NTP Sumut Maret 2026 Naik di tengah Kondisi Deflasi

  • 05 Apr 2026 15:42 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Nilai tukar petani (NTP) Provinsi Sumatera Utara pada Maret 2026 tetap menunjukkan kinerja positif di tengah kondisi deflasi. Kepala BPS Sumut, Asim Saputra, mengatakan meski terjadi penurunan harga secara umum, kesejahteraan petani justru mengalami peningkatan.

“Jadi ketika kita mengalami deflasi di Maret, ternyata nilai tukar petani kita tetap tumbuh baik. Indeks harga yang diterima petani naik sebesar 1,48 persen, sehingga indeksnya mencapai 195,50," ujar Asim, Rabu 1 April 2026.

Asim menyebut kenaikan ini dipicu oleh sejumlah komoditas unggulan. Seperti kelapa sawit, karet, jeruk, padi, gabah, sapi potong, dan ikan tongkol yang mengalami kenaikan harga.

"Komoditas penyumbang pada indeks harga yang diterima petani adalah kenaikan harga kelapa sawit, karet, jeruk, harga padi, gabah, sapi potong, dan ikan tongkol," kata Asim.

Di sisi lain, indeks harga yang dibayar petani justru mengalami penurunan sebesar 0,41 persen dengan indeks tercatat 124,39. Penurunan ini dipengaruhi oleh turunnya harga beberapa komoditas dan input produksi, di antaranya cabai merah, tomat, cabai rawit, serta pupuk seperti urea dan NPK.

"Jadi dengan naiknya indeks harga yang diterima petani dan turunnya indeks harga yang dibayar petani ,maka nilai tukar petani kita naik 1,90 persen menjadi 157,16," ucap Asim.

Secara subsektoral, seluruh sektor pertanian mencatatkan kenaikan NTP. Tanaman pangan meningkat 0,73 persen, hortikultura 0,46 persen, perkebunan rakyat 2,72 persen peternakan 0,56 persen, dan perikanan 1,14 persen.

Asim menambahkan, nilai tukar usaha pertanian (NTUP) juga mengalami peningkatan sebesar 2,11 persen menjadi 160,50. Kenaikan ini terjadi karena penurunan biaya produksi sebesar 0,61persen seiring meningkatnya indeks harga yang diterima petani.

“NTUP subsektor juga meningkat di seluruh sektor. Dengan perkebunan rakyat naik 3,57 persen, tanaman pangan 0,45 persen, hortikultura 0,13 persen, peternakan 0,16 persen dan perikanan 0,73 persen,” ujar Asim.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....