Harga Minyak Bayangi Pasar, Rupiah dan IHSG Ditutup Melemah

  • 25 Jul 2026 12:19 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan lonjakan harga minyak mentah dunia masih menjadi sentimen utama yang membayangi pasar keuangan pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026. Kekhawatiran terhadap potensi kenaikan inflasi global membuat nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah.

Menurut Gunawan, rupiah ditutup melemah ke level Rp17.935 per dolar Amerika Serikat setelah sempat menyentuh posisi terendah harian di Rp17.994 per dolar AS. Meski sempat berbalik menguat hingga ke level Rp17.920 pada sesi perdagangan kedua, rupiah tetap ditutup lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya. Di kawasan Asia, dolar Amerika Serikat juga terpantau menguat terhadap sejumlah mata uang, termasuk dolar Hong Kong dan yuan China.

Sementara itu, IHSG ditutup melemah 1,88 persen ke level 6.196,430 setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah harian di 6.159. Menurut Gunawan, selama sesi perdagangan berlangsung rupiah dan IHSG sama-sama bergerak di zona merah di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia.

"Pelaku pasar masih mengkhawatirkan dampak dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh 100 dolar AS per barel," ujarnya.

Gunawan menjelaskan, harga minyak mentah Brent pada perdagangan sore sempat turun ke kisaran 97 dolar AS per barel. Namun, pasar masih mencermati perkembangan geopolitik yang dinilai berpotensi kembali mendorong harga minyak ke atas level psikologis 100 dolar AS per barel.

Menurutnya, ekspektasi kenaikan inflasi masih akan membayangi pasar dalam sepekan ke depan sehingga memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga acuan global.

Di sisi lain, harga emas dunia mulai menunjukkan pemulihan ke level 4.060 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,35 juta per gram. Penguatan tersebut terjadi seiring turunnya harga minyak mentah dari level 100 dolar AS menjadi sekitar 97 dolar AS per barel.

"Apabila eskalasi perang semakin memburuk dan meluas, secara fundamental kondisi tersebut akan kembali menguntungkan harga emas," kata Gunawan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....