Sanggar Semenda, Dari Wadah Pembelajaran Menjadi Rumah Budaya Melayu
- 28 Agt 2026 10:49 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan — Sanggar Semenda menjadi salah satu wadah pembelajaran dan pelestarian seni tari Melayu yang telah berdiri sejak 1993. Sanggar ini awalnya dibentuk oleh sejumlah akademisi untuk menjadi ruang belajar tari Melayu bagi mahasiswa.
Praktisi tari sekaligus akademisi, Hj Dr. Dilinar Adlin, M.Pd., mengatakan pendirian Sanggar Semenda berawal setelah kegiatan Pesta Budaya Melayu di Medan sekitar 1992. Setelah kegiatan tersebut tidak lagi berlangsung, ia bersama sejumlah rekan berinisiatif membentuk kelompok tari.
Nama Semenda dipilih karena dalam bahasa Melayu bermakna sekumpulan orang yang bersaudara.
"Kita bikin aja Semenda, karena Semenda itu bahasa Melayu, sekumpulan orang bersaudara." Ungkapnya saat menjadi narasumber di Obrolan Budaya Resam Melayu.
Pada awalnya, sanggar melibatkan mahasiswa dan tampil dengan sekitar 30 penari. Seiring waktu, Sanggar Semenda kemudian dibuka untuk masyarakat umum dan mulai mengikuti berbagai kegiatan, baik di tingkat lokal, nasional hingga Malaysia.
Menurut Kak Dili, keberadaan sanggar tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan penari yang mampu tampil di atas panggung. Sanggar juga menjadi tempat untuk mempelajari dasar-dasar tari Melayu sekaligus memahami budaya yang ada di balik setiap gerakan.
Pembelajaran tersebut mencakup gerak, irama, etika, hingga nilai dan marwah Melayu. Hal ini penting agar generasi muda tidak hanya mampu menarikan sebuah tarian, tetapi juga memahami identitas budaya yang dibawanya.
"Harapannya sanggar ini jadi sesuatu yang memang bisa menanamkan moral, marwah. Apalagi banyak tarian itu memang mengandung falsafah." Katanya
Ia berharap sanggar dapat terus menjadi ruang pendidikan dan regenerasi budaya Melayu. Dengan begitu, pengetahuan dan nilai yang diwariskan melalui seni tari dapat terus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Keberadaan Sanggar Semenda selama lebih dari tiga dekade menunjukkan bahwa sanggar seni dapat berkembang tidak hanya sebagai tempat latihan, tetapi juga sebagai rumah budaya yang menjaga keberlanjutan seni dan identitas Melayu.
Ia menyebut lulusan pendidikan tari dapat berperan sebagai guru seni, membuka sanggar, maupun membina generasi baru yang tertarik mempelajari seni tradisi.
Dengan demikian, sanggar tari Melayu memiliki posisi penting sebagai ruang pembelajaran sekaligus tempat berlangsungnya proses pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....