Jejak Kesultanan Kota Pinang, Warisan Melayu yang Membentuk Labuhanbatu Selatan
- 15 Jun 2026 19:19 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan – Kesultanan Kota Pinang merupakan salah satu kerajaan Melayu yang pernah berjaya di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara. Meski namanya tidak sepopuler beberapa kesultanan lain di Sumatera Timur, keberadaannya memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah, budaya, dan penyebaran Islam di kawasan tersebut.
Dalam program Obrolan Budaya Sumatera Utara Resam Melayu RRI Pro 4 Medan, zuriat Kesultanan Kota Pinang, Tengku Asri, menjelaskan bahwa kesultanan tersebut telah berdiri sejak abad ke-16/17 dan menjadi bagian dari perkembangan peradaban Melayu di pantai timur Sumatera. Menurutnya, Kota Pinang yang saat ini menjadi ibu kota Kabupaten Labuhanbatu Selatan dulunya merupakan pusat pemerintahan kesultanan.
Tengku Asri mengatakan sejarah Kesultanan Kota Pinang tidak dapat dipisahkan dari hubungan kekerabatan dengan Kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat. Hubungan tersebut menjadi salah satu jejak yang menunjukkan adanya pergerakan dan penyebaran masyarakat Melayu ke berbagai wilayah di Sumatera.
"Kalau kita melihat sejarahnya, Kesultanan Kota Pinang memiliki hubungan dengan Pagaruyung. Itu menjadi bagian dari perjalanan panjang terbentuknya kerajaan ini," ujarnya.
Selain memiliki hubungan dengan Pagaruyung, Kesultanan Kota Pinang juga memiliki keterkaitan dengan Kesultanan Aceh melalui hubungan kekeluargaan dan perkawinan. Hubungan antarkerajaan tersebut menunjukkan bahwa Kota Pinang pernah menjadi bagian dari jaringan politik dan budaya yang cukup luas di kawasan Sumatera.
Menurut Tengku Asri, nama Kota Pinang sendiri berasal dari wilayah yang dahulu dikenal dengan nama Pinang Awan. Nama tersebut berkaitan dengan cerita masyarakat mengenai pohon pinang yang tumbuh sangat tinggi hingga seolah mencapai awan.
"Dulu wilayah itu dikenal dengan nama Pinang Awan. Dari situlah kemudian berkembang menjadi Kota Pinang yang dikenal sampai sekarang," katanya.
Pada masa kejayaannya, Kesultanan Kota Pinang berkembang sebagai wilayah yang aktif dalam perdagangan. Letaknya yang terhubung dengan jalur sungai menuju Selat Malaka menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu titik penting dalam aktivitas ekonomi masyarakat Melayu pada masa lalu.
Selain dikenal sebagai pusat perdagangan, kesultanan ini juga memiliki peran dalam penyebaran ajaran Islam. Hingga kini, jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui keberadaan Masjid Raya Al-Mustafa yang menjadi salah satu peninggalan penting Kesultanan Kota Pinang.
Tengku Asri menilai sejarah Kesultanan Kota Pinang perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Menurutnya, banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa Labuhanbatu Selatan memiliki warisan sejarah Melayu yang cukup besar.
"Kalau sejarah daerah tidak dikenalkan, generasi muda tidak akan mengetahui akar budayanya sendiri. Karena itu warisan Kesultanan Kota Pinang harus terus disampaikan kepada masyarakat," ujarnya.
Ia berharap berbagai upaya pelestarian sejarah, baik melalui pendidikan, diskusi budaya maupun kegiatan literasi, dapat membuat masyarakat semakin mengenal Kesultanan Kota Pinang sebagai bagian penting dari identitas budaya Melayu dan perjalanan sejarah Sumatera Utara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....