Menteri PPPA: Angka Kekerasan pada Perempuan Masih Tinggi

  • 25 Apr 2026 18:04 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Arifatul Choiri Fauzi saat menghadiri peringatan Hari Kartini di kantor Gubernur Sumatera Utara, mengungkapkan, perempuan dan anak memiliki posisi yang sangat strategis dalam menentukan masa depan Indonesia. Berdasarkan data nasional, jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 286,7 juta jiwa dengan komposisi perempuan sebesar 49,6 persen, anak-anak mencapai 30,1 persen atau sekitar 88,18 juta jiwa.

"Artinya, lebih dari 40 persen penduduk Indonesia adalah perempuan dan anak-anak. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki posisi yang sangat penting dan strategis,” kata Arifah pada Jumat, 24 April 2026.

Meski demikian, Arifah mengakui masih terdapat kesenjangan gender di Indonesia. Indeks Pembangunan Gender (IPG) tercatat sebesar 91,80 persen, yang menunjukkan adanya peningkatan capaian pembangunan perempuan. Namun, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) masih berada di angka 0,421.

“Ini menandakan masih adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam aspek kesehatan, pemberdayaan, dan partisipasi ekonomi,” kata Arifah.

Di tingkat daerah, ia menyebut IPG Provinsi Sumatera Utara berada di angka 91,5 atau masih di bawah rata-rata nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemajuan yang ada belum merata.

"Peningkatan itu ada, tetapi ketimpangannya juga masih cukup tinggi. Ini tidak bisa diselesaikan sendiri, harus melalui kolaborasi,” ucap Arifah.

Selain isu kesenjangan, Arifah juga menyoroti tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sepanjang tahun 2025 tercatat 35.131 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia, dengan jumlah korban mencapai 37.372 orang, lebih dari 30 ribu korban adalah perempuan.

Angka ini naik cukup signifikan, tetapi ini sebagai pertanda bahwa sosialisasi kita kepada perempuan untuk berani bicara ketika mengalami kekerasan mulai membuahkan hasil. Namun, ini tidak bisa dianggap enteng,” kata Arifah.

Ia menegaskan, peningkatan angka laporan harus menjadi catatan penting bagi pemerintah untuk memperkuat langkah pencegahan.

“Forum seperti seminar ini menjadi salah satu upaya pencegahan, dengan mengajak masyarakat memperkuat diri dari potensi kekerasan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Harapannya, generasi mendatang semakin sadar pentingnya mencegah kekerasan terhadap perempuan,” ucap Arifah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....