Ustaz Hanif: Esensi Puasa Ramadan, Bukan Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga
- 28 Feb 2026 15:48 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan- Ustaz Hanif Fahmi menegaskan bahwa esensi puasa Ramadan tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum penyucian lahir dan batin bagi setiap Muslim. Dalam, Inspirasi Qolbu pro 2 Medan pada Kamis, 26 Februari 2026 ia menyampaikan bahwa Ramadan merupakan waktu pilihan Allah SWT yang memiliki nilai ibadah berbeda dibanding bulan-bulan lainnya.
“Allah memiliki waktu-waktu pilihan-Nya, dan Ramadan adalah di antara waktu terbaik itu. Sehebat apa pun ibadah seseorang di bulan lain, nilainya tidak akan sama dengan ibadah di bulan Ramadan,” ujar Hanif .
Ia menjelaskan, keberkahan Ramadan menjadi bagian dari ujian ketulusan seorang hamba dalam memanfaatkan kesempatan beribadah. Amal saleh yang dilakukan pada waktu pilihan Allah, menurutnya, berdampak besar terhadap pembersihan hati dan kejernihan pikiran.
“Allah menguji kita dengan ketulusan memanfaatkan waktu-waktu pilihan-Nya. Ibadah yang dilakukan di bulan ini berpengaruh pada pembersihan hati, sehingga pikiran menjadi jernih dan aktivitas lebih positif sesuai aturan Allah,” kata Hanif.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa puasa memiliki dimensi zahir dan batin. Secara fikih, puasa memang sah ketika seseorang menahan diri dari hal-hal yang membatalkan. Namun, menurutnya, kesempurnaan puasa tidak berhenti pada aspek lahiriah semata.
“Kalau hanya berhenti pada sisi zahir, puasanya sah. Tapi faedahnya tidak sempurna. Seperti ibadah lain, puasa juga memiliki sisi batin yang harus diperhatikan,” ucap Hanif.
Mengutip hadis Rasulullah SAW, ia mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga. Hal ini terjadi ketika puasa tidak diiringi penjagaan anggota tubuh dan hati dari perbuatan dosa.
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga. Karena puasanya hanya pada tenggorokan dan perutnya,” ujar Hanif.
Ustaz Hanif Fahmi juga menjabarkan bahwa puasa sejati adalah menahan seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Tangan, lisan, mata, telinga, hingga hati harus turut berpuasa dari kezaliman dan dosa.
“Lisannya berpuasa dari dosa-dosa lisan, matanya berpuasa dari melihat yang tidak diridai Allah, pendengarannya berpuasa dari hal-hal yang tidak diridai Allah, bahkan hatinya berpuasa dari hasad, ria, dan kesombongan,” kata Hanif.
Ia mengakui bahwa menjaga hati dari penyakit seperti iri, dengki, dan merasa lebih hebat dari orang lain bukan perkara mudah. Namun, hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil selama ada kesungguhan dalam mendekatkan diri kepada Allah.
“Bukan hal yang mudah dikerjakan tapi bukan sesuatu yang mustahil. Allah ingin kita menjadi hamba yang totalitas dalam mendekatkan diri kepada-Nya,” kata Hanif.
Di akhir tausiah, ia mengajak umat Islam untuk memanfaatkan Ramadan sebagai momentum terbaik meraih keridaan Allah SWT dan kebahagiaan dunia akhirat.
“Mari manfaatkan nikmat Ramadan ini dengan sebaik-baiknya. Jadikan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sarana meraih keridaan Allah dan kebahagiaan hidup di dunia serta akhirat,” ucap Hanif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....