Semarak Festival Bunga dan Buah 2026, Berastagi Tampilkan Pesona Budaya Karo

  • 31 Jul 2026 21:11 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Karo – Festival Bunga dan Buah 2026 berlangsung meriah di Berastagi, Kabupaten Karo, pada Kamis, 30 Juli 2026. Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, bersama Menteri Koperasi RI, Ferry Juliantono, dan Bupati Karo, Antonius Ginting melepas pawai dari Taman Mejuah-juah.

Ribuan warga memadati sepanjang jalur pawai untuk menyaksikan mobil hias yang dipenuhi bunga segar dan buah lokal. Surya mengatakan festival tahunan tersebut menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) yang memperkuat promosi pariwisata Sumatera Utara.

"Festival ini merupakan keindahan dan keunikan Kabupaten Karo yang bukan bersifat sementara, melainkan warisan yang terus hidup dan memberi makna dari satu generasi ke generasi berikutnya," katanya.

Pelepasan pawai Festival Bunga dan Buah 2026 di Taman Mejuah-juah, Berastagi, Kabupaten Karo, pada Kamis, 30 Juli 2026. (Foto: Dokumentasi Diskominfo Pemprov Sumut)

Pawai diawali penampilan marching band yang membangkitkan semangat peserta dan masyarakat yang memadati kawasan Berastagi. Iring-iringan mobil hias kemudian menampilkan kreasi berbahan bunga segar dan buah hasil pertanian unggulan Kabupaten Karo.

Beragam gaun dan kostum kreatif berbahan hasil pertanian lokal turut memperkaya penampilan peserta sepanjang rute pawai. Atraksi kuda khas Berastagi juga menjadi daya tarik yang menambah semarak suasana festival tahun ini.

Pawai diikuti organisasi perangkat daerah, kecamatan, desa, BUMN, BUMD, pelaku usaha, dan berbagai elemen masyarakat Karo. Seluruh peserta menampilkan kreativitas budaya yang mengangkat bunga dan buah sebagai identitas daerah.

Festival juga menghadirkan ritual adat Erpangir Ku-Lao yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Karo. Tradisi tersebut dilakukan menggunakan ramuan dedaunan aromatik, bunga, dan jeruk purut yang disiramkan dengan air bersih.

Dalam adat Karo, Erpangir Ku-Lao melambangkan pembersihan diri, penyembuhan, serta ungkapan syukur atas hasil bumi yang melimpah. Kehadiran tradisi tersebut menegaskan komitmen Kabupaten Karo menjaga keseimbangan antara pariwisata, pertanian, dan pelestarian budaya lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....