Rupiah Tertekan, Daya Tarik Wisata Indonesia bagi Turis Asing Menguat

  • 09 Jun 2026 20:19 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura (SGD) dan ringgit Malaysia (MYR) berpotensi menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dari kedua negara ke Indonesia, termasuk ke Sumatera Utara.

Menurutnya, tren pelemahan rupiah terhadap SGD dan MYR sebenarnya telah berlangsung dalam satu tahun terakhir. Meski sempat menguat pada akhir Maret saat konflik antara Iran dan Amerika Serikat memicu gejolak pasar global, rupiah kembali mengalami tekanan dalam beberapa bulan terakhir.

"Saat ini satu dolar Singapura berada di kisaran Rp14.020, sementara satu ringgit Malaysia berada di level Rp4.490," kata Gunawan, Minggu, 7 Juni 2026.

Ia menjelaskan, pelemahan rupiah membuat nilai tukar mata uang asing menjadi lebih kuat ketika dibelanjakan di Indonesia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya beli wisatawan asing sehingga biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah.

"Kondisi ini bisa menjadi salah satu alasan meningkatnya kunjungan wisatawan dari Malaysia dan Singapura ke Indonesia," ujarnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, jumlah wisatawan asal Malaysia yang datang ke Sumut pada April 2026 meningkat 30,56 persen secara bulanan. Sementara jumlah wisatawan asal Singapura naik 0,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Menurut Gunawan, pertumbuhan wisatawan asal Malaysia pada April 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada April 2025, kunjungan wisatawan Malaysia tercatat tumbuh 16,28 persen secara bulanan.

"Data tersebut menunjukkan pelemahan rupiah berpotensi menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan kunjungan wisatawan dari negara tetangga," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa nilai tukar bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi keputusan wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.

Sebagai perbandingan, jumlah wisatawan asal Singapura pada periode Januari hingga April 2026 justru turun 1,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, wisatawan asal Malaysia meningkat 12,45 persen pada periode yang sama.

Gunawan menilai faktor daya beli masyarakat di negara asal wisatawan juga perlu diperhatikan. Selain itu, kondisi ekonomi global yang terdampak ketegangan geopolitik serta biaya transportasi turut memengaruhi minat perjalanan wisata.

"Kita tidak bisa hanya menjadikan pelemahan rupiah sebagai satu-satunya alasan meningkatnya kunjungan wisatawan. Kondisi ekonomi masyarakat di negara asal dan harga tiket pesawat juga menjadi faktor penting yang menentukan," ucapnya.

Ia menambahkan, harga tiket penerbangan menuju Malaysia dan Singapura hingga saat ini masih relatif lebih kompetitif dibandingkan sejumlah rute penerbangan domestik, sehingga turut mendukung mobilitas wisatawan antarnegara di kawasan Asia Tenggara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....