Gerobak Kecil, Jalan Panjang ke Baitullah

  • 01 Apr 2026 07:43 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Di halaman SD Inpres Polder Merauke, bel istirahat selalu menjadi momen yang paling ditunggu. Anak-anak berhamburan keluar kelas, sebagian berlari, sebagian lagi tertawa riang.

Di antara keramaian itu, sebuah gerobak sederhana berhenti pelan.

Di dalamnya, tersimpan es krim warna-warni yang perlahan mencair di bawah panas matahari Papua.

Dan di balik gerobak itu, berdiri seorang pria dengan wajah teduh, Beni Santoso.

Tak banyak yang tahu, dari tempat sederhana itulah, sebuah perjalanan panjang menuju Tanah Suci dimulai.

Menabung dari Es

Sudah lebih dari satu dekade Beni mendorong gerobak es krim keliling. Setiap pagi, ia menyusuri jalanan di Kabupaten Merauke, berhenti di sekolah-sekolah, terutama di SD Inpres Polder Merauke.

“Kalau bel istirahat bunyi, itu rezeki saya datang,” ucapnya pelan.

Namun rezeki itu tak pernah besar. Satu es krim terjual hanya menghasilkan keuntungan kecil. Kadang dagangannya tak habis, mencair sebelum sempat dibeli.

“Tapi saya tetap jual. Walaupun sedikit, tetap saya syukuri,” katanya.

Dari uang receh itulah, ia mulai menabung.

Bukan untuk membeli rumah. Bukan pula untuk kendaraan.

Melainkan untuk sebuah perjalanan yang terasa sangat jauh, haji.

“Awalnya cuma niat. Saya pikir, kalau terus disimpan, mungkin suatu hari bisa terkumpul,” ujarnya.

Tahun demi tahun berlalu. Panas, hujan, sakit, Lelah, semua ia lewati dengan satu keyakinan yang sama.

Dan kini, pada Mei 2026, nama Beni tercatat sebagai salah satu jemaah haji yang akan berangkat ke Tanah Suci.

Air Mata Anak

Bagi Dendi Budiman, ayahnya bukan hanya seorang pedagang.

Ia adalah simbol keteguhan.

“Saya sering lihat bapak pulang sudah capek sekali. Kadang tidak langsung makan, cuma duduk diam,” kenangnya.

Sebagai anak, Dendi tumbuh dalam keterbatasan. Namun ia tidak pernah merasa kehilangan arah, karena ia melihat perjuangan.

“Bapak itu tidak pernah cerita susahnya. Tapi saya lihat sendiri,” katanya.

Ketika mengetahui ayahnya akan berangkat haji, Dendi sempat terdiam lama.

“Saya tidak menyangka, dari jualan es krim bisa sampai ke sana,” ucapnya dengan suara bergetar.

Air matanya jatuh perlahan, bukan karena kesedihan, tetapi karena kebanggaan yang tak terbendung.

Makna Perjalanan Haji

Kepala Seksi Bimbingan Haji Kementerian Agama Merauke, Amran Al Qasdijal, menyebut kisah Beni sebagai gambaran nyata jemaah Indonesia.

“Banyak jemaah kita berasal dari latar belakang sederhana. Mereka berjuang dalam diam, menabung sedikit demi sedikit,” ujarnya.

Menurutnya, perjalanan haji bukan sekadar soal kemampuan finansial, tetapi juga tentang kesabaran dan ketekunan.

“Siapa pun bisa berangkat, selama ada niat yang kuat dan usaha yang konsisten,” jelasnya.

Akses untuk Semua

Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab dalam memastikan akses ibadah haji bagi seluruh umat Islam.

“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat dari berbagai lapisan, termasuk ekonomi menengah ke bawah, tetap memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji,” ujarnya.

Ia menambahkan, sistem pengelolaan haji terus diperkuat agar semakin adil dan memberikan manfaat luas.

Peran Dana Haji

Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji, Fadlul Imansyah, menjelaskan bahwa pengelolaan dana haji memiliki peran besar dalam membantu jemaah Indonesia, khususnya mereka yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Pada musim haji 2026, Indonesia mendapatkan kuota sebanyak 221.000 jemaah, dengan sekitar 203.320 jemaah merupakan jemaah reguler.

Kelompok jemaah reguler inilah yang selama ini didominasi oleh masyarakat dari latar belakang ekonomi sederhana yang menabung dalam waktu lama untuk bisa berangkat ke Tanah Suci.

“Nilai manfaat dari dana haji kami kembalikan untuk kepentingan jemaah, salah satunya untuk menekan biaya yang harus dibayar agar tetap terjangkau,” ujarnya.

Ia menegaskan, tanpa adanya nilai manfaat dari pengelolaan dana tersebut, beban biaya yang harus ditanggung jemaah akan jauh lebih berat dan berpotensi sulit dijangkau oleh masyarakat kecil.

“Di sinilah peran negara melalui pengelolaan dana haji, agar kesempatan berhaji tetap terbuka bagi seluruh umat, termasuk mereka yang berpenghasilan terbatas,” tambahnya.

Selain itu, pengelolaan dana haji juga digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah Indonesia selama berada di Tanah Suci, mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga transportasi.

Peran ini menjadi penting, karena di balik setiap keberangkatan jemaah seperti Beni, ada sistem yang bekerja dalam diam, memastikan bahwa mimpi mereka tidak berhenti hanya karena keterbatasan ekonomi.

Doa Menuju Baitullah

Suatu hari nanti, halaman SD Inpres Polder Merauke akan terasa lebih sunyi.

Tak ada lagi suara lonceng kecil dari gerobak es krim.

Tak ada lagi sosok Beni yang berdiri di bawah matahari.

Namun kepergiannya bukanlah kehilangan.

Ia sedang berjalan, menuju panggilan yang lebih tinggi.

Dari gerobak kecil yang sederhana, kini langkahnya mengarah ke Baitullah.

Dan dari es krim yang mencair di tangan anak-anak, lahirlah doa-doa yang tak pernah mencair, doa yang kini mengalir jauh, menembus langit, menuju tempat paling suci di muka bumi.

Di balik langkah itu, ada peran yang sering tak terlihat, peran Badan Pengelola Keuangan Haji yang menjaga agar perjalanan ini tetap mungkin bagi orang-orang seperti Beni.

Melalui nilai manfaat dana haji, harapan yang tampak kecil tetap bisa tumbuh.

Negara hadir bukan hanya sebagai penyelenggara, tetapi juga sebagai penjaga mimpi, agar langkah-langkah sederhana dari sudut negeri ini tidak berhenti di jalan, melainkan terus berjalan, hingga sampai ke Tanah Suci.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....