Syukur dan Hakikatnya

  • 31 Mei 2026 21:53 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, - Hakikat syukur adalah pengakuan batin bahwa segala nikmat berasal dari Tuhan yang dibuktikan melalui ucapan dan tindakan.

Dalam program Mutiara Pagi yang disiarkan Pro1 RRI Medan, edisi Minggu 24 Mei 2026, dengan judul Syukur dan Hakikatnya, Ustadz Ade Putra, M.Pd mengatakan, syukur itu mencakup tiga dimensi utama yang tidak terpisahkan yaitu syukur dengan hati, lisan dan syukur dengan perbuatan.

"Syukur dengan hati adalah menyadari dan meyakini sepenuhnya bahwa segala nikmat, baik besar maupun kecil semata-mata berasal dari Allah SWT. Sementara syukur dengan lisan memperbanyak puji serta senantiasa mengingat sang pemberi nikmat. Sedangkan yang ke tiga, syukur dengan perbuatan adalah memanjatkan kesehatan, rezeki dan waktu yang ada untuk ketaatan dan kebaikan, "ujarnya.

Ade Putra menyebutkan, syukur lebih tinggi dari pada taqwa. Syukur memiliki manfaat langsung untuk mensucikan diri, membawa ketenangan batin serta membuka jalan untuk mendapatkan tambahan nikmat menjadi hamba yang pandai bersyukur atau bersyakur merupakan salah-satu derajat spiritual tertinggi.

Program Mutiara Pagi yang disiarkan langsung pukul 05.30 s.d 05.50 WIB turut juga memberi kesempatan kepada pendengar untuk tanyajawab melalui line 0811616943. Nur'afni Siregar di kawasan Pancing bertanya, bagaimana kalau salatnya bolong-bolong, tapi melakukan qurban, apakah diterima oleh Allah amal ibadanya. Jawab Ustadz, salat itu adalah ibadah utama, salat itu pengikat.

"Salat lima waktu sehari semalam itu hukumnya wajib, harus ditegakan, sementara berqurban sunat muakkah, sebagian ulama mengatakan hampir mendekati wajib, bagi siapa yang berkemampuan, diharuslan, sama ibarat seperti orang yang hendak menunaikan rukun islam ke lima, ibadah haji ke Baitullah, bagi yang mampu. Kalau salat tidakditegakan dengan sempurna, maka sia-sia. Mengenai berqurban dilakukan ini adalah Allah yang menentukan nilai amal ibadahnya, semoga dengan berqurban, dia akan menyempurnakan ibadah salatnya, artinya tidak bolong-bolong lagi dan menjadi istiqamah, " kata Ade Putra.

Selanjutnya Khairul di Tanjung Morawa bertanya, saya pedagang penjual makanan ringan, setiap hari dagangan saya di ridhoi Allah SWT, saya bersedekah juga makanan tersebut kepada orang yang kurang mampu adalah makanan rusak, akan tetapi masih bisa di konsumsi, bagaimana Ustadz. Jawab Ade Putra, boleh saja.

"Seharusnya yang kita berikan berupa niat sedekah kepada orang lain, adalah yang layak, akan tetapi jika tidak ada yang lain, ya diperbolehkan, semoga sedekah tersebut di ridhoi oleh Allah SWT, "ucapnya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....