Penduduk Miskin di Sumut Berkurang 17, 7 Ribu Jiwa pada Maret 2026
- 07 Agt 2026 12:21 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara mencatat jumlah penduduk miskin pada Maret 2026 sebanyak 1,11 juta orang, berkurang sekitar 17,70 ribu orang dibandingkan September 2025. Kepala BPS Sumatera Utara, Asim Saputra mengatakan persentase penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 7,10 persen atau turun 0,14 persen poin dibandingkan September 2025.
“Dengan berbagai catatan dan fenomena, kami mencatat dari data SUSENAS pada Maret 2026 jumlah penduduk miskin Sumatera Utara sebesar 1,11 juta orang atau berkurang sebanyak 17,70 ribu orang dibanding dengan keadaan September 2025," ujarnya, saat rilis Berita Resmi Statistik pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Dalam pembentukan garis kemiskinan Maret 2026, komponen makanan memberikan kontribusi 77,02 persen, sedangkan komponen nonmakanan sebesar 22,98 persen. Asim menyebut beras menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap garis kemiskinan dari kelompok makanan.
“Dari komponen makanan terlihat bahwa komoditas beras memberikan share sebesar 22,28 persen di daerah perkotaan, di wilayah pedesaan lebih tinggi, yakni mencapai 29,44 persen. Setelah beras, rokok kretek filter menjadi komoditas dengan kontribusi berikutnya, yakni 11,19 persen di perkotaan dan 9,74 persen di pedesaan serta telur ayam ras memberikan kontribusi 7,54 persen di perkotaan dan 3,58 persen di pedesaan," ucap Asim.
Untuk komponen nonmakanan, perumahan menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan, dengan kontribusi 6,66 persen di perkotaan dan 5,91 persen di pedesaan.
" Bensin menjadi komponen berikutnya dengan kontribusi 3,31 persen. Sedangkan listrik memberikan kontribusi 3,03 persen di perkotaan dan 1,74 persen di pedesaan," kata Asim.
Dari sisi wilayah, persentase penduduk miskin di perkotaan turun dari 7,16 persen pada September 2025 menjadi 7,05 persen pada Maret 2026. Di pedesaan, persentase penduduk miskin turun dari 7,35 persen menjadi 7,17 persen.
Namun, di tengah penurunan persentase kemiskinan tersebut, BPS mencatat peningkatan indeks kedalaman kemiskinan. Secara keseluruhan, indeks kedalaman kemiskinan meningkat dari 0,89 pada September 2025 menjadi 1,027 pada Maret 2026.
"Indeks kedalaman kemiskinan di pedesaan meningkat dari 0,959 menjadi 1,068, sedangkan di perkotaan naik dari 0,856 menjadi 0,997," ujar Asim.
Menurut Asim, kenaikan garis kemiskinan yang dipengaruhi oleh inflasi belum mampu diikuti dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pada lapisan bawah. Kenaikan harga barang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi tingkat kemiskinan.
“Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan garis kemiskinan karena disumbang oleh inflasi, itu tidak mampu diikuti oleh kenaikan kesejahteraan pada masyarakat lapis bawah kita. Sehingga mereka semakin tertinggal dari garis kemiskinan," katanya.
Selain indeks kedalaman kemiskinan, indeks keparahan kemiskinan juga mengalami peningkatan dari 0,186 pada September 2025 menjadi 0,236 pada Maret 2026. Asim mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan sebaran keparahan kemiskinan semakin melebar.
“Ini menunjukkan bahwa keparahan kemiskinan itu sebarannya semakin melebar dibanding dengan periode yang sama pada September 2025," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....