Screening Kanker Paru Dinilai Penting untuk Deteksi Dini

  • 24 Mei 2026 16:05 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Dokter spesialis paru, dr. Herani Mutia Riandini, Sp.P, mengatakan screening kanker paru penting dilakukan sejak usia 40 tahun, terutama bagi masyarakat yang memiliki faktor risiko seperti perokok aktif, perokok pasif, memiliki riwayat keluarga kanker, hingga bekerja di lingkungan dengan paparan zat berbahaya.

dr. Herani menjelaskan paru-paru memiliki fungsi utama sebagai organ respirasi yang berperan dalam pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Selain itu, paru-paru juga berfungsi sebagai pertahanan tubuh, metabolisme, serta membantu menyaring mikro emboli kecil dalam darah.

Menurutnya, kanker paru dapat dipicu faktor genetik yang kemudian diperberat paparan asap rokok, asap pembakaran, maupun zat berbahaya lainnya yang merusak sel di paru-paru hingga berubah menjadi sel ganas.

“Ketika kita punya genetik, kemudian kita mempunyai paparan, itu tidak sempat untuk memperbaiki sel-sel itu. Sehingga tumbuhlah tumor paru atau kanker paru di dalam paru-paru,” ujarnya.

Ia mengatakan faktor risiko kanker paru paling banyak ditemukan pada laki-laki akibat kebiasaan merokok. Selain itu, perempuan juga dapat mengalami kanker paru akibat menjadi perokok pasif dari asap rokok di lingkungan sekitar.

“Paling banyak kanker paru pada laki-laki dan hampir 80 persen karena merokok,” ucap dr. Herani.

dr. Herani juga menjelaskan gejala kanker paru umumnya berupa batuk lama, sesak napas, nyeri dada, batuk darah, penurunan berat badan, hingga tidak nafsu makan. Namun, banyak masyarakat datang berobat saat stadium kanker sudah lanjut.

“Hebatnya orang Indonesia, dia bisa menahan sakitnya. Walaupun sakit dada sampai sesak, kadang-kadang ditahan, dia tetap bekerja. Harapannya dengan dia bekerja, dia melupakan sakitnya,” ucapnya.

Ia menambahkan screening kanker paru dapat dilakukan melalui pemeriksaan foto rontgen untuk melihat adanya nodul pada paru-paru. Jika ditemukan kelainan, pasien akan menjalani CT scan toraks dengan kontras untuk memastikan ukuran tumor dan keterlibatan kelenjar getah bening.

“Ketika dia sudah mempunyai faktor risiko itu, sebenarnya baiknya kita sudah periksa, tidak menunggu sampai ada keluhan,” kata dr. Herani.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....