Dari Karung Sampah ke Tanah Suci
- 01 Apr 2026 07:37 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Siti Khadijah berdiri lama di depan sebuah pagar rumah di Kabupaten Merauke. Matanya tertuju pada beberapa botol plastik yang tergeletak di dekat tempat sampah.
Ia melangkah pelan. Menunduk. Tangannya mulai memungut satu per satu.
Namun belum sempat ia memasukkan ke dalam karung, suara keras datang dari dalam rumah.
“Hei, Jangan ko ambil, Ko mau mencuri ya,”
Siti terdiam.
Tangannya berhenti. Ia menunduk, lalu pergi.
Namun langkah itu tidak pernah benar-benar berhenti.
Karena di dalam karung yang ia bawa, bukan hanya sampah yang ia kumpulkan.
Di sana, ia menyimpan harapan.
Dianggap Hendak Mencuri
Bagi Siti Khadijah, menjadi pemulung sampah plastik bukan sekadar pekerjaan.
Itu adalah jalan hidup yang penuh luka.
“Kadang saya dimarahi, dibilang mau mencuri,” ujarnya pelan.
Ia berjalan menyusuri sudut-sudut Kabupaten Merauke, memanggul karung besar di pundaknya.
Namun tak semua tempat bisa ia datangi.
Ada yang menutup pintu. Ada yang langsung mengusir. Ada yang menatap dengan curiga.
| Baca juga: Langkah Difabel Menuju Baitullah |
Padahal yang ia cari hanyalah sampah yang telah dibuang.
Kadang, ia pulang tanpa hasil.
Bukan karena tidak ada plastik.
Tetapi karena ia tidak ingin kembali disalahpahami.
Namun dari semua itu, ia tetap menyisihkan sedikit uang.
Sedikit demi sedikit.
“Tiap dapat uang, saya simpan. Walaupun kecil, tapi saya niatkan untuk haji,” katanya.
Harapan dalam Karung
Di rumah sederhana mereka, Mulyana menunggu.
Ia bukan hanya suami, tetapi juga teman seperjuangan.
Ia juga pemulung. Ia juga pernah diusir.
“Kami menabung sama-sama. Dari hasil memulung,” ujarnya.
Tak ada penghasilan tetap. Kadang sehari hanya cukup untuk makan.
Namun mereka tetap menyisihkan.
“Sedikit tidak apa-apa. Yang penting niatnya tidak berhenti,” katanya.
Bertahun-tahun mereka hidup seperti itu.
| Baca juga: Gerobak Kecil, Jalan Panjang ke Baitullah |
Mengumpulkan dari hal-hal yang dianggap tidak berharga.
Hingga tanpa mereka sadari, harapan itu perlahan tumbuh.
Dan pada Mei 2026, harapan itu akan berangkat ke Tanah Suci.
Jalan Panjang Kesabaran
Kepala Seksi Bimbingan Haji Kementerian Agama Merauke, Amran Al Qasdijal, mengatakan bahwa kisah seperti ini adalah cerminan nyata keteguhan jemaah Indonesia.
“Mereka menabung dalam keterbatasan, bahkan dalam kondisi yang sulit. Ini adalah bentuk kesabaran yang luar biasa,” ujarnya.
Menurutnya, perjalanan haji dimulai jauh sebelum keberangkatan.
“Bagi sebagian orang, perjalanan itu dimulai dari perjuangan hidup sehari-hari,” jelasnya.
Pintu yang Dibuka
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa negara terus berupaya membuka akses ibadah haji bagi seluruh umat Islam.
“Kami ingin memastikan masyarakat dari kalangan ekonomi lemah tetap memiliki kesempatan yang sama untuk menunaikan ibadah haji,” ujarnya.
Menurutnya, keadilan dalam penyelenggaraan haji harus dirasakan oleh semua.
Peran Dana Haji
Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji, Fadlul Imansyah, menegaskan bahwa pengelolaan dana haji menjadi salah satu kunci agar jemaah dari kalangan ekonomi menengah ke bawah tetap memiliki kesempatan untuk menunaikan ibadah haji.
| Baca juga: Kisah Mualaf Menuju Baitullah |
Pada musim haji 2026, Indonesia mendapatkan kuota sebanyak 221.000 jemaah, dengan sekitar 203.320 jemaah merupakan jemaah reguler, yang mayoritas berasal dari masyarakat dengan kemampuan ekonomi terbatas.
“Dana haji yang kami kelola menghasilkan nilai manfaat yang dikembalikan kepada jemaah, sehingga biaya yang harus dibayar menjadi lebih ringan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peran Badan Pengelola Keuangan Haji tidak hanya sebatas mengelola dana, tetapi juga memastikan hasil pengelolaan tersebut benar-benar dirasakan oleh jemaah.
“Ini merupakan bentuk kehadiran negara, agar jemaah dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang menabung dalam waktu lama tetap memiliki kesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci,” tambahnya.
Selain itu, nilai manfaat dana haji juga digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan jemaah selama di Tanah Suci, sehingga mereka tidak hanya bisa berangkat, tetapi juga mendapatkan pelayanan yang layak dan aman.
Dari Luka Menjadi Doa
Langkah Siti Khadijah tidak lagi sama.
Dulu, ia berjalan dari satu tempat sampah ke tempat lainnya.
Kini, ia berjalan menuju Baitullah.
Dari tangan yang pernah dianggap hendak mencuri, kini akan terangkat dalam doa.
Dari langkah yang pernah diusir, kini melangkah karena panggilan suci.
Dan dari luka yang selama ini ia simpan dalam diam, tumbuh harapan yang akhirnya menemukan jalannya.
Mei 2026 akan menjadi saksi.
Bahwa dari sesuatu yang dianggap tak berharga, bisa lahir perjalanan yang begitu mulia.
Dan di balik perjalanan itu, ada peran Badan Pengelola Keuangan Haji yang menjaga agar mimpi orang-orang kecil tidak berhenti di tengah jalan.
Karena terkadang, jalan menuju Baitullah tidak dimulai dari kemewahan.
Melainkan dari karung sampah dan keyakinan yang tidak pernah berhenti.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....