Air Mata Rob di Tanah Waan
- 07 Okt 2025 15:22 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Setiap tahun, Distrik Waan, sebuah wilayah pesisir di ujung selatan Papua, seolah menunggu takdir buruk yang selalu datang tanpa diundang.
Ketika laut pasang meninggi dan angin menggila, gelombang setinggi hampir satu meter datang menerjang, menenggelamkan harapan di sebelas kampung yang terhampar di tepian pantai itu.
Dalam hitungan menit, rumah-rumah hancur, kebun-kebun lenyap, dan kehidupan warga berubah menjadi kisah pilu yang tak berujung.
Warga menyebutnya “rob tahunan”, tetapi istilah itu terlalu ringan untuk menggambarkan luka yang mereka tanggung.
Karena setiap kali laut naik, ia tak hanya membawa air, tapi juga duka, kehilangan, dan ketakutan yang selalu datang bersama ombak.
Bagi mereka, bencana bukan lagi kabar yang mengejutkan, melainkan bab lama dari buku kehidupan yang tak pernah selesai ditulis.
Baca juga : Air Mata di Ulakin
Ketika Laut Mengambil Segalanya
Ketika musibah banjir ROB itu datang.
Langit yang tadinya biru mendadak berubah kelabu. Angin menderu di sela rumah papan yang ringkih.
Dari kejauhan, warga mendengar suara gemuruh. Suara itu bukan sekadar ombak, melainkan peringatan dari laut yang sedang murka.
Beberapa menit kemudian, air datang dengan ganas.
Gelombang setinggi pinggang orang dewasa menyapu pemukiman.
Dinding rumah roboh, perabot hanyut, dan teriakan histeris menggema di antara hempasan air asin yang menelan segalanya.
Antoneta, perempuan 45 tahun, berdiri di tepi rumahnya yang kini tinggal tiang.
Air mata bercampur dengan air laut.
“Semua habis,” katanya lirih. “Rumah ambruk, pakaian cuma yang melekat di badan. Yang tersisa cuma anak-anak ini.”
Ia duduk di atas papan kayu yang terseret arus ke tepi hutan bakau, memeluk dua anaknya yang menangis ketakutan.
Kebun yang dulu menjadi sumber pangan kini terendam lumpur asin.
Ubi, keladi, pisang, semuanya hilang.
“Saya takut nanti kami lapar,” ucapnya pelan, suaranya gemetar.
Warga lain mencoba menenangkannya, namun siapa yang bisa tenang ketika rumah dan harapan hilang dalam sekejap?
Di Waan, air bukan lagi sumber kehidupan, melainkan ancaman yang datang setiap tahun, setiap musim, tanpa ampun.

Tanaman dan kebun warga Kampung Tor rusak akibat banjir ROB yang terjadi setiap tahun. (Foto RRI)
Tradisi Bencana yang Terus Berulang
Benediktus, nelayan tua berusia 50 tahun, menatap laut yang kembali tenang dengan mata kosong.
Baginya, rob adalah tradisi pahit yang diwariskan dari tahun ke tahun.
“Setiap tahun begini,” katanya pelan. “Kalau air pasang besar, rumah pasti terendam. Kadang perahu hanyut, jaring rusak. Kami sudah biasa, tapi tetap sakit.”
Ia menyalakan rokok yang basah. Asapnya tipis, berbaur dengan bau lumpur asin.
“Bantuan datang lambat. Kadang cuma mie instan sama beras satu karung. Itu pun tidak cukup.”
Ia menatap anak-anak yang bermain di genangan air.
Tawa mereka renyah, tapi di balik tawa itu tersembunyi kenyataan getir yang belum mereka mengerti: laut yang menjadi tempat bermain juga bisa menjadi kuburan rumah mereka.
“Kalau banjir begini, susah melaut,” lanjut Benediktus. “Tak ada hasil, tak ada uang. Kami cuma bisa tunggu laut reda, tunggu bantuan datang.”
Namun bantuan tidak selalu datang. Kapal sulit menembus gelombang.
Warga harus bertahan dengan apa yang tersisa, ubi yang setengah busuk, air hujan, dan doa.
Suara dari Kampung yang Tersisa
Sekretaris Kampung Tor, Bonafasius Naar, menatap laut yang berkilau di bawah mentari sore. Tenang, tapi berbahaya.
“Masalahnya bukan kami tidak mau pindah,” ujarnya.
“Tapi di mana kami mau tinggal? Ini tanah leluhur kami. Di sinilah kami lahir, di sinilah kami dikuburkan nanti.”
Pemerintah sebenarnya sudah beberapa kali menawarkan relokasi ke daerah yang lebih tinggi.
Namun banyak warga menolak, bukan karena keras kepala, tapi karena takut kehilangan akar, tanah adat yang menjadi identitas, tempat roh nenek moyang mereka bersemayam.
“Kami tidak punya pilihan lain selain bertahan,” katanya lirih. “Tiap tahun kami kalah oleh air, tapi kami tidak bisa tinggalkan tanah ini.”
Kepala Distrik Waan, Efraim Esebius Kaize, hanya bisa pasrah melihat warganya berjuang sendirian.
“Kalau mereka menolak direlokasi, kami tidak bisa memaksa. Kami hanya bisa data korban dan tunggu bantuan,” ujarnya.

Rumah warga rusak akibat banjir ROB yang terjadi setiap tahun. (Foto RRI)
Bantuan yang Datang Terlambat
Banjir rob bukanlah cerita baru di Distrik Waan, namun luka yang ditinggalkannya selalu baru.
Bantuan yang datang sering kali terlambat.
Tagana Merauke, yang diketuai Yohanes Samkakai, mengakui medan menuju Waan sangat sulit.
“Kami sering kesulitan ke sana. Harus menunggu gelombang tenang baru kapal bisa berangkat. Tapi tetap, kami berusaha semampunya,” ujarnya.
Namun waktu tak menunggu.
Bagi warga, setiap jam tanpa bantuan adalah penderitaan, setiap hari tanpa pangan adalah ancaman.“Kalau bantuan datang seminggu kemudian, banyak anak-anak sudah sakit, orang tua sudah lemas,” kata Antoneta.
Di kampung sebelah, seorang ibu bernama Yohana, 38 tahun, duduk di depan tenda darurat dari terpal lusuh.
Di belakangnya, puing rumahnya masih tampak.
“Waktu air datang, saya cuma sempat peluk anak-anak dan lari,” katanya dengan suara nyaris pecah.
“Semua hanyut, beras, pakaian, babi, perahu. Kami cuma punya ini sekarang.”
Setiap malam, Yohana menatap laut yang tampak tenang di bawah cahaya bulan.
Namun ketenangan itu menakutkan, karena di Waan, laut yang tenang adalah laut yang sedang bersiap menyerang lagi.
“Kalau hujan datang, saya tidak tidur,” bisiknya.
“Saya takut air naik, saya takut kehilangan lagi.”
Ketika Pemerintah Merespon
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Pasal 5 menyebutkan: pemerintah daerah adalah penanggung jawab utama dalam penanggulangan bencana.
Namun di Waan, undang-undang itu seperti tidak bersuara.
Dominikus Ulukyanan, Ketua Komisi III DPR Papua Selatan Fraksi Partai Golkar, mengaku sudah berulang kali menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah daerah agar penanganan bencana di pesisir ditingkatkan.
“Kami sudah sampaikan hasil kunjungan lapangan dan usulan pembangunan tanggul. Tapi pelaksanaannya lambat,” ujarnya.
“Kalau tidak segera ada tindakan, Waan akan tenggelam, dan bersama air itu ikut tenggelam masa depan anak-anak di sini.”

Ketua Komisi III DPR Papua Selatan Fraksi Partai Golkar Dominikus Ulukyanan. (Foto RRI)
Jeritan dari Ujung Selatan Papua
Pemerhati lingkungan Merauke, Martinus Watimena, menyebut bencana rob di Waan sebagai “lukisan penderitaan yang diulang terus-menerus.”
Menurutnya, tanggul alami yang dulunya melindungi kampung kini rusak akibat penebangan liar.
“Hutan mangrove adalah tameng. Tapi banyak ditebang untuk kayu bakar. Akibatnya, ombak masuk tanpa penghalang,” katanya.
“Kalau dibiarkan, dalam sepuluh tahun, Waan bisa lenyap. Bukan hanya kampung, tapi juga sejarah.”
Ia mengingatkan, perubahan iklim memperparah semuanya.
Naiknya permukaan laut dan badai yang makin sering datang membuat pantai di selatan Papua semakin rapuh.
“Kita harus mulai dari hal kecil: tanam mangrove, buat sabuk hijau. Karena laut tak bisa kita lawan, tapi bisa kita jinakkan,” tegasnya.
Pasca Banjir: Warga Membangun dari Puing
Beberapa hari setelah air surut, kampung itu seperti medan perang yang ditinggalkan.
Pohon-pohon tumbang, lumpur menutupi jalan, sisa atap bergantung di pohon kelapa.
Namun di tengah kehancuran itu, kehidupan pelan-pelan bangkit.
Benediktus dan beberapa nelayan muda mulai memperbaiki perahu dengan papan bekas rumah yang roboh.
Antoneta menjemur pakaian yang diselamatkan dari air.
Yohana menanam kembali keladi di tanah yang masih lembek, sambil berkata, “Kalau kita berhenti tanam, nanti anak-anak mau makan apa?”
Mereka bekerja tanpa menunggu bantuan datang.
Anak-anak ikut membantu memunguti paku dan papan yang masih bisa digunakan.
Dari tawa kecil mereka, ada harapan yang menolak padam.
Namun malam tetap panjang bagi warga Waan.
Mereka tidur di bawah terpal, ditemani suara ombak yang tak pernah berhenti.
Setiap kali angin laut berembus, Yohana menatap anaknya dan berdoa dalam hati:
“Tuhan, jangan biarkan air datang malam ini.”
Doa di Tepi Laut
Menjelang senja, lonceng gereja kecil di tepi pantai berdentang.
Suara itu mengalun lembut, bercampur dengan desir angin dan debur ombak.
Warga datang satu per satu, mengenakan pakaian seadanya, duduk di atas pasir lembab.
Pendeta membuka ibadah sore.
Dalam suaranya yang serak, ia berkata, “Tuhan, kami tidak minta laut berhenti, kami hanya minta hati kami cukup kuat untuk berdiri lagi.”
Antoneta menunduk, Yohana memejamkan mata, Benediktus menggenggam topi lusuhnya.
Air mata jatuh tanpa suara.
Bagi mereka, doa adalah satu-satunya yang tidak pernah hanyut, satu-satunya harta yang tidak bisa diambil air.
Malam turun perlahan. Bintang memantul di permukaan laut yang kini tenang, seolah menertawakan luka manusia di bawahnya.
Namun di hati warga Waan, masih ada cahaya kecil, harapan yang sederhana, tapi nyata.
“Harapan kami cuma satu,” kata Benediktus pelan.
“Jangan biarkan kami sendiri melawan air ini.”
Di ujung selatan Papua, di antara desau angin dan aroma asin laut, kisah Waan terus ditulis kembali setiap tahun:
tentang air yang datang tanpa ampun, tentang manusia yang tak mau menyerah,
tentang air mata yang jatuh di tanah yang selalu basah,
tanah yang menunggu hari ketika laut akhirnya belajar berhenti mengambil.