Merah Putih yang Nyaris Terlupakan
- 09 Okt 2025 13:56 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Langit di selatan Merauke tampak sendu pagi itu. Dari kejauhan, kabut tipis menggantung di atas rawa luas yang seolah menutup pelan-pelan rahasia lama tentang sebuah dusun kecil di ujung negeri.
Namanya Dusun Yakyu, yang terletak di Kampung Rawa Biru, Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, tempat di mana merah putih tetap berkibar, meski tak ada jalan beraspal, tak ada sekolah, dan tak ada suara listrik yang berdengung.
Perjalanan menuju Dusun Yakyu dimulai dari Kota Merauke, melintasi jalanan sepi menuju Kampung Rawa Biru di Distrik Sota. Dengan mobil, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam, melewati hutan yang luas, di mana angin membawa aroma tanah basah dan dedaunan kering.
Namun perjalanan tidak berhenti di sana. Dari tepi Kampung Rawa Biru, kami harus berganti moda transportasi, perahu ketinting kecil bermesin tempel dan menelusuri rawa serta sungai yang sepi selama dua jam.
Baca juga : Laut yang Menyimpan Luka Nelayan Merauke
Suara mesin perahu bersahut dengan kicau burung rawa, sementara air berwarna coklat tua memantulkan langit kelabu. Di sepanjang perjalanan, hanya terlihat pepohonan, sagu, dan air yang tak berujung.
Ketika akhirnya perahu menepi di tanah berlumpur dengan beberapa rumah kayu di kejauhan, kami tahu, inilah Dusun Yakyu, dusun kecil di batas paling selatan Indonesia yang di diami 107 jiwa warga repatrian.
Dusun di Balik Hutan dan Kesetiaan
Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, kami tiba di sebuah hamparan kecil yang dikelilingi pohon sagu dan rawa-rawa. Di sanalah Dusun Yakyu berdiri, sederhana, sunyi, tapi menyimpan makna besar tentang kebangsaan.
Puluhan bendera merah putih berkibar di depan rumah-rumah kayu yang sudah lapuk dimakan usia. Anak-anak berlari tanpa alas kaki di tanah lembab. Tak ada sekolah, tak ada puskesmas, tak ada penerangan. Hanya semangat Indonesia yang menyala di mata mereka.
“Kami ini dulu dari Papua Nugini, tapi hati kami Indonesia. Kami mau di sini saja, walau susah,” ujar Lukas Roberth Maiwa, kepala Dusun Yakyu, sambil duduk di depan rumahnya yang terbuat dari batang kayu tua.
Lukas mengenang, puluhan tahun lalu, mereka menyeberang batas negara, memilih menjadi warga Indonesia karena percaya pada tanah air yang merdeka. Namun, hidup di sini seperti bertarung setiap hari melawan keterpencilan dan keterbatasan.
Anak-anak mereka tak punya sekolah. Untuk bisa belajar, mereka harus naik perahu ketinting kecil dan menempuh perjalanan hampir satu jam menuju Kampung Rawa Biru.
“Kalau air besar atau mesin rusak, anak-anak tidak bisa ke sekolah. Kadang sebulan penuh mereka tidak belajar,” tutur Lukas pelan, menunduk, menatap anak-anak yang bermain lumpur di halaman rumahnya.

Kepala Dusun Yakyu Lukas Robert Maiwa. (Foto RRI)
Air Rawa untuk Hidup, Cahaya dari Api
Sore menjelang, langit mulai berubah jingga. Warga satu per satu berjalan membawa jeriken ke arah rawa. Di situlah mereka mengambil air, satu-satunya sumber kehidupan.
Air itu keruh, berwarna kecoklatan, namun setelah diendapkan semalaman, menjadi sedikit lebih jernih dan layak diminum.
“Kalau mau air bersih, kami ambil dari rawa. Kadang warnanya coklat, tapi mau bagaimana lagi, cuma itu yang ada,” kata Ronald, seorang pria paruh baya yang baru lima tahun resmi menjadi warga negara Indonesia.
Ia masih terbata-bata berbahasa Indonesia, tapi dari suaranya terdengar ketulusan dan kebanggaan. Ketika malam datang, Dusun Yakyu tenggelam dalam gulita. Tak ada listrik, tak ada suara mesin, hanya hembusan angin dari rawa.
Rumah-rumah papan diterangi cahaya lampu minyak tanah. Anak-anak belajar dengan cahaya redup sambil mengusir nyamuk dengan daun kering yang dibakar.
“Kami ingin listrik, biar anak-anak bisa belajar malam hari. Tapi sampai sekarang belum ada,” ucap Ronald lirih.
KTP dan Demokrasi yang Jauh dari Genggaman
Kehidupan di Yakyu bukan hanya soal bertahan hidup, tapi juga soal identitas dan hak sebagai warga negara. Banyak warga di sini adalah repatrian, mereka yang dulu berasal dari Papua Nugini, namun memilih bergabung dengan Indonesia karena rasa nasionalisme.
Remond, seorang pria kelahiran PNG yang kami temui di tepian rawa, bercerita tentang hal yang sederhana namun menyakitkan: tidak punya Kartu Tanda Penduduk (KTP).
“Kami sudah Indonesia, tapi banyak dari kami belum punya KTP. Jadi waktu pemilu kemarin, kami tidak bisa pilih siapa pun,” ujarnya lirih.
Tanpa KTP, mereka juga tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial. Banyak keluarga di Yakyu hidup dari hasil menangkap ikan atau menokok sagu di hutan.
“Bantuan datang, tapi nama kami tidak ada di daftar. Kami tidak marah, cuma sedih, karena kami juga orang Indonesia,” kata Remond.
Namun meski hidup dalam keterbatasan, semangat nasionalisme warga Yakyu tidak pernah pudar. Setiap 17 Agustus, mereka tetap berbaris di tanah becek, mengibarkan bendera merah putih di depan rumah kayu mereka.
Di antara lumpur dan hujan yang turun pelan, anak-anak tetap berdiri tegak, sebagian mengenakan seragam sekolah yang sudah lusuh, sebagian lagi hanya memakai kaus sobek. Mereka bernyanyi “Indonesia Raya” dengan suara bergetar, menahan air mata dan kebanggaan.
“Anak-anak sering menangis saat upacara. Mereka bilang ingin sekolah di sini, supaya tak perlu naik perahu jauh-jauh,” tutur Lukas, suaranya parau menahan haru.
Suara anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan menggema, mengguncang hening di perbatasan.
“Kami tetap Indonesia, walau tidak ada yang datang lihat kami,” ucap Remond, menatap bendera lusuh yang berkibar pelan di ujung tiang bambu.

Anak anak Dusun Yakyu ketika sedang berkumpul di depan ruang belajar sementara. (Foto RRI)
Antara Hidup dan Risiko di Atas Perahu
Keterpencilan Yakyu tak hanya menyulitkan pendidikan, tapi juga mengancam nyawa.
Marlina, salah satu ibu muda di dusun itu, bercerita tentang perjuangan ibu-ibu hamil untuk bisa mendapat pertolongan medis.
“Di sini tidak ada tenaga kesehatan. Kalau ada yang mau melahirkan, kami harus naik perahu ketinting ke Rawa Biru. Kadang sampai di tengah jalan, bayinya sudah lahir di atas perahu,” ucap Marlina lirih, matanya berkaca-kaca.
Ia menatap ke arah rawa yang luas , seolah menyimpan banyak kisah duka yang tenggelam di dalamnya.
“Kalau malam, susah sekali. Gelap, air besar, dan tidak ada lampu. Kami hanya bisa berdoa supaya ibu dan anak selamat,” tambahnya.

Akses satu satunya dari Kampung Rawa Biru menuju Dusun Yakyu hanya menggunakan perahu ketinting sekitar satu jam perjalanan. (Foto RRI)
Janji Negara di Ujung Negeri
Bupati Merauke, Yoseph Gebze, mengatakan perhatian untuk masyarakat di wilayah perbatasan menjadi hal yang sangat penting.
“Kami ingin masyarakat Dusun Yakyu juga merasakan keadilan yang sama seperti warga di kota. Pemerintah akan berupaya agar mereka mendapat akses pendidikan, kesehatan, dan listrik,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menegaskan bahwa kehadiran Provinsi Papua Selatan menjadi langkah besar untuk mempercepat pembangunan di wilayah terpencil.
“Dengan adanya provinsi baru, kami ingin membuka isolasi di daerah-daerah perbatasan. Negara harus hadir sampai ke rumah terakhir di ujung negeri,” tegasnya.
Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Merauke beberapa waktu lalu juga menjadi momentum penting bagi masyarakat perbatasan.
Dalam sambutannya, Gibran menegaskan bahwa keadilan pembangunan tidak boleh berhenti di kota.
“Saya datang ke sini untuk memastikan negara hadir, bahkan di titik terjauh seperti perbatasan. Kita ingin anak-anak di sini punya masa depan, punya cahaya, punya sekolah, dan punya alasan untuk terus bangga jadi Indonesia,” ujar Gibran di hadapan masyarakat Merauke.

Wakil Presiden Gibran Raka Buming ketika berkunjung di Kabupaten Merauke. (Foto RRI)
Harapan di Tengah Sunyi
Senja turun di Dusun Yakyu. Langit berubah merah jingga, memantulkan cahaya di permukaan rawa yang tenang. Anak-anak terlihat bermain perahu kecil, tertawa tanpa beban. Mereka belum tahu apa arti “pembangunan berkelanjutan” atau “keadilan sosial”. Tapi mereka tahu satu hal: mereka Indonesia.
Di depan rumah Lukas, bendera merah putih masih berkibar. Robek di ujungnya, tapi tetap tegak. Di bawahnya, tanah Papua berbisik lembut, menyampaikan pesan yang tak boleh dilupakan: Bahwa cinta pada tanah air bukan diukur dari seberapa makmur seseorang hidup, tapi dari seberapa teguh ia bertahan di bawah merah putih, bahkan ketika negeri seolah tak menatapnya.