Apa Itu Demam Tifoid? Kenali Penyebab, Gejala, dan Pencegahannya
- 26 Apr 2026 23:25 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Demam tifoid atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai tipes masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang perlu diwaspadai di Indonesia. Penyakit ini tidak hanya sering terjadi, tetapi juga berpotensi menimbulkan kondisi serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Otneil Karnianta, M.Ked(PD), Sp.PD., menjelaskan demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi yang menyerang saluran pencernaan. Penyakit ini bersifat endemis, artinya dapat terjadi sepanjang tahun di Indonesia.
“Demam tifoid ini bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Memang tidak sulit ditangani, tetapi jika terlambat, bisa menjadi fatal,” ujar dokter Otneil.
Ia menjelaskan, penularan tifoid umumnya terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi, air yang tidak bersih, serta kebiasaan tidak mencuci tangan. Selain itu, lalat juga dapat menjadi perantara penyebaran bakteri ke makanan yang dikonsumsi.
Gejala demam tifoid memiliki ciri khas yang berbeda dengan demam biasa. Salah satunya adalah pola demam yang meningkat secara bertahap, terutama pada sore hingga malam hari, dan tidak kembali ke suhu normal.
“Demamnya itu naik seperti anak tangga. Selain itu biasanya disertai gangguan pencernaan seperti mual, muntah, nyeri perut, diare atau justru sembelit,” katanya.
Dalam kondisi yang lebih berat, infeksi tifoid dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penurunan kesadaran hingga kerusakan pada usus yang bisa berujung pada kebocoran dan memerlukan tindakan operasi.
Menurut dr. Otneil, siapa pun berisiko terkena tifoid, mulai dari anak-anak hingga lansia. Namun, kelompok dengan daya tahan tubuh rendah seperti anak-anak dan orang tua memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi yang lebih berat.
Ia mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam lebih dari tiga hari. Hal ini penting untuk memastikan diagnosis dan mendapatkan penanganan yang tepat.
“Kalau demam lebih dari tiga hari, sebaiknya segera diperiksa. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk,” ucap dokter Otneil.
Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap kebersihan diri dan lingkungan sebagai langkah pencegahan utama terhadap demam tifoid.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....