Menelisik Rumah tanpa Cahaya, Buku Penyesalan yang Mendalam

  • 29 Sep 2026 16:22 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan – Cahaya satu-satunya dalam hidup keluarga Jdorkasa sudah pergi. Rumah yang dulu ditinggalkan sosok yang mereka benci bukannya jadi tenang, malah makin ribut dan penuh pertengkaran.

Novel "Rumah Tanpa Cahaya" karya penulis muda Len Liu ini adalah lanjutan dari novel sebelumnya, "Rumah untuk Alie". Ceritanya berfokus pada kondisi keluarga Jdorkasa setelah kepergian Alie Ishala Samantha, gadis yang selama ini mendapat perlakuan buruk dari ayah dan empat kakak laki-lakinya.

Alie adalah anak bungsu dari Abimanyu dan Gianla. Namun sejak ibunya, Gianla, meninggal beberapa tahun lalu, Alie dituduh sebagai penyebab kematiannya. Sejak itu ia sering dipukuli ayahnya dan diperlakukan semena-mena oleh keempat kakaknya yaitu Sadipta, Rendra, Samuel, dan Natta.

Abimanyu sendiri pulang kerja selalu dalam kondisi mabuk, sementara empat kakak Alie memendam benci yang membuat mereka terus berkonflik dengan diri sendiri.

Puncaknya, Alie kabur dari rumah tanpa pamit setelah dipaksa mendonorkan darah untuk kakaknya, Sadipta. Kepergiannya membuat rumah keluarga Jdorkasa terasa kosong dan dingin. Setiap hari hanya ada pertengkaran dan suasana gelap yang tidak pernah benar-benar hilang. Rendra bahkan mengakui bahwa rumah mereka seperti kehilangan cahaya setelah Alie pergi.

Abimanyu, Sadipta, Rendra, dan Samuel awalnya tidak peduli Alie pergi. Tapi lama-kelamaan mereka merasakan betul bahwa rumah jadi sepi dan hampa tanpa kehadirannya. Hanya Natta yang sejak awal merasa sangat menyesal. Ia sadar dulu dia salah karena ikut memperlakukan Alie dengan buruk. Sayangnya, kesadaran itu datang terlambat dan Alie sudah pergi.

Setelah Alie pergi, Abimanyu makin kehilangan arah dan makin sering mabuk. Sadipta terjebak dalam rasa marah dan mati rasa, Rendra tidak nyaman melihat rumah tanpa Alie, Samuel bingung melihat pertengkaran yang tidak ada habisnya, dan Natta terus dihantui rasa bersalah.

Tema utama novel ini adalah keluarga yang retak karena penyesalan. Pembaca dibuat ikut terbawa emosi, terutama ketika melihat usaha Natta mengajak ayah dan kakaknya untuk mencari Alie dan membawanya pulang. Ada juga beberapa dialog yang terasa vibesnya dan menyentuh, terutama saat pertengkaran antara Sadipta dan Natta.

Novel ini menarik karena mengangkat konflik keluarga yang berantakan setelah kehilangan seseorang yang menjadi cahaya di rumah. Cover-nya pun cantik, dengan warna yang pas dan ilustrasi karakter yang membuat pembaca penasaran. Ada gambar wajah tokoh dan ilustrasi menarik di dalamnya.

Meski begitu, novel ini cukup banyak berisi quotes sehingga dialog antartokoh terasa kurang. Di awal cerita juga agak membingungkan karena konflik langsung muncul tanpa penjelasan mendalam. Karena itu lebih baik baca "Rumah untuk Alie" terlebih dahulu supaya paham jalan ceritanya.

Novel ini cocok untuk semua kalangan, terutama bagi pembaca yang suka kisah keluarga, penolakan, dan penyesalan. Pesan utama yang ingin disampaikan adalah supaya kita lebih peka pada perasaan saudara sendiri, jangan sampai menyesal ketika mereka pergi.

Novel ini mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hubungan keluarga dan tidak membenci anggota keluarga sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....