Pasar Keuangan Masih Alami Tekanan Besar di Awal Pekan

  • 16 Mar 2026 20:32 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kenaikan harga minyak mentah dunia masih menjadi tekanan utama bagi pasar keuangan domestik.

“Harga minyak mentah dunia jenis Brent masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Pernyataan Presiden Amerika Serikat yang mengancam akan menyerang infrastruktur pendukung ekspor minyak Iran membuat harga minyak mentah dunia bertahan mahal sejauh ini,” ujar Gunawan, Senin, 16 Maret 2026.

Menurutnya, penguatan harga energi global tersebut turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan kinerja pasar saham Indonesia.

Pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup melemah di kisaran Rp16.985 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, rupiah bahkan sempat beberapa kali mencoba menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, namun tertahan di sekitar Rp16.995.

Gunawan menjelaskan, tekanan terhadap pasar keuangan domestik tidak terlepas dari konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah yang memicu ketidakpastian global.

Selain rupiah, indeks harga saham gabungan (IHSG) juga mengalami pelemahan. Pada perdagangan hari ini IHSG ditutup turun sekitar 1,61 persen ke level 7.022,288.

Ia menilai level psikologis 7.000 menjadi batas penting bagi pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Secara teknikal, level tersebut berpotensi menahan tekanan yang berasal dari pelemahan bursa saham global.

Di sisi lain, harga emas dunia relatif bertahan di kisaran 5.000 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,75 juta per gram.

Gunawan mengatakan, emas sejauh ini masih mampu bertahan di tengah tekanan yang dipicu oleh lonjakan harga komoditas energi.

Dalam jangka pendek, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap arah kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara.

Namun dalam jangka menengah hingga panjang, jika sentimen yang memicu kenaikan harga minyak mereda dan harga kembali menemukan titik keseimbangan baru, maka kondisi tersebut justru berpotensi menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga emas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....