Emas Naik, Rupiah dan IHSG Melemah di tengah Tekanan Defisit
- 07 Apr 2026 06:15 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyoroti pergerakan pasar keuangan yang cenderung tertekan pada awal pekan ini. Kondisi ini terjadi di tengah kabar defisit APBN yang membengkak, serta dinamika geopolitik global.
“Harga emas kembali naik di atas 4.700 dolar AS per ons troy, didorong spekulasi pasar terkait peluang gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran,” ujarnya, Senin 6 April 2026.
Ia menjelaskan, pelaku pasar saat ini bertaruh pada kemungkinan tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama 45 hari, yang tengah dibahas oleh sejumlah pihak termasuk negara mediator. Sentimen tersebut mendorong harga emas naik ke level 4.702 dolar AS per ons troy, atau sekitar Rp2,58 juta per gram.
Namun, sentimen positif tersebut tidak cukup kuat mengangkat kinerja pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup melemah 0,53 persen ke level 6.989,426, mengikuti tren pelemahan bursa di kawasan Asia.
“IHSG masih berada di zona merah, karena terbebani sentimen global dan pelemahan rupiah,” kata Gunawan.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan dan ditutup melemah di level Rp17.030 per dolar AS. Sepanjang 2026, rupiah sebenarnya beberapa kali mampu bertahan dan bergerak stabil di kisaran Rp17.000.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah kali ini tidak hanya berasal dari faktor eksternal seperti eskalasi konflik global, tetapi juga dari dalam negeri. Terutama terkait membengkaknya defisit APBN yang mencapai Rp240 triliun.
“Tekanan eksternal dan sentimen defisit APBN menjadi kombinasi yang membebani rupiah pada perdagangan saat ini,” ucapnya.
Gunawan menambahkan, ke depan pergerakan pasar keuangan domestik akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global. Serta respons kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....