Harga Tiket Pesawat Melonjak, Efek Multiplier Tekan Banyak Sektor Ekonomi

  • 08 Apr 2026 20:33 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan lonjakan harga tiket pesawat belakangan ini tidak terlepas dari dampak konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

“Lonjakan harga minyak mentah yang sempat bertahan di atas 100 dolar AS per barel telah memicu kenaikan harga avtur secara signifikan, bahkan mencapai sekitar 70 persen,” ujar Gunawan, Rabu, 8 April 2026.

Kenaikan biaya bahan bakar tersebut berdampak langsung pada harga tiket pesawat. Berdasarkan penelusuran, tarif rute Jakarta–Medan kini berada di kisaran Rp2,5 juta untuk sekali perjalanan.

Meski demikian, pemerintah hanya mengizinkan kenaikan tarif tiket pesawat maksimal sebesar 13 persen. Sejumlah kebijakan juga telah diberikan untuk menahan lonjakan harga, seperti insentif penyediaan suku cadang, keringanan pajak, hingga penyesuaian biaya tambahan (fuel surcharge).

Gunawan menilai, kenaikan harga tiket pesawat tidak hanya berdampak pada industri penerbangan, tetapi juga memicu efek berantai (multiplier effect) ke berbagai sektor ekonomi.

“Kenaikan harga tiket ini berpotensi mendorong inflasi, meskipun saya memperkirakan dampaknya tidak lebih dari 0,27 persen. Namun efek lanjutan ke sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, hingga kuliner justru jauh lebih besar,” ucapnya.

Selain itu, mahalnya harga tiket diperkirakan akan menekan jumlah penumpang maskapai. Meski kenaikan tarif terjadi secara global, sehingga tidak serta-merta mengubah daya saing penerbangan domestik terhadap luar negeri.

“Karena kenaikan harga tiket terjadi secara serentak, maka daya saing relatif tidak berubah. Namun potensi penurunan jumlah penumpang hampir di semua maskapai tetap ada,” kata Gunawan.

Saat ini, harga minyak mentah dunia memang sudah mulai turun ke bawah 100 dolar AS per barel. Namun, dampaknya terhadap harga avtur belum dapat dirasakan dalam waktu cepat karena masih mengacu pada harga Mean of Platts Singapore (MOPS).

Di sisi lain, kesepakatan gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran selama dua pekan dinilai belum cukup memberikan kepastian.

“Gencatan senjata ini masih bersifat temporer dan menyisakan ketidakpastian. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kinerja maskapai ke depan, sehingga pemulihan industri penerbangan dalam jangka panjang masih belum bisa dipastikan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....