Meneladani Tauhid Nabi Ibrahim

  • 08 Jun 2026 11:09 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID - Medan - Meneladani tauhid Nabi Ibrahim Alaihissalam berarti memurnikan keimanan hanya kepada Allah SWT, menjadikan akidah sebagai pondasi utama diatas segalanya serta berani menegakkan kebenaran. Pendidikan tauhid Nabi Ibrahim hanya membangun keyakinan kepada Allah SWT untuk membangun pendidikan kepada keluarga, masyarakat dan generasi yang berlandaskan ketauhidan.

Dalam kajian Mutiara Pagi melalui Pro1 RRI Medan, edisi Senin, 1 Juni 2026, Prof. DR. Mursal Azis, M. Pdi menjelaskan, tantangan tauhid Nabi Ibrahim, luar biasa dimulai dari masa kecil sampai dewasa.

"Ketika kecil, beliau bertanya-tanya siapa yang layak untuk disembah, beliau melihat bintang dan bulan, ketika malam indah sekali, pagi hari mataharipun demikian, tapi berpikir benda-benda ini tak layak untuk disembah, yang layak untuk disembah adalah siapa yang menciptakan alam yang indah ini, banyak tantangan-tantangan Nabi Ibrahim, "ujarnya.

Ketika itu katanya, daerah Babilonia menyembah patung, menyembah berhala bahkan ayah Nabi Ibrahim sendiri bernama Azar yang bekerja sebagai pemahat dan pembuat patung atau berhala.

"Begitu besar tantangan yang dialami oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam mensiarkan ke esaan Allah SWT dan Nabi Ibrahim dibakar hidup-hidup, pemimpin pada waktu itu masyarakat dengan kedangkalan ilmu pengetahuan, mereka. Atas kekuasaan Allah SWT, api yang membakar Nabi Ibrahim tersebut menjadi sejuk dan dingin terasa menyelimuti seluruh tubuh Nabi Ibrahim, "kata Prof. DR. Mursal Azis, M. Pdi.

Program Mutiara Pagi yang disiarkan langsung dari pukul 05.30 s.d 05.50 WIB ini juga memberi kesempatan kepada pendengar melalui WA 0811616943. Pendengar Khairul bertanya, setiap saya melihat kerumunan manusia, saya terbayang di Padangmasyar kelak, dikumpulkan manusia sejak masa Nabi Adam sampai manusia akhir jaman, apakah ini termasuk ajaran tauhid. Jawabnya setelah meninggal dunia, belum selesai perjalanannya.

"Setelah manusia meninggal, belum selesai perjalanannya, karena ada hari akhir jaman yaumil masyar atau hari akhirat dikenal dengan hari kiamat, semua perbuatan kita semasa di dunia akan dihisab, " katanya.

Selanjutnya Aflah bertanya, tentang syirik ada yang kecil dan ada syirik besar. Jawab Prof. DR. Mursal Azis, untuk syirik besar adalah menduakan tuhan.

"Untuk syirik besar seperti pergi ke dukun 40 hari dan 40 malam, dan amal kita Ngak diterima oleh Allah SWT. Sedangkan syirik kecil, seperti sifat riya, sombong, merasa bangga di depan orang- orang lain, se olah- olah pinter, hebat, biar dilihat kaya, lebih cantik, dia menginginkan penilaian orang lain, bukan tujuan untuk Allah SWT, akan tetapi ada aspek - aspek lain, "ujar Prof. DR. Mursal Azis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....