Menjaga Kehormatan dan Sifat Malu

  • 11 Agt 2026 21:01 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID - Medan - Menjaga kehormatan diri dan memiliki sifat malu merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Hal itu menjadi pembahasan dalam kajian Mutiara Pagi yang disampaikan oleh Abdul Malik Sudiro, SE., M.M, edisi Kamis, 30 Juli 2026.

Menjaga kehormatan diri dan memiliki sifat malu merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Hal tersebutj menjadi pembahasan dalam kajian Mutiara Pagi yang disampaikan oleh Abdul Malik Sudiro, SE., M.M, edisi Kamis, 30 Juli 2026.

Ujar Abdul Malik Sudiro, rasa malu bukanlah kelemahan, melainkan salah satu sifat mulia yang dapat menjadi benteng bagi seseorang, agar terhindar dari perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Sifat malu mendorong seseorang untuk menjaga ucapan, perilaku, pergaulan, serta kehormatan dirinya.

"Menjaga kehormatan juga berarti mampu menempatkan diri dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berada di tengah keluarga, lingkungan masyarakat maupun di ruang publik. Seorang Muslim hendaknya menyadari bahwa setiap perkataan dan perbuatan memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, "ujarnya.

Menurutnya, di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus informasi, menjaga rasa malu menjadi semakin penting. Kemudahan mengakses dan membagikan berbagai informasi hendaknya diiringi dengan sikap bijak, agar tidak terjerumus pada perilaku yang dapat merusak kehormatan diri maupun orang lain.

7Kajian tersebut mengajak umat Islam untuk menumbuhkan sifat malu yang positif, yakni malu melakukan kemaksiatan, malu menyakiti orang lain, serta malu meninggalkan kewajiban kepada Allah SWT. Dengan demikian, rasa malu dapat menjadi pengendali diri sekaligus jalan untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia.

Melalui kajian Mutiara Pagi, pendengar diingatkan, kehormatan tidak hanya dijaga melalui penampilan, tetapi juga melalui hati, ucapan dan perbuatan. Menjaga kehormatan dan sifat malu pada akhirnya menjadi bagian dari upaya seorang Muslim untuk menjalani kehidupan yang diridai Allah SWT.

Abdul Malik Sudiro menjelaskan, rasa malu bukanlah kelemahan, melainkan salah satu sifat mulia yang dapat menjadi benteng bagi seseorang, agar terhindar dari perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Katanya, Sifat malu mendorong seseorang untuk menjaga ucapan, perilaku, pergaulan, serta kehormatan dirinya.

"Menjaga kehormatan juga berarti mampu menempatkan diri dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berada di tengah keluarga, lingkungan masyarakat maupun di ruang publik. Seorang Muslim hendaknya menyadari bahwa setiap perkataan dan perbuatan memiliki pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, "kata Abdul Malik Sudiro.

Menurutnya, di tengah perkembangan zaman dan derasnya arus informasi, menjaga rasa malu menjadi semakin penting.

Ujarnya, Kemudahan mengakses dan membagikan berbagai informasi hendaknya diiringi dengan sikap bijak, agar tidak terjerumus pada perilaku yang dapat merusak kehormatan diri maupun orang lain.

"Untuk menumbuhkan sifat malu yang positif, yakni malu melakukan kemaksiatan, malu menyakiti orang lain, serta malu meninggalkano kewajiban kepada Allah SWT. Dengan demikian, rasa malu dapat menjadi pengendali diri sekaligus jalan untuk membentuk pribadi yang berakhlak mulia, "ujarnya.

Melalui kajian Mutiara Pagi, pendengar diingatkan kehormatan tidak hanya dijaga melalui penampilan, tetapi juga melalui hati, ucapan dan perbuatan. Jelasnya, menjaga kehormatan dan sifat malu pada akhirnya menjadi bagian dari upaya seorang Muslim untuk menjalani kehidupan yang diridai Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....