Kisah Dibalik Peluh Petugas Haji

  • 16 Apr 2026 06:40 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : “Labbaikallahumma labbaik” Suara talbiyah itu menggema, pelan namun bergetar, keluar dari bibir Andi Najib saat ia menatap langit yang mulai memerah di ufuk Mina.

Di tengah jutaan manusia yang bergerak, ia tidak hanya datang sebagai tamu Allah. Ia datang sebagai penjaga.

Di pundaknya, bukan hanya tas dan tanggung jawab. Tapi juga manusia lain, yang harus ia jaga, bahkan ketika tubuhnya sendiri mulai goyah.

Andi Najib, petugas haji asal Kabupaten Merauke, kembali terpilih pada tahun 2026. Ini adalah kali kedua ia lolos seleksi petugas haji Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia.

Bagi sebagian orang, ini adalah prestasi. Tapi bagi Andi, ini adalah panggilan.

Panggilan untuk melayani.

Panggilan yang Tak Pernah Mudah

Andi Najib masih mengingat betul pengalamannya pada penugasan pertama tahun 2024. Di tengah lautan manusia, ia menemukan wajah-wajah yang kebingungan, tubuh-tubuh yang kelelahan, dan mata-mata yang kehilangan arah.

“Ada jemaah yang tersesat, ada yang pingsan, bahkan ada yang harus kami gotong,” katanya pelan.

Namun yang paling membekas, adalah saat ia harus menggendong seorang jemaah lansia di tengah padatnya Mina.

Saat itu, panas menyengat, napas terasa berat, dan langkah hampir tak bisa diayunkan. Tapi jemaah itu tak mampu berjalan.

“Saya tidak pikir panjang. Saya gendong,” ujarnya.

Di tengah kerumunan yang tak berhenti bergerak, ia melangkah pelan. Setiap langkah seperti melawan arus manusia.

“Berat, tapi saya cuma ingat satu hal, ini tamu Allah. Saya harus jaga.”

Tak hanya itu, ia juga pernah menghadapi jemaah yang tiba-tiba berteriak tanpa arah, seperti kehilangan kesadaran.

“Ada yang seperti kesurupan. Kami harus tenangkan, pegang, dan pastikan dia aman,” katanya.

Dalam diam, Andi belajar satu hal, menjadi petugas haji bukan soal kuat atau tidak. Tapi soal bertahan, ketika hati diminta untuk terus memberi.

Menunggu dalam Doa

Di Merauke, Mardiana hanya bisa menunggu.

Sebagai istri, ia memahami betul bahwa tugas suaminya bukan tugas biasa. Tapi setiap kali musim haji tiba, ada rasa yang tak pernah benar-benar hilang, cemas.

“Kadang saya tidak bisa tidur. Saya bayangkan dia di sana, di tengah jutaan orang,” katanya.

Ia tahu, suaminya sering lupa menjaga dirinya sendiri.

“Kalau sudah bantu orang, dia lupa capek, lupa makan,” ujarnya lirih.

Namun di balik itu semua, ada kebanggaan yang tak bisa disembunyikan.

“Saya cuma bisa doa, semoga Allah jaga dia, seperti dia jaga orang lain.”

Sosok yang Terpilih untuk Melayani

Kepala Kantor Kementerian Agama Merauke, Herman Wona, menyebut Andi Najib sebagai sosok yang memang layak terpilih kembali.

Menurutnya, tidak semua orang mampu menjalankan tugas sebagai petugas haji dengan sepenuh hati.

“Menjadi petugas haji itu bukan hanya soal kemampuan teknis, tapi juga soal ketulusan dan kepedulian,” ujarnya.

Ia menilai, Andi memiliki jiwa sosial yang tinggi dan telah terbukti dalam penugasan sebelumnya.

“Dia hadir bukan hanya sebagai petugas, tetapi sebagai pelayan jemaah. Itu yang paling penting,” katanya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Merauke Herman Wona saat di wawancarai RRI.(Foto RRI)

Suka Duka di Balik Seragam Petugas

Di tingkat nasional, Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menyampaikan bahwa petugas haji memegang peran yang sangat penting dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Tahun 2026, jumlah petugas haji Indonesia mencapai sekitar 4.418 orang. Jumlah tersebut terdiri dari berbagai unsur layanan yang saling melengkapi dalam memastikan jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman dan lancar.

Dari 4.418 orang petugas haji, terdiri dari :

1.480 orang merupakan petugas kloter (kelompok terbang) yang mendampingi jemaah sejak keberangkatan hingga kepulangan, terdiri dari ketua kloter, pembimbing ibadah, serta tenaga kesehatan.

1.600 orang merupakan petugas layanan umum di Arab Saudi yang bertugas di sektor-sektor pelayanan, termasuk akomodasi, transportasi, konsumsi, serta perlindungan jemaah.

1.038 orang merupakan tenaga kesehatan, yang terdiri dari dokter dan perawat, yang siaga memberikan pelayanan medis selama jemaah berada di Tanah Suci.

Sementara sisanya merupakan petugas pendukung lainnya yang membantu koordinasi, administrasi, serta layanan khusus di berbagai titik krusial.

“Mereka bukan hanya bekerja, tetapi mengabdi. Di balik setiap ibadah jemaah yang berjalan lancar, ada kerja keras petugas yang sering tidak terlihat,” ujarnya.

Ia mengakui, menjadi petugas haji bukan tanpa tantangan.

“Ada kelelahan, tekanan, bahkan risiko kesehatan. Tapi mereka tetap berdiri di depan, memastikan jemaah bisa menjalankan ibadah dengan baik,” katanya.

Menteri Haji dan Umroh Mochamad Irfan Yusuf ketika melepas petugas haji 2026. (Foto RRI)

Layanan yang Menjaga Petugas

Anggota Badan Pelaksana BPKH, Sulistyowati, menjelaskan bahwa pelayanan tidak hanya diberikan kepada jemaah, tetapi juga kepada petugas haji.

“Petugas haji juga mendapatkan manfaat dari pengelolaan dana haji, karena mereka adalah bagian penting dalam pelayanan,” ujarnya.

Petugas memperoleh berbagai fasilitas, seperti tas dan koper, air zamzam, hingga layanan pendukung lainnya.

Selain itu, terdapat layanan baru yang mempermudah seluruh proses perjalanan yakni :

Makkah Route (fast track)

Layanan ini memungkinkan proses keimigrasian Arab Saudi dilakukan sejak di Indonesia. Jemaah dan petugas tidak perlu lagi mengantre panjang setibanya di bandara tujuan. Seluruh proses pemeriksaan dokumen, visa, dan biometrik telah diselesaikan lebih awal, sehingga saat tiba di Arab Saudi, mereka dapat langsung melanjutkan perjalanan menuju hotel atau lokasi tujuan. Hal ini sangat membantu mengurangi kelelahan, terutama setelah perjalanan panjang.

Pembagian kartu nusuk sejak di Indonesia

Kartu nusuk merupakan identitas resmi jemaah dan petugas selama berada di Tanah Suci, yang terintegrasi dengan sistem layanan haji di Arab Saudi. Dengan pembagian sejak di Indonesia, petugas tidak lagi kebingungan saat tiba di sana. Kartu ini memudahkan akses ke berbagai layanan, termasuk masuk ke area Masjidil Haram, transportasi, serta identifikasi jika terjadi kondisi darurat atau jemaah tersesat.

Layanan kepulangan yang lebih mudah (seamless process)

Proses kepulangan dirancang lebih sederhana dan terintegrasi. Pemeriksaan dokumen dan bagasi dilakukan secara efisien tanpa harus melalui banyak tahapan yang melelahkan. Petugas dan jemaah tidak perlu lagi berpindah-pindah lokasi untuk proses administrasi. Semua dibuat dalam satu alur yang cepat dan terkoordinasi, sehingga perjalanan pulang menjadi lebih ringan setelah menjalani rangkaian ibadah yang panjang dan menguras tenaga.

“Semua ini kami siapkan agar petugas dapat fokus melayani tanpa terbebani hal-hal teknis,” katanya.

Jemaah Calon Haji asal Papua ketika memperoleh layanan Makkah Route (Fast Track) saat di Bandar Udara Internasional Hasanudin Makasar. (Foto RRI)

BPKH Raih Happiness Award 2026

Kepala BPKH, Fadlul Imansyah, menyampaikan bahwa komitmen dalam menghadirkan manfaat bagi umat terus diwujudkan melalui berbagai program nyata.

Pada tahun 2026, BPKH meraih Happiness Award dari Rumah Zakat. Penghargaan ini diberikan kepada para mitra yang berperan aktif dalam program pemberdayaan dan kemanusiaan.

Penghargaan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menghadirkan kebahagiaan dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.

“Ini menjadi bentuk apresiasi atas kontribusi BPKH dalam mendukung program kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, peran tersebut sejalan dengan komitmen BPKH dalam menghadirkan manfaat yang luas bagi umat.

Kontribusi BPKH tercermin melalui dukungan terhadap program kemanusiaan, kolaborasi dalam ekosistem kebaikan, serta komitmen pada kebermanfaatan berkelanjutan.

Kepala BPKH Fadlul Imansyah ketika memperoleh penghargaan Happiness Award 2026. (Foto RRI)

Menguat di Tengah Tugas

Bagi Andi Najib, semua fasilitas dan layanan itu sangat membantu.

“Dengan adanya dukungan itu, kami bisa lebih fokus pada jemaah,” katanya.

Namun pada akhirnya, bukan fasilitas yang membuatnya bertahan.

Melainkan panggilan hati.

“Kalau lihat jemaah bisa ibadah dengan tenang, itu sudah cukup,” ujarnya.

Langkah yang Tak Terlihat

Pada 12 Mei 2026, mereka akan berangkat.

Di antara ribuan jemaah, Andi Najib akan berjalan tanpa banyak disorot. Ia bukan pusat cerita. Ia hanya bagian kecil dari perjalanan besar itu.

Namun di saat seseorang tersesat, ia yang mencari.

Di saat seseorang jatuh, ia yang mengangkat.

Di saat seseorang tak mampu berjalan, ia yang memanggul.

Dan di balik semua itu, ada peran besar yang sering tak terlihat.

BPKH, melalui pengelolaan dana haji, menghadirkan layanan yang tidak hanya menjaga jemaah, tetapi juga menguatkan para petugas yang berdiri di garis depan.

Karena perjalanan ini bukan hanya tentang sampai ke Tanah Suci.

Tetapi tentang bagaimana setiap Langkah, baik jemaah maupun petugas, dijaga, dipeluk, dan dimudahkan.

Dan di tengah gema talbiyah yang tak pernah berhenti, ada satu hal yang tetap hidup, bahwa melayani, pada akhirnya, adalah bentuk lain dari ibadah.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....