Pengelolaan Fiskal Jadi Sorotan, Rupiah Melemah Dekati 17.200
- 17 Apr 2026 12:23 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai sentimen global pada perdagangan Jumat, 17 April 2026 masih bercampur antara kabar meredanya tensi geopolitik dan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Menurutnya, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut perang di Iran akan segera berakhir, serta kesepakatan gencatan senjata sementara antara Israel dan Lebanon, memberi harapan positif bagi pasar keuangan.
“Pelaku pasar menyambut baik sinyal meredanya konflik, namun masih menunggu kesepakatan konkret dari pihak-pihak terkait. Karena itu respons pasar masih cenderung terbatas,” ujar Gunawan.
Meski demikian, harga minyak mentah dunia justru bergerak naik. Minyak Brent diperdagangkan di kisaran 98,3 dolar AS per barel, sedangkan WTI berada di sekitar 93 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi ini menekan mayoritas bursa saham di Asia.
IHSG pada sesi pembukaan justru bergerak menguat di level 7.645, meski dinilai rawan mengalami koreksi apabila tekanan dari bursa regional berlanjut sepanjang sesi perdagangan.
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah kembali melemah ke level 17.170 per dolar AS. Pelemahan terjadi di tengah perhatian lembaga pemeringkat S&P terhadap risiko penurunan rating kredit Indonesia.
“Peringatan S&P soal beban bunga utang dan subsidi energi menjadi sentimen negatif bagi Rupiah. Pasar melihat pengelolaan fiskal sebagai isu penting yang harus direspons serius,” ucapnya.
Sementara itu, harga emas dunia turun ke kisaran 4.790 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,65 juta per gram. Penurunan emas dipicu kenaikan harga minyak dan sikap hati-hati investor menjelang lanjutan negosiasi Iran dan Amerika Serikat.
Gunawan menambahkan, tensi geopolitik di Timur Tengah masih berpotensi menciptakan tekanan di pasar keuangan, sehingga volatilitas diperkirakan masih tinggi dalam waktu dekat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....