Cotton Bud Berpotensi Tingkatkan Risiko Sumbatan Telinga

  • 08 Feb 2026 12:10 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Banyak masyarakat masih menggunakan cotton bud atau korek telinga dengan ujung berbahan kapas untuk membersihkan kotoran di telinga. Penggunaan cotton bud tidak dianjurkan karena justru berisiko menimbulkan sumbatan pada telinga yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran.

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia (Perhati-KL) Yussy Afriani Dewi mengatakan, kotoran telinga atau serumen dapat menyebabkan gangguan pendengaran akibat sumbatan (oklusi) pada liang telinga, mulai dari tingkat yang ringan sampai berat. Masalah sumbatan akibat serumen ini mencapai 7-35 persen di seluruh dunia.

”Angka (masalah serumen) tertinggi ditemukan pada anak-anak dan kelompok lansia. Hal ini disebabkan karena faktor kebiasaan yang tidak tepat, termasuk menggunakan korek kuping atau cotton bud,” ucapnya.

Menurut Yussy, penggunaan cotton bud justru dapat berisiko menyebabkan sumbatan di telinga akibat penumpukan serumen. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kemampuan pendengaran sebesar 5-10 desibel.

Berdasarkan laporan Perhati-KL pada 2023, masalah sumbatan akibat serumen ditemukan pada 30-50 persen anak usia sekolah dasar. Masalah ini pula yang paling banyak dirujuk ke poli THT (telinga, hidung, tenggorokan) dalam layanan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Ia menambahkan, serumen atau kotoran telinga berasal dari kelenjar di telinga yang letaknya sepertiga di bagian luar telinga. Serumen ini sebenarnya punya manfaat untuk memproteksi atau melindungi telinga dari infeksi, kotoran, ataupun benda asing dari luar telinga.

Normalnya, serumen dapat keluar secara spontan dari liang telinga saat seseorang menggerakkan rahang, baik ketika berbicara ataupun mengunyah. Rambut-rambut halus yang ada di telinga bagian luar akan menyapukan serumen atau kotoran telinga ke arah luar.

Karena itu, jika menggunakan cotton bud yang memiliki diameter hampir sama dengan lubang telinga, serumen justru akan terdorong ke arah yang lebih dalam. Padahal, (di bagian dalam) tidak ada rambut-rambut halus sehingga terjadi sumbatan

Gangguan Telinga

Yussy menuturkan, ada berbagai macam jenis gangguan pendengaran. Tercatat ada sekitar 430 juta penduduk dunia yang mengalami gangguan telinga. Penyakit utama penyebab gangguan pendengaran antara lain gangguan pendengaran kongenital yang terjadi sejak lahir, serumen, infeksi telinga tengah, presbiakusis atau gangguan pendengaran yang terjadi seiring bertambah usia, serta gangguan pendengaran akibat bising.

Gangguan pendengaran yang terjadi pada seseorang tidak bisa disepelekan. Dampak gangguan pendengaran bisa sangat luas yang bisa menyebabkan gangguan bicara dan komunikasi, gangguan perkembangan kognisi, penurunan kesempatan belajar dan bekerja, serta menurunkan fungsi sosial dan emosional. Selain itu, sektor ekonomi juga bisa terdampak akibat penurunan produktivitas dan pengeluaran biaya untuk kesehatan.

Karena itu, Yussy mengatakan, pencegahan dan identifikasi gangguan pendengaran sejak dini sangat penting. Pencegahan perlu dilakukan mulai dari masa kehamilan sampai usia lanjut. Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan pemberian imunisasi, konseling genetik, dan pengendalian kebisingan di tempat kerja dan lingkungan tempat tinggal.

Sementara untuk identifikasi juga bisa dilakukan pada seluruh siklus kehidupan. Penapisan gangguan pendengaran perlu dilakukan pada bayi baru lahir, pemeriksaan pada anak prasekolah dan sekolah, pada orang dewasa yang terpapar risiko kebisingan di tempat kerja, serta pemeriksaan pada warga lansia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....