Gencatan Senjata Terancam Bubar, IHSG dan Rupiah Kembali Tertekan

  • 09 Apr 2026 09:50 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatra Utara, Gunawan Benjamin menyebut, tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menuding Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata.

“Kondisi ini langsung direspons pasar, terutama harga minyak mentah yang bergerak stabil namun cenderung naik,” ujar Gunawan, Kamis, 9 April 2026.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate dan Brent saat ini diperdagangkan di kisaran 96,6 dolar AS per barel.

Ia menambahkan, tekanan juga terjadi di pasar saham. Mayoritas bursa Asia melemah, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang dibuka turun ke level 7.238.

“Pasar saham tertekan karena kekhawatiran investor terhadap rapuhnya kesepakatan damai antara AS dan Iran,” katanya.

Selain faktor geopolitik, sentimen juga datang dari kebijakan moneter global. Risalah rapat Federal Reserve membuka peluang kenaikan suku bunga acuan.

“Kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi, sehingga mengurangi peluang The Fed untuk tetap dovish dan justru membuka ruang kenaikan suku bunga,” ucapnya.

Sementara itu, nilai tukar Rupiah pada perdagangan pagi ini melemah ke kisaran 17.020 per dolar AS. Gunawan menyebut pelemahan Rupiah mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi global yang belum stabil.

Di sisi lain, harga emas dunia masih relatif stabil di level 4.713 dolar AS per troy ons atau sekitar 2,59 juta rupiah per gram.

“Ke depan, pergerakan emas dan pasar keuangan masih akan volatil, seiring ketidakpastian geopolitik yang berpotensi memburuk jika gencatan senjata gagal dipertahankan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....