Harga Pupuk Naik akibat Konflik Global, Biaya Produksi Pangan Ikut Terdorong
- 12 Apr 2026 12:58 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyoroti kembali tekanan harga pupuk yang mulai meningkat seiring dinamika konflik global. Setelah sempat melonjak tajam pada awal Perang Rusia–Ukraina dan mereda pada 2023, kini harga pupuk kembali mengalami kenaikan seiring memanasnya tensi antara Iran dan Amerika Serikat.
Ia menjelaskan kenaikan harga pupuk saat ini belum setinggi periode awal perang Rusia–Ukraina. Meski demikian, harga pupuk saat ini tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik terbaru muncul.
“Sebagai perbandingan, harga pupuk NPK non subsidi sempat menyentuh Rp17.000 per kilogram saat perang Rusia–Ukraina dimulai. Sedangkan saat ini berada di kisaran Rp15.600 per kilogram,” ujar Gunawan, Minggu 12 April 2026.
| Baca juga: Bulog Pastikan Ketersediaan Minyakita Aman |
Kenaikan juga terjadi pada jenis pupuk lain seperti KCL dan urea non subsidi. Masing-masing kini berada di kisaran Rp13.000 dan Rp11.000 per kilogram.
“Kenaikan harga pupuk tersebut telah mengubah harga keekonomian sejumlah bahan pangan masyarakat, seperti cabai dan bawang,” kata Gunawan.
Ia merinci, harga keekonomian cabai merah di tingkat konsumen kini berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp36 ribu per kilogram. Harga ini naik dari sebelumnya Rp27 ribu hingga Rp33 ribu per kilogram.
Hal serupa terjadi pada cabai rawit dan bawang merah. Untuk cabai rawit, harga keekonomian naik menjadi Rp34 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram. Sementara bawang merah berada di kisaran Rp35 ribu hingga Rp39 ribu per kilogram.
Perhitungan tersebut, menurutnya, telah memasukkan margin keuntungan petani, namun belum memperhitungkan ongkos panen. Gunawan menegaskan perhitungan ini berbasis sampel petani di Sumatera Utara dan masih bersifat dinamis.
“Fluktuasi harga pupuk, herbisida, insektisida hingga plastik mulsa masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik global,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan kenaikan biaya produksi berpotensi mendorong harga komoditas hortikultura lainnya. Volatilitas kebutuhan sarana bercocok tanam masih cukup tinggi, dan sangat tergantung pada dinamika perang yang membentuk harga komoditas global.
Meski begitu, ia menilai harga keekonomian tersebut dapat menjadi acuan dalam menentukan harga ideal ke depan, baik di tingkat petani maupun konsumen. Menurutnya, kebijakan mitigasi perlu disusun secara hati-hati agar tidak merugikan petani, karena kerugian di tingkat produsen pada akhirnya dapat memicu lonjakan harga yang lebih besar di sisi konsumen.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....