KBRN, Merauke : Kabut pagi masih menggantung di atas rawa ketika suara tembakan memecah keheningan Kampung Ulakin, Distrik Kolf Braza, Kabupaten Asmat. Waktu baru menunjuk pukul enam pagi, (22/09/2025), saat istri korban sebut saja Maria, perempuan 22 tahun itu, baru saja menyeduh air panas untuk sarapan sederhana. Di luar, kabut seperti tirai yang menutupi wajah maut.
Dalam sekejap, pagi yang tenang berubah menjadi teror. Sekelompok orang bersenjata datang dari arah hutan, berteriak dan menuduh suaminya, Indra Guruwardana, sebagai aparat keamanan. Tanpa sempat bertanya, tanpa memberi ruang kebenaran, mereka melepaskan peluru.
Baca juga : Kisah Dibalik Rimba Papua
“Dia jatuh di depan mata saya,” suara Maria pecah. “Saya mau lari, tapi kaki saya seperti tidak punya tenaga.”
Maria bersembunyi di balik dinding papan, memeluk salib kecil di lehernya. Dari celah bambu, ia melihat tubuh suaminya terkulai bersimbah darah. Setelah suara tembakan berhenti, kelompok bersenjata itu menyeret jasad Indra ke arah sungai yang mengalir di belakang rumah. Tak ada belas kasihan, mereka mendorong tubuh itu ke arus Sungai Ulakin, lalu menghilang di balik kabut.
“Dia bukan tentara… dia hanya warga biasa,” lirih Maria. “Mereka tidak sempat tahu siapa dia, tapi mereka sudah menghakimi.”

Rumah korban Indra Guruwardana rata dengan tanah setelah di bakar Kelompok Kriminal Bersenjata. (Foto Dok Humas Polda Papua)
Pagi Berdarah di Ulakin
Sungai Ulakin yang biasanya menjadi sumber kehidupan, pagi itu menjadi saksi bisu kematian. Arusnya membawa tubuh Indra pergi, meninggalkan Maria dalam ketakutan dan kebisuan. Selama berjam-jam, ia hanya duduk di depan rumah, menatap arah sungai, menunggu suaminya muncul di antara arus yang tenang tapi mematikan.
Namun teror belum selesai. Setelah menyeret jasad suaminya ke sungai, kelompok bersenjata itu kembali ke rumah mereka. Salah satu di antara mereka menyalakan api di dinding bambu, lalu menendang pintu dan melemparkan bara dari obor. Dalam hitungan menit, rumah sederhana itu terbakar.
Maria hanya bisa berlari ke semak di belakang rumah, menyaksikan dari jauh bagaimana api menjilat atap daun sagu dan menelan habis setiap kenangan.
“Semua terbakar… pakaian, foto, pakaian bayi, semuanya,” katanya sambil menggenggam abu yang tersisa di tanah. “Rumah itu bukan hanya tempat tinggal. Di situ ada semua cerita hidup kami.”
Api membumbung ke langit, membakar udara pagi yang masih lembap. Tak ada yang berani mendekat. Warga hanya bersembunyi di balik pepohonan, takut akan suara langkah dan amarah bersenjata.
Ketika api akhirnya padam, yang tersisa hanya arang dan keheningan.

Warga di evakuasi pasca terjadinya insiden penembakan di Kampung Ulakin Distrik Kolf Braza Kabupaten Asmat (Foto Dok Humas Polda)
Tiga Hari Pencarian
Hari berganti malam, dan malam berganti hari. Maria tidak tidur. Ia menyalakan api kecil setiap malam, berharap cahaya itu menjadi tanda bagi suaminya untuk pulang.
Tiga hari kemudian, aparat gabungan TNI–Polri yang melakukan penyisiran menemukan jasad Indra sekitar tiga kilometer dari lokasi kejadian. Tubuhnya tersangkut di akar pohon sagu di tepi sungai, sudah membiru dan membengkak, namun masih bisa dikenali.
“Ketika mereka kasih tahu saya… saya tidak bisa berdiri,” kata Maria dengan suara hampir tak terdengar. “Saya hanya bilang, ‘Terima kasih sudah temukan dia.’”
Jenazah kemudian dievakuasi dan dibawa ke pos keamanan terdekat sebelum dimakamkan secara layak. Di sisi makam sederhana itu, Maria duduk sendirian. Angin membawa bau tanah basah dan kehilangan yang dalam.
“Dia mati karena salah paham,” ujar David Jama, saksi selamat yang menyaksikan penyerangan pagi itu.

Aparat keamanan ketika melakukan proses evakuasi jenasah Indra Guruwardana. (Foto Dok Humas Polda Papua)
Suara dari Tanah Luka
Video penembakan dan penyisiran aparat kemudian tersebar di media sosial, memunculkan berbagai reaksi. Namun bagi keluarga korban, tak ada yang bisa mengembalikan nyawa yang sudah terenggut oleh disinformasi dan kebencian.
Danrem 174/ATW Brigjen TNI Andy Setiawan menyampaikan duka mendalam atas kejadian itu. “Ini bukan hanya tragedi bagi keluarga korban, tapi juga bagi bangsa,” ujarnya di Merauke.
“Isu tidak benar, propaganda, dan provokasi adalah peluru lain yang membunuh dari dalam. Masyarakat harus waspada dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi.”
Ia menegaskan, informasi palsu yang disebar oleh provokator menjadi akar dari tragedi Ulakin.
“Almarhum Indra adalah korban disinformasi. Kebenaran datang terlambat, tapi nyawa sudah melayang,” katanya lirih.
Tokoh Pemuda Papua Elisa Boay juga menyampaikan keprihatinannya.
“Tanah ini sudah cukup basah oleh darah,” ucapnya dengan nada getir.
“Kita tidak boleh lagi biarkan kabar bohong menyalakan api. Setiap warga Papua harus jadi penjaga kedamaian, bukan pembawa luka.”
Ia mengingatkan, satu berita bohong bisa menyalakan konflik yang panjang.
“Kalau satu pesan salah bisa membunuh satu orang, bayangkan kalau seribu orang percaya,” katanya tegas.

Danrem 174 ATW Brigjen TNI Andy Setiawan ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)
Menjaga Kebenaran di Tanah Damai
Hari-hari setelah kejadian, suasana duka menjalar ke seluruh Kampung Ulakin. Rumah-rumah berkabung, dan banyak warga memilih meninggalkan kampung. Namun di antara ketakutan itu, suara nurani masih berbicara.
Ketua PWI Papua Selatan Agus Kowo mengatakan media memiliki tanggung jawab moral untuk meredam disinformasi.
“Media harus jadi mata air kebenaran,” ujarnya.
“Jurnalis tidak boleh ikut arus. Di tengah kabut konflik, kebenaran adalah cahaya yang harus dijaga. Kalau kita gagal menulis dengan hati-hati, kita ikut membunuh dengan kata.”
Agus menegaskan pentingnya verifikasi, konfirmasi, dan empati dalam setiap pemberitaan.
“Kita tidak sedang menulis berita semata. Kita sedang menjaga nyawa manusia dengan cara kita menulis,” katanya lagi.
Sementara itu, Maria kini hidup dalam diam. Setelah rumahnya terbakar, ia tinggal menumpang di rumah keluarga jauh. Setiap sore, ia berjalan ke tepi sungai tempat suaminya dibuang, menatap arus yang terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Di tangannya, foto kecil Indra yang sudah mulai pudar.
“Saya tidak tahu harus mulai dari mana,” katanya perlahan. “Saya hanya ingin orang tahu… dia tidak bersalah.”
Sebuah Doa di Tengah Hujan
Malam turun lagi di Ulakin. Hujan rintik-rintik jatuh ke tanah, membawa aroma daun dan sagu yang basah. Di antara suara serangga, terdengar bisikan doa seorang perempuan muda yang baru saja kehilangan separuh jiwanya.
Maria menyalakan lilin kecil. Cahaya kuning menari di matanya yang sayu. Ia berdoa, bukan untuk keadilan, bukan untuk balas dendam, tapi untuk kedamaian.
“Supaya tidak ada lagi yang mati karena berita bohong,” ucapnya.
Suara angin menyapu dinding gubuk. Di luar, langit Asmat gelap tanpa bintang. Tapi di dalam hati Maria, ada cahaya kecil yang tak mau padam, cahaya pengampunan dan harapan.
Konflik di tanah Papua telah menelan banyak korban. Namun di balik angka-angka dan laporan keamanan, selalu ada wajah manusia, ada Maria yang kehilangan suami, rumah, dan tempat pulang.
Ada anak-anak yang tumbuh tanpa ayah, ada air mata yang jatuh di tanah yang sama tempat mereka dilahirkan.
Kebenaran mungkin bisa ditunda, tapi tidak bisa dibungkam.
Di tanah yang hijau, darah kembali tumpah.
Namun selama masih ada yang berani menulis dengan hati, masih ada harapan untuk damai.