Harga Semen Melonjak 49 Persen, Proyek Terancam Tertunda
- 27 Jul 2026 15:01 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin, mengungkapkan harga semen mengalami lonjakan signifikan dalam hampir enam bulan terakhir. Kenaikan tersebut dinilai berpotensi menghambat pembangunan di sektor properti, mulai dari proyek perumahan hingga infrastruktur.
Gunawan mengatakan, salah satu merek semen yang banyak digunakan masyarakat mengalami kenaikan harga dari sekitar Rp57.000 per sak pada Februari menjadi Rp85.000 per sak saat ini. Di pasaran, harga semen merek yang sama kini berada pada kisaran Rp80.000 hingga Rp85.000 per sak atau naik sekitar 49 persen.
"Kenaikan harga semen paling terasa sejak pekan keempat April. Saat itu harganya masih berada di kisaran Rp59 ribu hingga Rp60 ribuan per sak. Kemudian melonjak ke kisaran Rp80 ribuan pada Juli," kata Gunawan, Senin 27 Juli 2026.
Ia menyebut selain semen, sejumlah bahan bangunan lain juga mengalami kenaikan harga. Besi berdiameter 12 milimeter naik sekitar 5,6 persen, besi 8 milimeter meningkat 21 persen, sedangkan cat tembok untuk interior maupun eksterior naik antara 13,5 hingga 29,6 persen. Sementara itu, harga batu bata justru turun tipis dari Rp555 menjadi Rp550 per batang akibat kelebihan pasokan.
Menurut Gunawan, kenaikan harga bahan bangunan dipengaruhi meningkatnya biaya produksi yang dipicu kondisi geopolitik global. Kenaikan harga batu bara sebagai sumber energi industri turut mendorong biaya produksi semen, besi, dan cat menjadi lebih mahal.
"Kenaikan harga bahan bangunan ini berpotensi membuat banyak pengembang menunda pembangunan perumahan. Mereka cenderung menahan proyek baru dibanding membangun dengan biaya yang jauh lebih tinggi. Dampaknya bisa meluas, mulai dari proyek yang tertunda, penyerapan tenaga kerja yang menurun, hingga anggaran pembangunan yang membengkak," ujarnya.
Ia menambahkan, tekanan tersebut tidak hanya dirasakan pengembang, tetapi juga pelaku usaha kecil seperti pengrajin batu bata yang menghadapi penurunan harga jual di tengah meningkatnya biaya hidup. Menurutnya, sektor konstruksi, manufaktur, infrastruktur, dan properti akan menghadapi tantangan besar apabila ketidakpastian ekonomi akibat tensi geopolitik global terus berlanjut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....