Ketika Adzan dan Lonceng Berdentang Bersama di Yasamulya
- 10 Okt 2025 11:24 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Di sebuah siang yang lembut di Tanah Miring, Merauke, suara azan dhuhur memecah kesunyian. Dari arah lain, samar terdengar dentang lonceng gereja yang mengiringi doa minggu. Dua suara yang berbeda, tapi berpadu indah di udara yang hangat.
Itulah bunyi yang sering terdengar di Kampung Yasamulya, kampung kecil yang menjadi rumah bagi harmoni, tempat perbedaan tak menjadi alasan untuk saling menjauh.
Kampung Yasamulya, yang luasnya sekitar lima belas ribu hektar, adalah salah satu kampung transmigrasi tua di selatan Papua. Didirikan di era Presiden Soeharto, kampung ini menjadi rumah bagi beragam suku, ras, dan agama yang datang dari berbagai penjuru Nusantara, Jawa, Bali, Bugis, Toraja, hingga warga asli Papua. Di sinilah mereka hidup berdampingan dalam satu nadi yang sama: kedamaian.
Pada 23 Oktober 2017, pemerintah menetapkan Yasamulya sebagai Kampung Kerukunan Nasional. Tapi bagi warganya, pengakuan itu bukan hanya gelar, melainkan cara hidup yang sudah lama mereka jalani, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Baca juga : Merah Putih yang Nyaris Terlupakan
Tiga Rumah Tuhan di Satu Jalan
Di jantung Kampung Yasamulya, tiga rumah ibadah berdiri bersisian: Masjid Darussalam, Gereja Katolik Santo Gabriel, dan Pura Duta Darma. Dari kejauhan, menaranya seperti tiga jari tangan yang berbeda arah, namun tetap menghadap langit yang sama.
Setiap pagi Jumat, warga Hindu dan Katolik membersihkan halaman masjid agar umat Islam bisa beribadah dengan tenang. Saat Nyepi tiba, jamaah masjid menutup pengeras suara dan menjaga suasana tetap hening. Dan ketika malam Natal datang, para pemuda Muslim ikut menyalakan lampu-lampu di halaman gereja, memastikan malam kudus itu berlangsung damai.
“Dulu waktu pura kami direnovasi, yang bantu mengangkat batu itu justru anak-anak muda dari mushola,” kenang I Wayan Wirata, pemangku Pura Duta Darma.
“Mereka datang tanpa diminta, bilangnya cuma satu: ‘Kita bantu karena ini rumah Tuhan juga.’”
Ketiga bangunan itu kini menjadi penanda arah bagi siapa pun yang datang ke Yasamulya. Orang-orang menyebutnya ‘Tiga Rumah Tuhan di Satu Jalan’, simbol nyata bahwa perbedaan tak harus memisahkan, melainkan menyatukan hati.
Suara Damai di Jalan Teuku Umar
Menjelang sore, di sepanjang Jalan Teuku Umar, aroma dupa dari sebuah pura bercampur lembut dengan suara bacaan Al-Qur’an dari masjid. Tak jauh dari sana, lonceng Gereja Katolik Santo Gabriel berdentang memanggil umat untuk misa.
Suara-suara itu tak saling mengalahkan, tak pula menenggelamkan satu sama lain. Mereka berpadu seperti orkestra harmoni yang menenangkan hati siapa pun yang mendengarnya.
“Kalau adzan berkumandang, umat Hindu yang sedang bersembahyang akan berhenti sejenak. Begitu juga kalau misa dimulai, umat Islam yang sedang di masjid akan memperlambat pengeras suara. Sudah begitu dari dulu, kami saling tahu dan saling menghormati,” ujar Andreas Wenda, tokoh masyarakat Papua yang sudah dua dekade tinggal di Yasamulya.
Ia menunjuk tiga bangunan di sebuah perempatan kecil, sebuah masjid, gereja, dan pura yang berdiri bersebelahan, hanya dipisahkan oleh pagar dan jalan setapak. “Ini bukan sekadar bangunan,” katanya pelan, “tapi simbol hidup kami. Kalau salah satu roboh, semua ikut merasa kehilangan.”

Pura Duta Darma di Kampung Yasamulya Distrik Tanah Miring Kabupaten Merauke, tidak jauh di sebelahnya terdapat mesjid dan gereja yang saling berdampingan. (Foto RRI)
Toleransi yang Tumbuh di Tengah Perbedaan
Di Yasamulya, kerukunan bukan hasil proyek atau program pemerintah, melainkan hasil gotong royong hati. Ketika salah satu rumah ibadah sedang dibangun, umat lain akan ikut membantu. Saat hari raya tiba, meja-meja warga penuh dengan makanan lintas budaya, dari ketupat dan opor ayam, hingga lawar Bali dan papeda khas Papua.
“Dulu waktu kami bangun masjid, umat Katolik dan Hindu datang bantu angkat batu, bikin pondasi,” kenang Abdul Rochman, Ketua Pengurus Masjid Darussalam.
“Kalau Natal tiba, kami gantian bantu pasang pohon Natal dan lampu di gereja. Karena bagi kami, kasih itu bukan hanya soal agama, tapi soal hati.”
Abdul sempat menunduk lama ketika ditanya soal isu rasisme dan konflik yang beberapa kali mengguncang Tanah Papua. Ia menarik napas panjang sebelum berkata, “Di tempat lain mungkin orang bisa cepat marah, tapi di sini, kami memilih menenangkan diri.
Kalau ada yang mulai bicara kasar soal suku atau agama, yang lain langsung datang merangkul. Kami percaya, api kebencian padam kalau disiram dengan kasih.”

Warga umat Muslim, Nasrani, Hindu dan Budha saling gotong royong memperbaiki badan jalan menuju sebuah gereja yang mengalami kerusakan parah di Kampung Yasamulya. (Foto RRI)
Menjaga Kedamaian di Tengah Badai
Ketika Papua sempat dilanda gejolak akibat isu rasis pada tahun-tahun lalu, Yasamulya tetap tenang. Tak ada batu yang dilempar, tak ada suara keras di jalan. Yang ada hanyalah warga yang saling mendatangi rumah tetangga, memastikan semua aman dan tak ada yang ketakutan.
“Waktu isu itu muncul, kami semua duduk bersama di balai kampung,” tutur FX. Budi Wiyono, Ketua Dewan Stasi Gereja Katolik Santo Gabriel. “Kami sepakat, jangan ada satu pun warga Yasamulya yang terbawa arus. Kami diingatkan lagi, bahwa damai itu pilihan, dan kami sudah memilihnya sejak lama.”
FX. Budi Wiyono mengenang bagaimana umat Katolik sering ikut menjaga keamanan masjid saat malam takbiran, sementara umat Muslim turut menjaga gereja pada malam Natal.
“Saya masih ingat malam Natal tahun lalu,” katanya dengan mata berkaca, “anak-anak muda Islam yang habis salat Isya datang jaga depan gereja. Mereka bilang, Biar Bapak misa tenang, kami yang jaga luar. Saya hampir menangis malam itu.”

Ketua Dewan Stasi Gereja Katolik Santo Gabriel FX. Budi Wiyono ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)
Pelajaran dari Leluhur
Kisah damai di Yasamulya tak bisa dilepaskan dari kebijaksanaan orang-orang tua terdahulu. Misno, perwakilan Parisada Hindu Dharma Indonesia Distrik Tanah Miring, menuturkan bahwa nilai-nilai toleransi telah diwariskan sejak kampung ini berdiri.
“Leluhur kami mengajarkan: siapa pun yang datang ke sini harus membawa kedamaian. Kalau ada yang datang dengan niat buruk, dia akan pergi dengan sendirinya,” ujar Misno sambil tersenyum.
“Kami saling menjaga, bukan karena ingin terlihat baik, tapi karena itu sudah jadi cara hidup kami.”
Bagi Misno, ajaran dharma, kebaikan universal, bukan hanya milik umat Hindu. “Kami percaya Tuhan itu satu, hanya cara menyembahnya yang berbeda. Di Yasamulya, kami tidak sibuk membuktikan siapa yang paling benar. Kami sibuk menjaga agar tidak ada yang terluka.”
Satu Hati, Satu Tujuan
Di balai kampung yang sederhana, Danyel Salmon, Kepala Kampung Yasamulya, duduk di antara anak-anak muda yang sedang berlatih memainkan musik daerah. Di dinding balai itu terpampang sebuah kalimat dalam bahasa Marind: “Izakod Bekai Izakod Kai” satu hati, satu tujuan.
“Itu falsafah hidup kami di Merauke,” katanya. “Bukan hanya slogan, tapi nafas hidup. Kami percaya, manusia itu diciptakan berbeda bukan untuk bertengkar, tapi untuk saling melengkapi.”
Danyel mengakui, menjaga kerukunan di zaman sekarang tidak mudah. Media sosial kadang membawa berita bohong yang menebar kebencian. “Tapi kami punya cara,” ujarnya.

Kepala Kampung Yasamulya Daniel Salmon ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)
Yasamulya, Istana Damai di Ujung Timur
Sore mulai turun di ufuk selatan Papua. Cahaya jingga matahari memantul di atap-atap rumah warga. Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak mengaji, diiringi lantunan lagu rohani dari rumah tetangga seberang jalan. Dua nada yang berbeda, tapi keduanya melambungkan doa yang sama, tentang harapan, tentang damai.
Di Yasamulya, perbedaan adalah pelangi. Tidak ada warna yang lebih indah dari yang lain. Semuanya melengkapi, semuanya menambah keindahan.
“Beda itu berkah,” kata Andreas Wenda menutup percakapan sore itu. “Kalau semua sama, dunia ini akan sepi. Tapi karena kita berbeda, kita bisa belajar untuk saling mengerti. Dan dari mengerti itulah lahir kasih.”
Dan ketika malam turun sepenuhnya, cahaya lampu dari masjid, gereja, dan pura tampak menyala berdampingan, tiga cahaya yang berbeda warna, tapi sinarnya berpadu, menerangi satu kampung kecil di ujung timur Indonesia.
Dari Yasamulya, dunia seakan diajarkan kembali arti sederhana dari kedamaian: bahwa untuk hidup berdampingan, manusia tak perlu serupa, cukup saling menghormati, dan saling menjaga agar cahaya itu tak pernah padam.