Ancaman Demensia Bagi Jemaah Indonesia
- 16 Apr 2026 06:46 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Seorang nenek dengan kulit keriput duduk di depan rumahnya di Merauke, memegang tas kecil yang terus ia buka dan tutup tanpa ingatan yang jelas.
Sesekali ia menatap jauh, seolah mencari sesuatu yang tak lagi ia ingat.
Ia adalah Maryani. Di usia senjanya, ingatan itu kerap hilang datang dan pergi.
Nama, waktu, dan arah pulang sering tak lagi ia kenali. Namun satu hal tetap kuat di hatinya, keinginan untuk berhaji.
Setiap musim haji, tidak sedikit jemaah lansia yang mengalami demensia, perlahan kehilangan ingatan di tengah jutaan manusia.
Banyak di antaranya tersesat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi karena lupa rombongan maupun jalan kembali.
Perjalanan panjang, kelelahan, tekanan mental, hingga culture shock menjadi pemicu. Kondisi kesehatan dan usia membuat ingatan mereka semakin rapuh, terutama tanpa pendamping yang menjaga langkah.
Di sisi Maryani, anaknya, Jajang Rahman, hanya diam menemani, di tengah ingatan yang memudar, namun harapan yang tetap menuju Tanah Suci.
Ingatan dan Iman
“Beta, mau ke sana, ke rumah Allah,” ucap Maryani lirih.
Ia sering lupa jalan pulang. Kadang lupa nama anaknya sendiri. Bahkan ia bisa bertanya hal yang sama berulang kali dalam waktu singkat.
Namun ketika kata “haji” disebut, wajahnya berubah.
Ada keyakinan yang tetap utuh, di tengah ingatan yang runtuh.
“Ibu sering bangun malam, tanya ‘kita sudah sampai belum’ padahal masih di rumah,” kata Jajang.
Demensia telah mencuri banyak hal dari Maryani.
Tapi tidak dengan imannya.
Menjaga Ibu dengan Demensia
Bagi Jajang Rahman, perjalanan haji ini bukan sekadar ibadah.
Ini adalah perjalanan menjaga seorang ibu yang kini hidup dengan demensia.
“Saya takut Ibu bingung di sana, takut terpisah. Tapi saya juga tidak ingin beliau kehilangan kesempatan ini,” ujarnya.
Ia memilih berjalan di samping ibunya,
menjadi pengingat ketika ingatan itu hilang,
menjadi arah ketika jalan itu lupa.
“Kalau bukan sekarang, mungkin tidak akan pernah lagi.”
Pengawasan Rombongan
| Baca juga: Langkah Difabel Menuju Baitullah |
Ketua Rombongan Haji Merauke, Solihin, menyebut kondisi Maryani sudah menjadi perhatian sejak awal.
“Jemaah dengan demensia seperti beliau memang perlu pengawasan khusus,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam pengalaman pelaksanaan haji, cukup banyak jemaah lansia yang tersesat di kawasan Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi akibat penurunan daya ingat.
Di tengah kepadatan jutaan manusia, sebagian jemaah kehilangan arah, lupa rombongan, bahkan kesulitan kembali ke penginapan.
“Karena itu, kami pastikan jemaah seperti Maryani selalu bersama rombongan dan dalam pendampingan,” katanya.
Lansia Prioritas
Di antara deretan nama jemaah haji tahun ini, Maryani bukan sekadar satu dari sekian banyak calon yang akan berangkat.
Ia adalah gambaran tentang bagaimana usia dan keterbatasan menjadi bagian dari perjalanan ibadah yang harus dijaga dengan lebih hati-hati.
Kepala Kantor Kementerian Agama Merauke, Herman Wona, menjelaskan bahwa komposisi jemaah tahun 2026 didominasi oleh kelompok usia yang membutuhkan perhatian lebih.
“Tahun 2026, total jemaah haji dari Merauke dan Mappi sebanyak 100 orang, ditambah 2 orang pendamping. Jemaah termuda berusia 21 tahun dan tertua 80 tahun, tergabung dalam kloter 29,” ujarnya.
Ia merinci, para jemaah dijadwalkan masuk embarkasi Makassar pada 9 Mei 2026, sebelum akhirnya diberangkatkan menuju Jeddah pada 12 Mei 2026.
Sebelum itu, suasana haru akan menyelimuti pelepasan resmi yang digelar Pemerintah Daerah Merauke pada 30 April 2026 di Masjid Raya Al Aqsha Merauke.
Namun di balik rangkaian jadwal yang tersusun rapi, ada perhatian khusus yang tidak bisa diabaikan.
Menurut Herman, jemaah lansia dengan kondisi seperti penurunan daya ingat memiliki risiko tinggi selama berada di Tanah Suci.
“Mereka bisa mengalami kebingungan, tersesat, bahkan terpisah dari rombongan, terutama di tengah padatnya jemaah,” katanya.
Karena itu, kehadiran pendamping bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan.
“Jemaah seperti Maryani harus terus didampingi, sejak keberangkatan hingga kembali ke tanah air,” ujarnya.
Di perjalanan yang panjang itu, para lansia tidak hanya menempuh jarak menuju Tanah Suci, tetapi juga berjalan bersama keterbatasan yang membuat setiap langkah mereka harus dijaga dengan lebih sabar dan penuh perhatian.
Dominasi Haji Lansia
Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menyampaikan bahwa kuota jemaah haji Indonesia tahun 2026 secara nasional mencapai sekitar 221 ribu orang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 22 persen atau lebih dari 48 ribu jemaah merupakan lansia, sehingga pelayanan difokuskan pada kebutuhan kelompok usia lanjut.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan petugas haji untuk mendampingi jemaah.
| Baca juga: Gerobak Kecil, Jalan Panjang ke Baitullah |
Secara nasional, jumlah petugas haji Indonesia tahun 2026 mencapai sekitar 4.418 orang, yang terdiri dari pembimbing ibadah, tenaga kesehatan, serta petugas layanan dan perlindungan.
“Dengan jumlah jemaah yang besar, kehadiran petugas menjadi kunci agar pelayanan berjalan optimal,” ujarnya.
Ia merinci tahapan perjalanan haji:
21 April 2026 jemaah mulai masuk asrama haji.
22 April hingga 6 Mei 2026 pemberangkatan gelombang pertama ke Madinah.
1 hingga 15 Mei 2026 pergerakan dari Madinah ke Mekkah.
7 hingga 21 Mei 2026 pemberangkatan gelombang kedua ke Jeddah.
25 Mei 2026 jemaah diberangkatkan ke Arafah.
26 Mei 2026 puncak ibadah wukuf di Arafah.
28 hingga 30 Mei 2026 hari Tasyrik.
1 hingga 15 Juni 2026 pemulangan gelombang pertama.
16 Juni hingga 1 Juli 2026 pemulangan gelombang kedua.
“Seluruh rangkaian ini disiapkan dengan perhatian khusus bagi jemaah lansia,” katanya.

Ketahanan Biaya di Tengah Gejolak Dunia
Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Fadlul Imansyah, menyoroti dinamika global yang turut mempengaruhi penyelenggaraan ibadah haji.
Menurutnya, isu geopolitik seperti ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat berdampak pada kenaikan harga bahan bakar dunia yang berpotensi meningkatkan biaya haji.
Namun pemerintah memastikan dampak tersebut tidak dibebankan kepada jemaah.
“Pemerintah memastikan kenaikan biaya akibat harga bahan bakar dunia tidak dibebankan kepada jemaah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, justru pada tahun 2026 pemerintah menurunkan biaya haji sekitar Rp2 juta untuk meringankan jemaah.
Di balik kebijakan itu, kepercayaan umat terus bertumbuh.
Sejak 2018 hingga Desember 2025, dana kelolaan haji mengalami peningkatan signifikan hingga mencapai Rp180,72 triliun.
“Kepercayaan umat menjadi fondasi utama dalam menjaga keberlanjutan layanan haji,” katanya.

Layanan dan Subsidi
Anggota Badan Pelaksana (BPKH), Sulistyowati, menjelaskan bahwa keberangkatan jemaah haji tidak lepas dari manfaat besar pengelolaan dana haji, yang bukan hanya meringankan biaya, tetapi juga menghadirkan layanan nyata bagi jemaah, terutama lansia seperti Abdul Majid.
“Biaya penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 mencapai sekitar Rp87,4 juta per jemaah. Namun, jemaah hanya membayar rata-rata Rp54,1 juta. Selisihnya sekitar Rp33,2 juta ditutup dari nilai manfaat dana haji,” jelasnya.
Selain itu, setiap jemaah juga menerima living cost 750 riyal atau sekitar Rp3,5 juta, yang diberikan sebelum keberangkatan untuk kebutuhan pribadi di Tanah Suci, termasuk pembayaran dam.
Namun bagi jemaah lansia, manfaat itu terasa jauh lebih dari sekadar angka.
Sulistyowati merinci layanan yang akan diterima jemaah tahun 2026, yakni layanan yang hadir untuk menjaga setiap langkah mereka, agar tidak tersesat, tidak kelelahan, dan tetap mampu menjalankan ibadah dengan tenang.
Berbagai layanan itu diantaranya :
One stop service di embarkasi
Seluruh proses sebelum keberangkatan dilakukan dalam satu kawasan terpadu. Mulai dari pemeriksaan kesehatan akhir, verifikasi dokumen, pembagian gelang identitas, paspor, hingga penempatan kloter. Jemaah tidak perlu berpindah-pindah tempat, sehingga mengurangi risiko kebingungan, terutama bagi lansia dengan gangguan daya ingat.
Mobil golf bagi lansia
Disediakan di area embarkasi maupun bandara di Arab Saudi. Kendaraan ini membantu jemaah lansia yang tidak mampu berjalan jauh, mengingat jarak antar titik layanan bisa sangat panjang. Pada jemaah dengan demensia, ini membantu mengurangi kelelahan yang dapat memperburuk kondisi kebingungan.
Bus shalawat
Bus ini beroperasi hampir 24 jam untuk mengantar jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram dan kembali lagi. Dengan rute tetap dan petugas pendamping, jemaah tidak perlu berjalan jauh atau mencari arah sendiri.
| Baca juga: Dari Karung Sampah ke Tanah Suci |
Konsumsi tiga kali sehari
Makanan disediakan secara teratur pagi, siang, dan malam, dengan standar gizi yang disesuaikan. Menu juga dibuat ramah bagi lansia.
Hotel layak dan nyaman
Jemaah ditempatkan di hotel dengan fasilitas memadai dan jarak yang relatif dekat dengan pusat ibadah.
Layanan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina)
BPKH mendukung penyediaan tenda ber-AC, konsumsi, hingga transportasi antar titik. Fase ini menjadi salah satu yang paling berat, terutama bagi jemaah lansia dengan kondisi kesehatan terbatas.
“Semua layanan ini kami hadirkan agar jemaah, khususnya lansia dan yang memiliki keterbatasan, tetap bisa menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, dan bermartabat,” ujar Sulistyowati.
Di balik itu semua, ada satu hal yang tidak terlihat,
bahwa setiap layanan itu menjaga seseorang seperti Maryani,
agar tidak tersesat di tengah perjalanan menuju Tuhan.

Manfaat BPKH dan Apresiasi Layanan
Di tengah kekhawatiran yang terus mengintai, Jajang Rahman merasa perjalanan ini tidak ia jalani sendirian.
Ia melihat dan memahami bagaimana layanan yang disiapkan akan membantu menjaga ibunya yang hidup dengan demensia selama di Tanah Suci nanti.
“Living cost itu sangat membantu. Rencananya akan saya gunakan untuk kebutuhan Ibu, termasuk untuk membayar dam di sana,” kata Jajang.
Namun baginya, manfaat itu bukan hanya soal angka.
Ia merasa terbantu dengan sistem one stop service di embarkasi yang akan memudahkan proses keberangkatan tanpa membuat ibunya kebingungan berpindah tempat. Gelang identitas yang akan dikenakan juga menjadi penanda penting jika sewaktu-waktu ingatan itu hilang.
Di Tanah Suci nanti, kehadiran bus shalawat dan mobil golf bagi lansia menjadi harapan besar, agar ibunya tidak harus berjalan jauh atau mencari arah sendiri.
Begitu pula dengan layanan konsumsi tiga kali sehari dan hotel yang layak, yang diharapkan dapat menjaga kondisi fisiknya tetap stabil.
“Yang paling saya rasakan itu rasa aman. Karena ada sistem yang memang dibuat untuk menjaga jemaah seperti Ibu,” ujarnya.
Bagi Jajang, layanan BPKH bukan sekadar fasilitas, tetapi kepastian bahwa ibunya tidak akan dibiarkan sendiri di tengah jutaan manusia.
“Saya sangat berterima kasih. Dengan semua ini, saya merasa tidak sendiri menjaga Ibu,” katanya lirih.
Di perjalanan yang akan mereka tempuh nanti, ada yang ikut menjaga langkah mereka, agar tetap menemukan arah, menuju Tuhan.
Langkah yang Dijaga
Maryani mungkin akan lupa banyak hal.
Demensia perlahan menghapus ingatan yang pernah ia miliki, nama, tempat, bahkan arah pulang.
Namun tidak tujuannya.
Ke Tanah Suci.
Ke hadapan Tuhan.
Mereka akan berangkat pada tanggal 12 Mei 2026.
Dan di perjalanan itu, ada anak yang menjaga, negara yang hadir, dan BPKH yang memastikan,
bahwa bahkan di tengah demensia yang mengikis ingatan,
ia masih bisa menemukan jalannya pulang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....