Ketika Adzan dan Lonceng Berdentang Bersama di Yasamulya
Di atas sana, kabut masih bergelayut di puncak Mimika. Tapi di bawahnya, bumi menyimpan sunyi yang dalam, sunyi tentang kerja keras, pengorbanan, dan rindu yang tak sempat pulang.

Proses evakuasi korban longsor material basah di area Grasberg Block Cave. (Foto X@IDFreeport)
Ketika janji keselamatan tinggal di atas kertas
Beberapa tahun sebelum tragedi itu, Freeport Indonesia membanggakan ruang perlindungan bawah tanah yang mereka bangun dengan biaya besar. Tempat yang diklaim sebagai benteng terakhir bila terjadi bahaya, dilengkapi oksigen, makanan, dan sistem komunikasi.
“Kami ingin karyawan kami tahu bahwa mereka datang ke tempat kerja yang aman,” kata Chris Zimmer, Senior Vice President Underground Division PT Freeport Indonesia, dalam pernyataan pada 2019.
Namun bagi mereka yang pernah bekerja di bawah sana, rasa aman itu sering kali hanya ilusi. Bangun Samosir, mantan praktisi pertambangan yang menghabiskan lebih dari sepuluh tahun di Freeport, tahu betul batas dari semua teknologi itu.
“Ruang perlindungan itu hanya ada di titik-titik tertentu. Kalau material datang dari segala arah, siapa yang sempat lari sejauh itu?” ujarnya lirih. “Bayangkan arus air membawa batu-batu besar, seperti sungai yang mengamuk di perut bumi.”
Suara terakhir dari dalam tanah
Malam itu, di panel produksi 28–30, beberapa kamera pengawas menangkap detik-detik luncuran material basah. Di layar, para pekerja terlihat berjalan bolak-balik di lorong tambang. Mereka mungkin tak sadar bahwa itu adalah menit-menit terakhir mereka terlihat hidup.
Wigih Hartono, satu dari tujuh pekerja yang terjebak, sempat berkomunikasi lewat radio portabel dengan tim di permukaan.
“Mereka diyakini aman,” ujar juru bicara Freeport, Katri Krisnati, kala itu. “Kami terus berupaya memenuhi kebutuhan mereka.”
Namun waktu berjalan cepat di bawah tanah. Dalam 30 jam, sinyal komunikasi menghilang. Handy talkie yang menjadi satu-satunya jembatan harapan itu kini hanya benda mati di kegelapan.
“Mungkin baterainya habis, atau terendam air,” kata Wamen ESDM, Yuliot Tanjung. Suaranya terdengar datar, seolah mencoba menahan beban yang lebih berat dari sekadar laporan resmi.

Proses evakuasi korban longsor material basah di area Grasberg Block Cave. (Foto X@IDFreeport)
Langkah pemerintah di tengah duka
Dua hari setelah tragedi itu, dari Istana Kepresidenan di Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menatap layar ponselnya yang menampilkan laporan awal dari Freeport. Wajahnya tegang. Di hadapan wartawan, ia hanya berkata pelan, “Tim saya turun ke lokasi untuk mengecek. Tim saya akan ke sana.”
Nada suaranya tenang, tapi sorot matanya menyiratkan beban besar. Ia baru saja menerima laporan langsung dari Direktur Utama Freeport Indonesia, Tony Wenas, tentang longsor besar yang menghentikan operasi tambang.
“Setelah tim dari lokasi selesai, baru kami memberikan informasi,” katanya lagi. “Ya, secara baik.”
Beberapa jam kemudian, tim teknis Kementerian ESDM terbang menuju Tembagapura. Di antara mereka, para inspektur tambang dan geolog senior membawa peralatan pemantau geoteknik, bukan hanya untuk mencari penyebab longsor, tetapi juga sisa harapan bagi keluarga pekerja.
Sementara itu, Freeport menghentikan seluruh operasi tambang bawah tanah. Tidak ada lagi suara mesin. Tidak ada lagi sinar lampu di lorong produksi. Hanya keheningan yang menggema, seolah tambang itu sendiri ikut berduka.

Menteri ESDM Bahlil Lahadia ketika memberikan tanggapan terkait insiden Freeport. (Foto RRI)
Nama-nama yang tinggal di batu
Nama-nama itu kini diukir dalam doa dan duka: Irwan, Wigih Hartono, Victor Manuel Bastida Ballesteros, Holong Gembira Silaban, Dadang Hermanto, Zaverius Magai, dan Balisang Telile.
Tujuh manusia yang menambang mimpi, namun terjebak di tempat yang mereka sebut rumah kedua.
Dua di antara mereka akhirnya ditemukan. Pada Sabtu, 20 September 2025, tim penyelamat tambang bawah tanah Freeport Indonesia menemukan dua jasad di antara material basah dan batu yang memadat. Mereka adalah Irawan (46) dan Wigih Hartono. Keduanya telah pergi sebelum matahari kembali menyinari perut bumi yang mereka cintai.
Air mata dari Cilacap
Ratusan kilometer dari Mimika, di Desa Kalisabuk, Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap, suasana duka menyelimuti rumah sederhana bercat hijau muda. Di halaman, bunga-bunga masih segar di atas tanah merah pemakaman. Di sanalah Irawan, salah satu korban longsor Grasberg Block Cave, dimakamkan pada Minggu, 21 September 2025, di TPU Taman Firdaus Gumelar Kulon.
Kakak kandungnya, Sigit Wahyudi (47), masih ingat betul bagaimana keluarga pertama kali tahu kabar itu.
“Awalnya tahu dari Facebook,” katanya dengan suara gemetar. “Ada berita soal longsor. Tapi waktu itu belum tahu kalau adik saya termasuk korban. Katanya aman. Kami masih berharap.”
Namun harapan itu perlahan runtuh ketika pihak perusahaan mengonfirmasi nama Irawan.
“Ya, sudah menjadi risiko. Kami ikhlas,” ucap Sigit lirih. “Dia memang kerja di tambang, bagian elektrik. Sudah delapan atau sembilan tahun di sana.”
Irawan bekerja sebagai teknisi elektronik di tambang Freeport, dan dalam satu tahun terakhir bergabung dengan PT Cita Contract. Ia baru saja pulang kampung pada Agustus untuk cuti, sebelum kembali lagi ke Tembagapura awal September.
“Komunikasi terakhir ya waktu mau berangkat. Nggak ada pesan apa-apa,” kenang Sigit.
Di mata keluarga, Irawan dikenal pendiam dan sederhana, tapi ringan tangan membantu siapa pun. Ia meninggalkan satu istri dan dua anak yang kini harus belajar memahami arti kehilangan.
Di ruang tamu, foto Irawan tersenyum dalam bingkai kayu cokelat. Di sampingnya, dua anaknya duduk diam, memandangi gambar ayah mereka yang kini hanya bisa dipeluk lewat doa.

Jenasah Irawan (47) salah satu pekerja yang terjebak dalam insiden luncuran metarial basah di area Grasberg Block Cave, Freeport Timika Papua Tengah. (Foto RRI)
Kisah dari yang pernah selamat
Panji, mantan pekerja Freeport, tahu betul seperti apa rasanya bertarung dengan maut di bawah tanah. Ia bekerja hampir satu dekade, berpindah dari blok ke blok: Grasberg Block Cave, Deep Ore Zone, Deep Mill Level Zone, Big Gossan, semuanya meninggalkan jejak ketakutan.
“Kalau dengar suara batu retak, kami langsung diam. Kalau dengar bunyi material basah, kami lari,” katanya. “Di bawah sana, setiap bunyi bisa berarti hidup atau mati.”
Ia pernah nyaris tertimpa batu sebesar mobil. Pernah pula melihat material basah meluncur perlahan seperti monster tak terlihat.
“Suaranya seperti tanah longsor. Tapi di sana tidak ada langit. Tidak ada jalan keluar cepat.”
Meski keselamatan selalu menjadi slogan utama, Panji tahu betul, di dunia tambang, nyawa sering menjadi angka statistik. “Freeport memang ketat dalam pelatihan. Tapi ketatnya aturan tidak selalu bisa menandingi ketatnya takdir,” ujarnya lirih.
Antara kebanggaan dan kehilangan
Bagi Bangun Samosir, yang memulai kariernya di Freeport pada 1980-an, rasa takut adalah teman lama.
“Kalau sudah masuk ke dalam tanah,” katanya pelan, “saya tidak berharap bisa hidup.”
Ia tahu benar risiko di setiap langkah. Pernah suatu kali, batu sebesar lemari jatuh hanya sejengkal dari kakinya.
“Saya kerja 28 jam tanpa henti. Duduk sebentar, batu itu jatuh. Saya cuma bisa diam. Di situ saya sadar, hidup saya mungkin tinggal sedetik.”
Sejak itu, Bangun belajar berdamai dengan risiko. “Kalau terlalu takut, kamu malah nggak waspada,” ujarnya. “Tapi jangan pernah lupa berdoa setiap kali turun.”
Tanah yang menelan anak-anaknya
Papua, tanah yang diberkati kekayaan, sering kali juga menjadi saksi penderitaan mereka yang menggali perutnya.
Di sana, emas dan tembaga mengalir bersama air mata. Antara bunyi mesin bor dan doa malam, manusia berjuang melawan ketidakpastian.
“Di bawah sana,” ujar Panji dalam percakapan terakhir kami, “gelapnya bukan cuma karena tak ada cahaya. Tapi karena setiap langkah bisa jadi yang terakhir.”
Kini, tujuh pekerja itu mungkin masih di sana, bersama batu, tanah, dan sisa mimpi yang belum selesai.
Di permukaan, langit Papua tetap biru. Tapi di kedalaman yang tak tersentuh matahari, sunyi menyelimuti mereka yang pernah berjuang.
Doa dari keluarga yang menunggu
Di rumah sederhana di Bogor, Ibu Hermanto menatap foto anaknya, Dadang Hermanto, yang masih belum ditemukan. Di dinding, tergantung surat tugas terakhir dari Freeport, kini sudah menguning.
“Dia kirim pesan terakhir jam delapan malam,” ucapnya pelan. “Katanya habis shift, mau tidur sebentar. Setelah itu... tidak ada kabar lagi.”
Ia menolak mematikan ponsel lamanya, masih berharap ada panggilan masuk, entah dari siapa. “Kadang saya dengar suara orang di telepon, padahal tidak ada,” katanya dengan mata basah. “Mungkin saya yang gila karena rindu.”
Sunyi yang tak akan hilang
Tragedi di Grasberg bukan hanya tentang Freeport, bukan hanya tentang tambang. Ia adalah kisah tentang manusia yang berusaha hidup di tengah logam, batu, dan risiko. Tentang mereka yang menukar waktu bersama keluarga dengan kehidupan di bawah tanah.
Setiap kali kabut turun di Tembagapura, mungkin di sanalah roh tujuh pekerja itu berdiam. Menyatu dengan tanah yang mereka gali, menjadi bagian dari bumi yang mereka cintai.
“Kalau nanti ada suara batu retak di bawah sana,” kata Bangun Samosir menatap jauh, “barangkali itu bukan tanda bahaya. Mungkin itu mereka yang masih ingin bicara.”